Unite For Revenge

Unite For Revenge
Bab. 15


__ADS_3

Para anggota kerajaan Astron datang dengan membawa begitu banyak prajurit, tak hanya itu tetapi Raja sekaligus pangeran Nathan juga ikut andil dalam peperangan itu. Suara teriakan demi teriakan terdengar di telinga seluruh anggota Istana Marvi, mereka bersikap untuk menyambut tamu istimewa itu. Pintu gerbang di buka dengan lapang dada, para anggota kerajaan Astron masuk dan mereka mulai membentuk formasi.


"Hei! Panggil Raja baru di kerajaan ini, katakan jika Raja besar Astron ingin bertemu dirinya." teriak sang Raja penuh keangkuhan.


Yuan keluar di dampingi oleh orang-orang pentingnya seperti Julian, Xin, Melissa, Anka, Mayra dan Aurora. Yuan menatap para anggota kerajaan Astron dengan tenang dan santai, dia bahkan mengembangkan senyum guna menyambut dengan ramah.


"Selamat datang di Istana Maxime yang saat ini sudah berganti nama menjadi Marvi." ujar Yuan sambil berdiri tegap.


Raja dan Pangeran sama-sama meludah, mereka benci dengan kesombongan Yuan yang terlihat tenang namun penuh makna. Mereka saling tatap hingga pandangan mata Pangeran terhenti pada sosok wanita yang akan menjadi calon permaisurinya yaitu Putri Aurora.


"Kembalikan Istana ini dan juga calon permaisuriku!" teriak pangeran tidak terima.


Yuan tertawa, netra matanya melirik ke arah Aurora.


"Permaisurimu? Siapa yang kau sebut permaisuri? Apa kau sudah tidak waras?" ejek Yuan penuh keyakinan.


"Cih! Dasar bedebah sialan!" pangeran kesal karena dia di olok-olok.


"Tenang, Putraku. Kau tidak boleh terpancing emosi, aku yakin jika ini semua adalah rencana mereka untuk membuatmu emosi lalu mereka dengan mudah mengalahkan kita. Kau tidak boleh terpancing, tetap tenang dan jalankan semuanya sesuai rencana." bisik Raja di telinga Nathan.


"Tapi, Ayah! Dia sudah berani menghinaku." bantahnya tidak terima.


"Sudah diamlah! Kau tidak perlu melayani ucapan bodoh anak ingusan itu. Fokus saja pada rencana awal kita untuk menghabisi mereka semua dan kau akan segera menikah dengan Aurora." Raja mengingatkan kembali.


Nathan akhirnya pasrah dan menuruti setiap perkataan Ayahnya, dia tetap berdiri tegap tanpa ingin bergerak sedikitpun.


"Apa kalian sudah selesai bicara? Aku tidak terlalu suka basa-basi maka dari itu kita lanjutkan saja pertumpahan darah ini. Serang!" teriak Raja memerintahkan kepada seluruh prajurit yang dia bawa agar menyerang Istana.


Para prajurit Yuan tidak mau kalah, mereka juga membalas serangan dari prajurit Astron. Peperangan terlihat sangat mencekam dan menegangkan, bunyi adu pedang memekikkan telinga mereka seakan-akan tempat itu menjadi horor. Oksigen disekitarnya juga seperti habis hingga membuat ruang terbuka itu serasa pengap. Yuan mendekati Raja dan Julian melawan Nathan sementara yang lainnya membantu prajurit untuk melawan panglima perang kerajaan Astron.


Cring!


Bugh!

__ADS_1


Cring!


Tak henti-henti suara itu beradu, begitu juga dengan pedang Yuan dan rantai Julian yang melilit di tubuh Nathan. Kedua pemimpin kerajaan Astron hampir saja kewalahan melawan kakak-beradik itu, mereka tidak menyangka ternyata benar isu tentang Yuan dan Julian yang memiliki kemampuan sangat tinggi. Awalnya Raja tidak percaya sehingga dia meremehkan kemampuan Yuan dan Julian, dia berpikir jika Raja Maximus lah yang terlalu bodoh hingga bisa di kalahkan oleh anak ingusan.


Tetapi, Raja Astron sekarang sudah mengetahui dan merasakan serangan dari anak ingusan yang dia remehkan.


Sret!


Jleb!


Dua kali goresan pedang mendarat di lengan dan leher Raja, lalu Yuan dengan mata hati tertutup menghabisi sang Raja menggunakan pedangnya. Yuan tidak tahu perbuatannya ini benar atau salah, dia takut jika sang Guru akan kecewa melihat dirinya menghabisi orang yang tidak bersalah.


'Apa aku membuat kesalahan?' batin Yuan sambil menatap jenazah Raja Astron.


Saat Yuan sedang melamun, Julian terlempar ke tanah sehingga membuat dirinya terjatuh cukup jauh dari Nathan. Sementara Nathan, dia melihat putri Aurora tanpa pengawalan dan dirinya memikirkan ide licik lalu berlari cepat menghampiri putri Aurora.


Sesampainya di dekat sang Putri, Nathan menyingkapkan sebelah tangannya di leher sang putri sementara tangan satunya lagi dia gunakan untuk memegang pedang dan meletakkan tepat di leher Putri Aurora.


"Raja!" teriak sang Putri membuyarkan lamunan Yuan dan seketika semuanya berhenti dalam bertarung.


"Ratu! Lepaskan permaisuriku!" teriak Yuan berlari mendekati Nathan.


"Jangan berani mendekat! Jika kau melangkah lagi maka aku pastikan lehernya akan putus terkena pedang ini." ancam Nathan dengan sorot mata kebencian.


Yuan saat ini harus bersikap tenang dan berpikir bagaimana caranya melepaskan putri Aurora dari tangan Nathan.


"Mundur!" teriak Nathan pada seluruh prajuritnya, dia berjalan ke mundur tanpa melepaskan putri Aurora.


Yuan memberikan kode pada Julian dan mulailah penyerangan dilakukan. Rantai milik Julian meluncur cepat mengikat kaki Nathan sehingga Nathan terjerat dan jatuh. Akibat hal itu, Putri Aurora berhasil lepas dan dia lari menghampiri Yuan.


"Raja!" teriak Putri dengan rasa ketakutan, dia masuk ke dalam pelukan Yuan.


"Ratu, maafkan aku. Aku hampir saja lalai dalam melindungimu," Yuan mengelus rambut panjang milik Aurora.

__ADS_1


Aurora menggeleng. "Aku mohon jangan merasa bersalah seperti ini, Raja." ucapnya dengan isak tangis.


Pelukan terurai, Yuan menatap ke arah Nathan dan dia berjalan penuh kewibawaan serta sorot mata tajam bak elang yang ingin menerkam. Sesampainya di dekat Nathan, Yuan mengangkat sebelah tangan untuk menghentikan langkah prajurit Astron yang ingin menolong pangeran mereka.


"Berhenti atau aku akan menghabisi Pangeran kalian sekarang juga." tekan Yuan disetiap katanya.


Semua prajurit mematuhi ucapan Yuan karena mereka merasa takut.


"Kau ingin bermain licik, Pangeran? Kau tidak akan bisa menjalankan kelicikanmu di hadapan kami, kau terlalu bodoh." Yuan terkekeh.


"Biarkan aku pergi dari sini?" teriak Nathan.


"Kau memohon atau memaksa?" Yuan berjongkok di dekat Nathan.


Tatapan mata keduanya sangat tajam.


"Kau ingin pergi dari sini? Tidak semudah itu, Pangeran Nathan. Kau akan tinggal bersama dengan kami, akan tetapi kau akan ku tempatkan di ruang bawah tanah. Kau pasti tahu bagaimana rasanya tinggal di ruang bawah tanah bukan?" Yuan menepuk kedua pipi Pangeran Nathan.


Pangeran mengalihkan padangan karena merasa benci dengan Yuan.


"Kau pasti akan mendapatkan balasan untuk semua perbuatanmu ini, Yuan. Kau sudah menghabisi Ayahku dan kau juga ingin menyiksaku!"


"Aku tidak menyiksamu, aku hanya ingin kau merasa jera dan tidak lagi ikut campur dengan urusan kerajaan lain. Jika kau tidak ingin bernasib sama seperti Ayahmu maka kau turuti saja ucapanku." ucap Yuan.


Yuan beranjak dari berjongkoknya dan dia memerintahkan kepada prajurit untuk membawa Pangeran Nathan ke ruang bawah tanah. Sementara prajurit kerajaan Astron, Yuan mengembalikan mereka semua ke Istana Astron.


Selesai masalah Nathan, Yuan berjalan menghampiri teman serta tangan kakinya yaitu Xin, Melissa, Anka dan Mayra. Dia mengucapkan terima kasih kepada keempat orang itu karena sudah mau membantunya dalam melakukan perang kali ini. Yuan pun meminta kepada Mayra agar dia bergabung di kerajaan dan tinggal di kerajaan tersebut, sebab kerajaan itu membutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi seperti Mayra.


Mayra pun setuju dengan hati bahagia karena dia bisa menjadi anggota kerajaan, mereka pun diberikan gaji jika mengabdi pada kerajaan Marvi.



__ADS_1


TBC


__ADS_2