Unite For Revenge

Unite For Revenge
Bab. 14


__ADS_3

Xin dan Melissa sedang berada di kebun buah, mereka melihat begitu banyak buah dan ternyata hal itu mampu membuat mereka ingin memetiknya apalagi buah itu sudah matang. Tin tersenyum kala melihat Melissa kesulitan mengambil buah itu, dirinya segera melompat dan memetiknya. Hal itu membuat Melissa mengerucutkan bibirnya dan menatap Xin dengan tajam. Pasalnya, dia dengan susah payah menarik ranting agar bisa memetik buah apel tetapi malah Xin mengambilnya tanpa izin.


"Kembalikan!" pinta Melissa sambil mengulurkan tangannya.


"Eh, enak saja. Kau tau, aku yang memetik buah ini dan itu artinya ini milikku. Jika kau mau, maka ambil saja sendiri." Xin bersiap mengigit buah apel tersebut tetapi Melissa dengan cepat memukul pundak Xin.


"Enak saja! Aku dengan susah payah menarik ranting dan kau seenaknya memetik buah itu lalu ingin memakannya! Dasar laki-laki tidak tahu diri! Kembalikan padaku!" Melissa tetap tidak terima.


Xin tertawa dan dia berlari sambil membawa buah apel tersebut.


"Ambil sendiri kalau kau mau, jangan meminta padaku!" ucap Xin seraya tertawa kencang.


"Dasar kodok!" teriak Melissa menjadi kesal.


Putri Aurora melihat kelakuan antara Xin dan Melissa, seketika senyumnya melebar sebab melihat pemandangan yang sangat lucu. Dari kejauhan, Yuan menatap Aurora sambil bersidekap. Mereka sudah menjadi pasangan suami-istri satu bulan yang lalu setelah proses pemakaman Raja Maximus selesai. Yuan langsung menikahi Aurora akan tetapi hingga saat ini mereka belum pernah saling menyentuh.


Yuan berjalan mendekati Aurora.


"Kau senang melihat mereka seperti itu?"


Aurora langsung tersadar dan senyumnya pun surut.


"Apa aku mengganggumu?"


Aurora menggeleng.


Setelah beberapa menit, seorang prajurit datang dan menunduk di depan Yuan.


"Maaf, Paduka Raja. Saya ingin menyampaikan jika kerajaan Astron ingin menyerang kerajaan kita." ucap prajurit tersebut membuat suasana menjadi mencekam.


"Kerajaan Astron?" tanya Aurora mengulang.


"Benar, Yang Mulia Ratu."

__ADS_1


"Aku pernah mendengar kerajaan itu tetapi aku lupa siapa pemimpinnya." Yuan mencoba mengingat.


"Kerajaan itu dipimpin oleh Raja Azzam dan Putranya Pangeran Nathan."


Yuan baru mengingat akan nama Nathan.


"Bukankah dia Pangeran yang ingin dijodohkan denganmu?"


Putri Aurora mengangguk. "Aku rasa dia tidak terima dengan semua yang telah terjadi dan dirinya ingin membalaskan dendam."


Yuan hanya menganggukkan kepalanya. "Baik, kau kerahkan semua prajurit untuk berkumpul di lapangan Istana."


"Baik, Paduka." prajurit tersebut menunduk sopan dan pergi dari hadapan Yuan.


"Bagaimana ini, Raja? Aku takut jika terjadi sesuatu pada kerajaan ini, mereka sangat kuat dan sulit untuk dikalahkan." ucap Aurora kebingungan.


"Ratuku, apa kau tidak mempercayai suamimu? Kau berpikir jika aku tidak bisa mengalahkan kerajaan mereka?"


"Aku, aku hanya takut terjadi sesuatu denganmu. Aku sudah kehilangan keluargaku dan tinggal kalianlah yang tersisa, aku tidak mau kehilangan lagi." Aurora menjadi sedih.


"Percayalah padaku,"


Aurora pun membalas tatapan tulus itu, dia tersenyum sambil mengangguk.


Di tempat lain.


Julian sedang belajar menebak bersama dengan Anka, dia tersenyum ketika wajah cantik Anka begitu dekat dengannya. Tangan Julian gemetaran, rantai sudah menjadi andalannya tetapi kali ini tembak. Tentu saja Julian merasa sangat berbeda dan baru kali ini dia memegang senjata tembak.


"Hei, kenapa keringat dinginmu keluar?" Anka tertawa sambil menatap wajah Julian.


Julian berkilah, dia mengelap keringat di dahinya. "Tidak, ini keringat lelah. Ya, aku sangat lelah sebab matahari sudah semakin meninggi." ucapnya berpura-pura.


Anka hanya mengangguk percaya. "Baiklah, kalau begitu kita masuk saja ke dalam."

__ADS_1


Julian bisa bernapas lega dan mereka pun masuk ke dalam Istana.


Anka bertemu dengan Yuan yang berjalan cepat ke arah lapangan.


"Lian, sepertinya ada hal penting yang ingin Raja sampaikan. Lihatlah, dia sedang terburu-buru dan menuju lapangan." ujar Anka kepada Julian.


Tidak ada yang memberitahu Julian tentang hal penting itu, dia bergegas menyusul Yuan.


Sesampainya di lapangan, Yuan bersiap memberikan pengumuman penting tentang pertarungan antara kerajaannya yang kerajaan Astron.


"Apa semuanya sudah berkumpul?" teriak Yuan penuh wibawa.


Semua prajurit menjawab dengan serempak.


"Aku sengaja mengumpulkan kalian semua disini karena sebentar lagi kita akan kedatangan tamu! Ya, tamu yang akan membantai kerajaan Marvi maka dari itu kalian harus mempersiapkan diri untuk menyambut mereka semua."


Kerajaan Marvi adalah nama baru untuk kerajaan Maxime, Marvi ialah singkatan dari nama Mawar Virgo yaitu nama kedua orang tua Yuan dan Julian. Mereka sengaja memberikan nama itu karena menunjukkan bakti kepada orang tua. Ayah Yuan adalah seorang panglima perang handal dan kebanggaan sementara Ibu ialah seorang perempuan yang kuat dan tegar dalam melindungi kedua putranya.


Selesai memberikan pengumuman dan perintah, Anka berjalan menghampiri Yuan.


"Maaf, Paduka Raja. Bagaimana jika kita menambah pasukan untuk melawan kerajaan Astron?"


Yuan tidak paham maksud dari Anka. "Apa maksudmu?" tanyanya penasaran.


"Aku memiliki saudara perempuan dan dia sangat ahli memanah. Aku berniat untuk mengajak dia bergabung bersama kita dalam melawan kerajaan Astron. Tetapi itu semua jika Anda mengizinkan."


Yuan terdiam seperti berpikir. "Baiklah, kau panggil saja saudaramu dan katakan padanya untuk menghadap padaku."


"Permisi, Paduka Raja." Anka langsung berlalu dari hadapan Yuan, dia ingin kembali ke rumahnya dan meminta bantuan saudarinya itu.



__ADS_1


TBC


__ADS_2