Unite For Revenge

Unite For Revenge
Bab. 16


__ADS_3

Julian sedang berada di pepohonan rimbun yang berbuah lebat, dia ingin mengambil buah rambutan itu. Dirinya memanjat dan saat dia hendak turun ternyata Anka juga Mayra sudah berada di bawah pohon itu. Anka menatap Julian yang hendak turun, dia menunjuk ke suatu arah sambil berteriak.


"Julian! Bisakah kau ambilkan buah rambutan itu untukku?" teriaknya sedikit kencang.


Julian pasrah, dia akhirnya mengambil buah itu untuk Anka. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Juliana segera turun dari atas pohon. Dia melemparkan rambutan kepada Anka.


"Ini, ambillah!" ucapnya dan bergegas ingin pergi.


"Julian, mengapa kau tidak mengambilkan untukku juga?" tanya Mayra menatap punggung belakang Julian.


"Kalian 'kan bisa berbagi," jawabnya sambil menoleh kebelakang.


"Tapi aku tidak suka berbagi, lalu bagaimana?" Mayra tersenyum simpul.


Julian membalikkan badan dan melempar satu gerombolan rambutan merah.


"Ini untukmu, berbagilah karena berbagi itu indah." Julian tersenyum tipis sambil melirik Anka yang tidak sadar jika di perhatikan.


Mayra hanya terdiam, dia menatap wajah tampan Julian. Dirinya sangat mengangumi Julian karena kemampuan yang dimiliki sangat tinggi. Tak hanya itu, ternyata Julian adalah sosok pemuda yang sangat hubble terhadap semua orang.


Setelah Julian pergi, Anka pun mengajak Mayra untuk meninggalkan tempat itu.


"Bagaimana, apa kau betah berada di Istana ini?" Anka bertanya saat mereka sedang berjalan.


"Ya, aku sangat betah."


"Syukurlah, aku berharap kita bisa membantu mempertahankan kerajaan Marvi dengan sekuat tenaga."


Mayra mengangguk.


'Aku sangat betah berada disini karena ada Julian.' batin Mayra melanjutkan.


🌺🌺🌺🌺


Satu Minggu kemudian.

__ADS_1


Para rombongan kerajaan Siena sudah mulai melakukan pelatihan karena mereka akan menyerang kerajaan Marvi yang dipimpin oleh Yuan. Entah atas dasar dendam apa, Silvana—pemimpin kerajaan Siena ingin menghancurkan Yuan dan para anggota Istana lainnya. Dirinya mengerahkan begitu banyak prajurit yang sangat handal dalam berperang. Silvana yakin jika kerajaannya akan menang mengingat mereka memiliki begitu banyak orang hebat di dalam Istana.


"Aku ingin kalian bekerja keras untuk menaklukkan kerajaan Marvi yang dipimpin oleh Raja baru yaitu Yuan. Aku harap, kita semua bisa bersatu dan meraih kemenangan meskipun sampai tetes darah terakhir!" teriak Silvana dengan tegas sambil memegang pedangnya.


Dia adalah perempuan paruh baya berusia lima puluh lima tahun, dirinya memiliki dendam dengan Yuan sebab almarhum Virgo adalah mantan kekasihnya. Dulu, Silvana sudah hampir menikah dengan Virgo atas dasar perjodohan, tetapi semua itu berakhir setelah Virgo mengenal Mawar dan neraka akhirnya memutuskan untuk menikah. Silvana memiliki seorang putra bernama Disman yang sangat handal beladiri dan berperang tanpa menggunakan senjata.


Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya telah tiba, semua rombongan bersiap untuk pergi ke kerajaan Marvi. Mereka menunggangi kuda dengan memancarkan kewibawaan. Silvana sendiri menaiki kereta kuda yang di tunggangi oleh sang prajurit.


Setelah lama diperjalanan, mereka pun sampai di kerajaan Yuan. Para prajurit segera mendobrak pintu gerbang istana dengan kuda mereka, betapa terkejutnya prajurit kerajaan Marvi ketika para rombongan Silvana masuk ke dalam Istana.


"Hei, panggil Raja kalian dan katakan Ratu Silvana ingin bertemu!" teriak Silvana penuh keangkuhan.


Prajurit tersebut berlari ke dalam dan memanggil Yuan yang tengah berada di ruang istirahat bersama dengan Putri Aurora.


"Maaf, Paduka Raja. Ratu Silvana ingin bertemu dengan Anda." ucap sang prajurit sambil menunduk sopan


"Ratu Silvana?" Yuan melirik Putri Aurora. "Apa kau mengenalnya?".


Putri Aurora menggelengkan kepala. "Mungkin saja kau yang mengenalnya."


Yuan yang mendengarnya segera keluar dari Istana begitupun dengan Julian, Xin, Anka dan lainnya. Mereka berhenti di teras istana ketika melihat para prajurit sedang bertarung.


"Berhenti!" teriak Yuan penuh ketegasan.


Perkelahian pun dihentikan dengan angkatan tangan dari Silvana, dia tersenyum ketika melihat Yuan sudah hadir di depannya.


"Bagus, akhirnya kau juga keluar, Raja Yuan." ucap Silvana dengan nada sinis.


"Apa masalahmu dengan kerajaan kami?" bentak Yuan tanpa rasa takut.


"Aku tidak memiliki masalah dengan kerajaanmu tetapi aku memiliki masalah dengan dirimu dan masa lalumu!" ucap Silvana.


Yuan menatap Julian.


"Katakan dengan jelas, Ratu!" Julian pun angkat suara .

__ADS_1


Silvana turun dari kereta kuda dan dia berjalan mendekati Yuan juga Julian.


"Ayahmu, ini adalah balasan dendam untuk kesalahan Ayahmu di masa lalu. Ayahmu sudah menghancurkan hidupku, dia sudah menghancurkan aku!" teriak Silvana, matanya memerah dan rahangnya mengeras saat dia melihat ada bayangan wajah Virgo di wajah Yuan.


"Kau memiliki masalah dengan Ayahku? Sayang sekali Ayahku telah tiada, tetapi kau masih menyimpan rasa dendam? Apa kau sehat, Ratu?" Yuan menurunkan nada bicara ketika berhadapan dengan wanita paruh baya seperti Silvana.


"Jika aku tidak bisa membalaskan dendam pada Virgo maka kalianlah yang harus membayar semuanya. Sudah lama aku mencari informasi tentang kalian dan sekarang aku baru menemukan keberadaan kalian keturunan Virgo." Silvana tersenyum sambil memegang pedangnya dengan sangat erat.


"Kau salah karena telah berurusan dengan kerajaan kami, Ratu Silvana." ucap Julian dengan tatapan tajam.


Silvana menarik pedangnya hingga terlepas dari tempat semula, dia mengayunkan pedangnya ke atas udara lalu mulai menyerang Julian. Serangan mendadak itu mampu Julian hindari hingga pada akhirnya terjadilah perkelahian sengit antara keduanya.


Yuan melawan Panglima perang dari kerajaan Siena bernama Arthur. Dia dengan mudah mengalahkan Panglima tersebut.


Beberapa menit masih dalam suasana mencekam, Julian berhasil mengalahkan Ratu Silvana akan tetapi dia juga terkena tusukan pedang sang Ratu. Sementara Xin dan lainnya, mereka sedang menghadapi prajurit kerajaan Siena yang berjumlah sangat banyak mengalahkan jumlah prajurit kerajaan Marvi. Di tengah-tengah kesadaran, Silvana mendekati Putri Aurora yang terdiam di sudut dengan raut wajah ketakutan.


"JIKA AKU TIDAK BISA MENGHABISI PUTRA DARI VIRGO MAKA AKU AKAN MEMBUATNYA MENDERITA DAN BERSEDIH SELAMANYA KARENA TELAH KEHILANGAN PERMAISURI TERSAYANGNYA!" teriak Ratu sambil melayangkan pedang dan tepat mengenai perut Putri Aurora.


Yuan ingin melangkah berlari sementara Julian sudah terkapar dengan darah yang mengalir diperutnya.


Putri Aurora terjatuh bersamaan dengan Silvana, kedua anak panah Mayra tepat mengenai punggung Silvana hingga membuat Silvana akhirnya tergeletak di tanah.


"AURORA!" teriak Pangeran penuh kesedihan dan dia berlari kencang ke arah Aurora.


Dirinya memangku kepala Aurora di paha, dia menepuk kedua pipi Aurora dan mencoba menyadarkan.


"Ratu, Ratu Aurora bangun! Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu, aku mohon jangan meninggalkan aku. Bangun, Ratu." Yuan meratapi nasib sang permaisuri. "Sudah dua kali ini terjadi padamu dan aku tetap terlambat melindungimu." lanjutnya dengan memegangi perut Aurora yang mengeluarkan darah segar.


Dia membawa tubuh Aurora masuk ke dalam Istana dan segera meminta kepada pelayan untuk memanggil tabib. Sementara para prajurit dan tangan kanan Yuan, mereka menangani peperangan tersebut.




TBC

__ADS_1


__ADS_2