Unite For Revenge

Unite For Revenge
Bab. 18


__ADS_3

Sesampainya di Istana, Mini terpukau dengan pemandangan di depannya. Dia melongo bahkan tidak bisa melangkah karena kakinya terasa kaku ketika dia ternyata sedang berada di sebuah Istana. Bangunan yang megah itu membuat Mini diam tak berkutik, dia bahkan tidak menjawab panggilan dari Yuan.


"Mini, Mini!" Yuan menepuk pundak Mini dan betapa terkejutnya dia.


"Tuan, kenapa Anda mengangetkan saya?" Mini mengelus dadanya. "Tuan, apa Anda tinggal disini?" lanjutnya bertanya untuk memecahkan rasa penasaran.


"Ya, Istana ini milikku." jawab Yuan membuat Mini membuka mulut dengan lebar.


"Milik Anda? Itu tandanya, Anda adalah seorang pangeran?"


Yuan menggeleng. "Aku adalah pemimpin di Istana ini, Yuan Li."


Mini terhuyung kebelakang, dia hampir jatuh ke tanah jika Yuan tidak menolongnya.


"Tuan, berarti Anda ini seorang Raja?"


"Kurang lebih seperti itu."


Brugh!


Tubuh Mini langsung jatuh ke pelukan Yuan, dia kaget setengah mati dengan penuturan yang Yuan katakan. Mini tidak percaya jika dia saat ini berteman dengan anggota kerajaan, bahkan dirinya akan tinggal di Istana. Mini jatuh pingsan karena syok dengan kebenaran yang ada.


Yuan meminta prajurit untuk membopong tubuh Mini masuk ke dalam Istana. Dia pun berjalan duluan di depan diikuti oleh prajurit lain.


Baru saja masuk ke dalam Istana, Aurora berlari kecil menghampiri Yuan.


"Raja!" serunya dengan tersenyum manis.


Yuan mengehentikan langkah dan menoleh kebelakang.


"Ratu," ujar Yuan bergumam.


Aurora sudah berada di samping Yuan, dia tersenyum lebar dan melihat kebelakang Yuan.


"Mana rusa pesananku?" tanyanya dengan heran.


"Maafkan aku, Ratu. Aku belum bisa mendapatkan rusa itu, mungkin besok aku akan mencarikannya Lagi untukmu."


Aurora memang wajah masam, dia mengerutkan dahi kala dirinya baru menyadari apa yang prajurit bawa.


"Raja, siapa dia?"


Yuan melirik ke arah Mini sejenak.

__ADS_1


"Dia Mini, gadis yang tadi aku temukan di hutan. Pada waktu itu dia ingin dilecehkan dan akhirnya aku memutuskan untuk membawa dia ke Istana dan memberikan dia tempat tinggal disini."


Aurora heran dengan sikap baik Yuan. "Kau tidak mengenalnya? Raja, dia ini orang asing. Bagaimana jika dia hanya sekedar mata-mata saja? Dan, kau tidak mendapatkan rusa tetapi kau malah membawa pulang seorang gadis asing." Aurora terlihat kurang suka.


"Maafkan aku, Ratu. Ini sudah keputusanku dan tidak ada yang bisa menganggu gugatnya." Yuan sudah bertekad untuk memberikan Mini tempat tinggal.


"Tapi, Raja—" Aurora sangat takut jika Mini hanyalah mata-mata dari kerajaan lain.


"Kau jangan takut, percayalah padaku jika dia ini gadis baik." Yuan mengelus rambut panjang Aurora.


Yuan memerintahkan kepada dua prajuritnya untuk membawa Mini ke kamar.


"Aku berjanji jika besok akan membawakan rusa untukmu." Yuan tersenyum lalu dia menyusul prajurit yang sudah masuk ke dalam kamar bersama dengan Mini.


Aurora menarik napas dan mendengus kesal, dia pergi ke halaman belakang untuk menenangkan pikirannya.


Yuan meminta kepada beberapa maid untuk membantu Mini menggunakan lulur karena tubuh Mini sangat dekil dan kotor. Yuan pun sudah menyiapkan pakaian untuk Mini, dia akan mempekerjakan Mini sebagai pelayan pribadi untuk Aurora.


Sore harinya.


Mini sudah selesai luluran dan dia mandi susu di bantu oleh beberapa maid lainnya, mereka dengan senang hati membantu karena Mini adalah anggota baru kerajaan Marvi. Bahkan, Raja neraka sendirilah yang membawa Mini ke Istana.


Selsai semuanya, Mini saat ini terlihat sangat cantik meskipun dia sedang memakai pakaian maid seperti yang lainnya. Kulitnya sudah tidak lagi dekil karena Mini memang mempunyai kulit putih mulus bak susu, wajahnya yang natural membuat Mini semakin terlihat sempurna.


Mini menatap dirinya dari pantulan cermin, dia tersenyum sendiri lalu berputar kesana-kemari.


Maid memanggil Mini untuk menghadap pada Raja, detak jantung Mini bertalu sangat kencang dan dia mencoba menetralkannya.


"Ayo, Mini? Kau pasti bisa, jangan gugup hanya karena menghadap pada Raja." ucap Mini karena memang baru kali ini dia berbicara dan bertemu dengan seorang Raja.


Mini keluar dengan langkah sopan dan pelan, dia mengikuti maid yang ada di depannya seperti seorang pemandu.


Sesampainya di ruang tamu, terlihat Yuan dan Aurora sudah ada disana termaksud Julian. Mereka menoleh ke arah Mini dengan mengerutkan dahi.


'Kenapa dia bisa berubah menjadi cantik seperti ini?" gumam Yuan dalam hati karena dia heran saat melihat Mini yang berubah drastis.


Mini menunduk setelah dia sampai di hadapan Yuan.


"Maaf, Paduka. Apa Anda memanggil saya?" tanya Mini dengan nada sopan nan lembut.


Yuan terdiam hingga senggolan dari lengan Aurora menyadarkannya.


"Raja, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Aurora sedikit berbisik.

__ADS_1


Yuan tersadar, dia melirik Aurora dengan gugup.


"Apa maksudmu, Ratu?"


"Dia sedang bertanya padamu dan kau hanya diam saja, aneh." ejek Aurora cemburu.


Yuan berdehem sejenak agar kharismanya keluar.


"Apa kau bisa mengulang pertanyaanmu tadi, Mini?"


Mini mengangguk. "Apa Paduka memanggil saya?" tanya Mini sekali lagi.


"Ya, aku ingin memberitahu tugasmu di Istana ini."


"Baik, Paduka." jawab Mini.


"Kau akan ku jadikan sebagai pelayan pribadi untuk Permaisuriku."


"Hah!" spontan, Mini melongo dan mengedipkan mata berkali-kali.


"Kenapa? Apa kau keberatan? Jika kau keberatan, maka kau bisa—" ucapan Aurora terpotong karena Mini menjawabnya dengan cepat sebelum Aurora selesai bicara.


"Aku, aku menyanggupinya. Aku bersedia menjadi pelayan pribadi untuk Yang Mulia Ratu." ucap Mini membuat keputusan.


"Bagus, kau bisa mulai bekerja sekarang. Jika ada hal yang kau tidak tahu, maka kau tanyakan saja pada pelayan lama Permaisuriku. Kau mengerti?"


Mini mengangguk cepat. "Saya mengerti, Paduka.''


Yuan pergi dari sana diikuti oleh Julian. Sementara di ruang tamu yang megah itu, Aurora berjalan pelan mendekati Mini. Dia menatap Mini dari atas sampai bawah.


"Kau bukan seorang mata-mata?" tanya Aurora secara langsung.


Mini kaget sekaligus heran dengan pertanyaan Aurora.


"Maksud Anda apa, Yang Mulia? Saya tidak paham." ucap Mini benar-benar bingung.


Aurora menatap wajah Mini dengan lekat, dia pun akhirnya menggelengkan kepala.


"Tidak, lupakan saja." ujarnya lalu segera pergi meninggalkan Mini.


Mini diam mematung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_1



TBC


__ADS_2