
"Pak Jo... " Panggil Sella yang sedari tadi gelisah di kursi belakang.Pak Jo yang merasa dipanggil pun menatap Sella dari kaca mobil dan...
"Iya, Sella? "Jawab Pak Jo tersenyum dan...
"Katakan yang sebenarnya Pak Jo,,, sebenarnya apa yang terjadi?... Apakah memang benar-benar ada acara keluarga?... Kenapa mendadak sekali Pak Jo?... Varro bahkan tidak menemui ku"Ucap Sella yang masih tidak mempercayai alasan Pak Jo mengantarnya pulang.Sebenarnya Sella juga ingin pulang tapi ia merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi.Perasaannya tidak enak tentang pacarnya itu.
"Apakah Sella tidak percaya dengan Pak Jo?... Apakah Pak Jo pernah berbohong?... Den Varro benar-benar ingin menemui Sella tapi acaranya memang benar-benar penting" Pak Jo berusaha membuat Sella untuk mengerti padahal Pak Jo sendiri juga khawatir dengan Tuan mudanya itu karena beberapa saat setelah ia menyerahkan batu berisi surat kepada Chanwoo... Pak Jo mendengar teriakan kesakitan Varro.
"Maaf Pak Jo.... Sella hanya tidak tenang,, semoga saja tidak terjadi sesuatu pada Varro" Lirih Sella menatap ke luar jendela.
"Ikatan batin... " Ucap Pak Jo dalam hati menatap Sella dari kaca mobil. Dapat Pak Jo lihat rait wajah khawatir dan gelisah di wajah Sella.
Di rumah Nando,
Di kamar Varro,
Chanwoo telah memindahkan Varro ke kamarnya sendiri dengan di bantu oleh Harry, ia memasang beberapa alat kedokteran seperti infus,selang oksigen, dan alat pendeteksi detak jantung.
Terlihat Varro yang terbaring lemah menutup matanya dengan seseorang yang sedari tadi memegang tangannya berusaha memberikan kekuatan agar Varro kembali bangun, orang itu tidak lain adalah...
"Maafkan kakak Var.....Kakak sadar jika selama ini kakak salah... Melihatmu secara dekat seperti ini membuat kakak sakit Var.... Sudah lama sekali kakak tidak benar-benar menatap adik kakak seperti ini... Sekarang kakak sadar Var... Varro terluka... Adik kakak terluka... Maafkan kakak Var"Ucap Vano lirih mencium tangan lemah sang adik di genggamannya.Sudah satu jam berlalu dan satu jam itu Vano terus saja mengajar Varro untuk berbicara... Ia terus saja berbicara tanpa perduli jika adiknya itu tidak menjawabnya sedari tadi.
"Var....Kakak berjanji Var.... Setelah ini, setelah Varro bangun.... Kakak akan berubah Var... Tidak ada les untuk Varro lagi... Kakak akan membebaskan Varro untuk bermain dengan teman-teman Varro, membebaskan Varro untuk bermainnya basket dan.... Ayo bangun dan bertanding dengan kakak... "Ucap Vano semakin lirih bahkan air mata yang sedari tadi ia tahan secara perlahan mulai mentes.
"Varro pernah bilang bukan?... Jika Varro hanya memiliki kakak,,,, ayo Var bangun.... Hiks... Kakak hanya punya Varro.... Ayo bangun" Vano dengan perlahan terisak menyadari semua kesalahan yang pernah ia lakukan kepada sang adik dan juga egonya yang benar-benar besar.
"Var... Ayo bangun Var... Temani kakak Var... "Lirih Vano terisak memeluk pelan samg adik yang berbaring.
"Maafkan kakak"Vano terus terisak pelan meminta maaf kepada Varro, sementara itu...
"Kau tersenyum? "Ucap laki-laki paruh baya berjas putih di balik pintu kamar Varro bersama dengan Chanwoo.
"Entahlah Harry ah... Aku tidak tahu harus senang atau sedih melihat Vano yang seperti itu" Ucap Chanwoo menjawab perkataan Harry di sampingnya.
"Aku mengerti Chanwoo ya... Ini pasti sangat berat" Harry terdiam dan menepuk-nepuk bahu sahabatnya yang mungkin saja terasa sangat berat.
__ADS_1
"Aku hanya takut Harry....Ini saja belum seberapa,, bagaimana jika Vano tahu tentang apa yang aku sembunyikan tentang adiknya selama ini?... Bagaimana jika dia tahu bahwa adiknya tidak bisa bertahan lebih lama lagi?... Bagaimana Harry?"Ucap Chanwoo pelan dan sangat lirih agar Vano tidak mendengarnya.
"Tenanglah Chanwoo yah.... Semua pasti akan baik-baik saja, Varro itu kuat... Diagnosis belum tentu juga kebenarannya Chanwoo ya... Dan itu adalah diagnosis beberapa tahun yang lalu... Dulu dan bukan sekarang" Ucap Harry berusaha menenangkan sahabatnya itu tapi...
"Walaupun kita tidak melihat gejalanya,,, aku jika Varro menyembunyikan semuanya... Aku yakin itu...Dan..."
"Jika kau ingin keponakanmu selamat, jangan seperti ini... Kau sekarang sudah kembali menjadi dokter Chanwoo ya...Cepat atau lambat kau harus siap dan menceritakan semuanya kepada Vano,,,, Varro khususnya" Harry memotong perkataan Chanwoo karena lelah.
"Jika aku boleh jujur Chanwoo.... Sebenarnya saat aku memeriksa Varro untuk pertama kali,,, aku benar-benar terkejut saat aku memeriksa sampel darahnya di lab.... Aku jujur Chanwoo ya... Keponakanmu memang sekarat, hanya saja keponakanmu itu sangat kuat hingga tidak merasakan gejala yang sebenarnya.... Oleh karena itu, percayalah... Jika Varro kuat,,, kau harus yakin jika Varro bisa sembuh... Percayalah "Jelas Harry membuat Chanwoo awalnya terkejut dan....
"Aku yakin... T-tapi... Sudah berapa saat kau memeriksanya? "Ucap Chanwoo pelan.
"Karena perkembangannya yang sangat lambat,,, Varro berada di stadium 2 saat itu dan jika dihitung dari saat Varro kecil maka seharusnya... " Harry menghentikan ucapannya dan..
"Kau harus bisa Chanwoo ya... Kau harus beryukur karena sel kanker Varro bener-bener lambat.... Jika tidak maka seharusnya Varro sudah.. "
"Aku mengerti.....Aku bahkan pernah berpikir bahwa sel kanker itu sudah tidak mengganggunya lagi hingga saat pertama kali kembali dan menemukannya drop"Lirih Chanwoo menatap Varro yang terbaring lemah.
"Aku hanya takut jika Vano tidak bisa menerima semua ini...Terutama Varro,,, dia selalu mengatakan jika dia baik-baik saja dan sehat...Aku khawatir"Lirih Chanwoo hingga....
Dengan perlahan Varro membuka matanya menyesuaikan cahaya di kamarnya dan menatap Vano, Chanwoo, dan Harry satu persatu.Varro tersenyum dan...
"K-ka-k-kak.. "Lirih Varro terbata-bata membuat Vano langsung saja mendekati sang adik dan mengusap lembut surai sang adik berkali-kali.Varro yang tidak percaya dengan itu pun...
"P-pa-pam-anh..."Panggil Varro membuat Chanwoo mendekati Varro dengan duduk di samping Vano.
Dengan mata yang berkaca-kaca Varro menatap sang kakak dan paman berganti lalu...
"V-Va-r-ro... M-mim-phi?... K-ka-k-kak? "Ucap Varro terbata-bata dengan mata yang menahan air matanya saat sang Paman menggelengkan kepalanya pelan.
Varro menatap tidak percaya pada sang kakak dan...
Varro.... "Panggil Vano lembut membuat pertahanan Varro runtuh...Varro meneteskan air matanya dengan deras dan...
"K-kak Vano...Hiks..K-kakak... "Varro terisak lemah menatap sang kakak lalu berusaha untuk memeluk sang kakak tapi ia tidak bisa karena tubuhnya yang masih lemas dan sakit.
__ADS_1
Vano yang paham dengan sang adik pun langsung saja membantu sang adik duduk dan....
Grep....
Varro membelalakkan matanya dan meneteskan air mata derasnya ketika sang kakak yang memeluknya erat, bukan dirinya... Dengan perlahan Varro berusaha untuk membalas pelukan sang kakak dan....
"Kakak.... Hiks..Kakak... Hiks... V-Varro rindu kakak... Hiks...Pelukan kakak hiks... Kakak"Varro terisak menumpahkan apa yang selama ini ia rasakan.
"Maafkan kakak Var...Maaf.... Maafkan kakak"Ucap Vano memeluk erat sang adik, benar-benar erat bahkan sebenarnya membuat Varro merasa kesakitan... Tapi tidak seberapa dengan kebahagiaannya saat ini.
" Varro hiks... Rindu kakak..Hiks... Ini kakak Varro hiks.... Kak Vano kembali... Hiks... Pelukan ini... Suara ini... Hiks... Kakak"Vano mengusap lembut punggung sang adik merasakan punggungnya gemetar karena menangis... Tanpa ia sadari dirinya juga menangis karena sangat merindukan pelukan ini.... Pelukan sang adik, Varro Nando.
"Jangan menangis.... Kau terluka Var... Adik kakak terluka" Ucap Vano dengan nada yang membuat Varro semakin terisak... Nada yang selalu Vano gunakan dulu saat Varro terluka.
"Kakak... Hiks... Tidak...Hiks -ini sangat tidak sakit..Hiks...benar-benar tidak sakit, Kak"Varro menangis dalam senyuman di pelukan Vano.
Chanwoo dan Harry hanya diam tersenyum menatap Varro dan Vano yang akhirnya kembali seperti dulu... Vano yang kembali membuka diri untuk sang adik... Juga Varro yang akhirnya mendapatkan kasih sayang dari sang kakak.Mereka berdua berpelukan hingga....
"Mereka tertidur" Ucap Harry terkekeh melihat Varro dan Vano tertidur dengan senyuman yang tidak luntur dari sudut bibir mereka.
Chanwoo tersenyum dan....
"Paman menyayangi kalian....Vano,,, Varro" Ucap Chanwoo mengusap lembut surai hitam kedua keponakannya itu dan...
"Baiklah ayo keluar, biar mereka istirahat" Chanwoo tersenyum mengajak Harry keluar dari kamar Varro.
"Aku mimisan lagi.... Huft... Belakangan ini kepalaku selalu pusing bahkan sakit.... Badanku merasa lemas padahal aku sudah tidak mengikuti les"
"Aku ingin kita ke perpus Var"
"Kamu suka menulis Sel?.... Bagaimana jika kamu menulis cerita tentangku... Agar selalu abadi dan tersimpan dalam hatimu"
Jangan lupa vote, like, and comment!!! :)
Sabtu,04-03-23
__ADS_1
NA_Kim