
Di ruangan ICU,
"Dok... Keadaan pasien menurun!" Ucap perawat yang berada di samping Harry memantau Varro.
Harry yang serius pun mulai terpecah fokusnya karena melihat mesin elektrodigraf Varro menunjukkan penurunan drastis.
"Tidak!...Var, Paman tahu jika Varro kuat... Jangan seperti ini Var, Paman mohon"Harry mengusap lembut surai Varro yang basah akan keringat dan melepas masker yang ia kenakan untuk mencium dahi Varro yang telah ia anggap sebagai keponakan sendiri.Hatinya sakit menatap Varro yang benar-benar tidak berdaya dengan masker oksigen sebagai penopang.
"Var, Paman ingin kau juga berjuang... Paman akan berusaha, Var" Ucap Harry kemudian kembali memakai maskernya dan menangani Varro dengan serius.
5 menit berlalu,Harry berusaha dengan maksimal untuk menyelamatkan Varro hingga tiba-tiba saja...
"Uhuk... Hhah... Uhuk"Harry tersentak ketika tiba-tiba saja tubuh Varro tersentak dan batuk berkali-kali.Harry awalnya tersenyum karena mata Varro perlahan terbuka tetapi bersamaan juga dengan Varro yang kembali batuk dan memuntahkan darah dari mulutnya sehingga membuat masker oksigen Varro penuh dengan darah.
"VAR!...Bagaimana mungkin!" Harry begitu panik ketika berkali-kali Varro batuk dan memuntahkan cairan kental berwarna merah itu hingga mau tidak mau ia bersama para perawat pun bertindak.
Harry langsung saja melepas masker oksigen yang Varro gunakan dan...
"Var..."Lirih Harry tidak tega ketika menatap mata Varro yang menatapnya dengan tatapan kesakitan.
"Uhuk...Huek...Hiks... Hhha... akh.... Uhuk... Uhuk.. Hiks.. P-pa-m-man...Hiks... "Dengan susah payah Varro mengucapkan kata Paman dan menatap Harry.
Harry yang mendengar itu pun tidak bisa lagi menahan air matanya,Harry dengan tersenyum membersihkan darah dari mulut dan hidung Varro dengan perlahan tanpa perduli dengan air mata yang mengalir di pipinya bergantian.
"S-sa-k-i-it... Hiks... Uhuk....P-pa-m-man... "Varro terisak kesakitan menatap Harry yang menanganinya.
"Percayalah.... Varro akan baik-baik saja,Paman akan membantu Varro... Varro tidak akan kesakitan hum?" Ucap Harry bergetar berusaha tegar menatap Varro yang tidak henti-hentinya merintih kesakitan dan batuk hingga muntah darah dan..
"P-pa-m-man... "Varro dengan sekuat tenaga menghentikan tangan Harry yang hendak mengambil suntik bius untuk Varro.
"Ada apa huh?... Paman akan membantu Varro agar sembuh da-"
"T-tid-dak... K-ka-kak...Hiks.. P-pa-m-man C-chanwo... Uhuk... " Varro dengan tangan yang lemah terus memegangi tangan Harry bahkan tangan Harry terkena noda darah karena Varro kembali muntah juga mimisan.
Harry dengan cekatan langsung saja membersihkan darah dari mulut dan hidung Varro hingga....
"Tapi Varro harus di-"
"Hiks... T-tid-dak.. Hiks s-sa-k-i-it... Hiks.. Pam-an.. K-ka-kak" Varro terus saja kukuh hingga..
"Panggilkan Dokter Chanwoo dan keponakannya"Ucap Harry membuat perawat itu mengerti dan langsung keluar.
"Apakah sangat sakit?"Tanya Harry tersenyum dibalas gelengan lemah Varro.
__ADS_1
"P-pa-m-man... Hiks...T-tid-dak... s-sa-k-i-it.. Uhuk"Varro tersenyum tulus dan membuat Harry bener-bener runtuh...Tangannya berkali-kali mengusap lembut surai Varro dan membersihkan mulut juga hidung Varro yang tidak berhenti mimisan dan muntah.
"T-terimak-kas-ssih..P-pa-m-man ...Ng...Hhahh" Susah payah Varro mengucapakan kata itu dan membuat Harry langsung sadar lalu dengan cepat memasang masker oksigen yang baru dibantu yang lain hingga...
Brak!
"VARRO!! "Seseorang yang tidak lain adalah Vano dengan keras membuka pintu ruangan ICU dan mendekat sang adik disusul Chanwoo di belakangnya.
"Var... Hiks.. Var... "Vano dengan gemetar mengusap lembut surai sang adik yang dengan pucat tersenyum menatapnya dan berhasil membuatnya terisak.
"K-ka-kak... "Panggil Varro lirih tanpa sadar meneteskan air matanya.
" Iya... Var... Ini Kakak dik, ini Kakak"Ucap Varro menciumi wajah sang adik dan...
"S-sa-k-i-it.... K-ka-kak... Hiks... S-sangat s-sa-k-i-it... Hiks... Uhuk...Ngh....Hhhah" Vano tersentak ketika tiba-tiba sang adik batuk dan memuntahkan cairan merah kental yang menutupi masker oksigennya.
"Var!... Paman!... Lakukan sesuatu!...Paman!" Vano sangat panik dan menatap Chanwoo yang juga terkejut.Harry langsung saja mendekat dan membuka masker oksigen Varro tapi...
"P-pa-m-man... T-tid-dak...Hiks... J-jang-ngan.."Dengan nafas memberat Varro mengatakan itu dan..
"K-ka-kak..."Varro kembali menatap Vano dengan tatapan mata berkaca-kaca ketika dengan tiba-tiba Vano membersihkan darah dari mulut juga hidung Varro.
"M-ma-af... K-ka-kak... Hiks"
Varro terisak begitu keras membuat Vano langsung saja memeluknya,dapat ia rasakan nafas sang adik yang tidak teratur juga cengkraman sang adik saat kembali memuntahkan cairan berwarna merah itu.
"S-sa-k-i-it.. K-ka-kak...Hiks... B-bolehkah.. V-Varro m-menyerah?... Hiks.. S-sa-k-i-it... Ngh... Uhuk" Seperti hantaman yang begitu kuat dan membuat nafas Vano tercekat... Air matanya berlomba-lomba untuk melewati pipinya. Sakit, hatinya sakit saat Varro mengatakan itu...Vano mengeratkan pelukannya dan...
"T-tidak...Adik kakak kuat... Varro kuat" Vano dengan lembut mengusap punggung Varro berkali-kali.
Harry juga perawat yang berada di sana hanya bisa diam menyaksikan hal itu.
Chanwoo?
Sudah tidak bisa lagi,pertahan Chanwoo hancur melihat Varro yang menangis di dalam pelukan sang kakak dengan darah dari hidung juga mulut berkali-kali...Wajah keponakannya itu pucat juga sangat kesakitan.
Salahkah jika Chanwoo memilih egois untuk saat ini?
Salahkah?
Air mata Chanwoo semakin deras ketika Varro tersenyum menatapnya dan...
"P-pa-m-man... "Lirih Varro masih memeluk Vano.
__ADS_1
"P-pa-m-man p-pernah b-bila-ng... V-Varro t-tid-dak b-boleh m-men-yerahh... T-tap-pi... P-pa-m-man... Uhuk... P-pa-m-man p-pernah b-bila-ng j-jik-ka V-Varro b-bhol-leh b-berhenti j-jik-ka l-le-lah.... Hiks....Uhuk... P-pa-m-man... V-Varro l-le-lah... Uhuk...Hiks...V-Varro s-audah t-tid-dak k-khu-at... P-pa-m-man... Hiks... S-sa-k-i-it...T-tid-dak.. Hiks..
Hiks...Uhuk...S-sa-k-i-it... P-pa-m-man s-sangat s-sa-k-i-it.. Akh... Hiks..."Varro tidak bisa lagi melanjutkan perkataannya, karena dadanya menjadi sangat sakit dan sesak.
"Var... Hiks... Tidak!... Varro kuat...Apapun itu Varro harus bertahan mau.. Hiks.. Demi kakak!.. Hiks... Demi kakak!" Vano meracau dalam pelukan sang adik dan...
"K-ka-kak e-g-goish.... Uhuk... Ngh.... Hahahah... Hiks.... Argh.... Hhhaah" Varro tiba-tiba saja mencengkram Vano dalam pelukannya dan...
"Uhuk..... Hahhhaah...P-pa-m-manh..."Dengan mata berkaca-kaca Varro menatap Chanwoo yang terisak dan...
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit......
"Var.... " Vano membelalakkan matanya saat mendengar suara mesin elektrodigraf itu dan..
"Tidak... Tidak!... Hiks... TIDAK!.. PAMAN! ADIKKU... VARRO!... HIKS... VARRO!" Vano berteriak ketika tiba-tiba saja merasakan Varro memberat dalam pelukannya dengan nafas yang sangat pelan benar-benar pelan.
"Hiks... PAMAN!... ADIKKU... HIKS... VARRO... TIDAK!...PAMAN!" Vano tidak bisa mengontrol dirinya, ia berulang kali menepuk-nepuk pipi Varro dan mengusap lembut surai Varro tapi Varro tidak juga bangun hingga...
Bruk!
"Van!...VANNO!... HEI!" Chanwoo bertambah panik ketika tiba-tiba saja Vano pingsan.Dirinya begitu kacau hingga....
"Chanwoo ya...Varro... " Harry menunduk begitu dalam benar-benar dalam membuat wajah Chanwoo begitu merah..Bener-bener merah dan...
Tit... Tit... Tit....
Semua atensi beralih kepada Varro juga mesin elektrodigraf yang berada di sampingnya itu...
"Harry.... Keponakanku... Hiks... KEPONAKANKU!"Chanwoo hampir saja bersimpuh karena bahagia ketika mengetahui jika Varro kembali.
"Keajaiban...Chanwoo ya...Tangani Vano,,, percayakan Varro padaku" Ucap Harry serius, awalnya Chanwoo terdiam hingga...
"Dasar nakal....Paman yakin jika Varro bisa hum..."Chanwoo tersenyum menatap Varro yang terbaring dengan Harry juga para perawat yang menangani kemudian Chanwoo mengangkat Vano untuk keluar dan dibawa ke ruangannya.
"Terima kasih Var... "
"Korea? "
"Siapa kamu?"
Jangan lupa vote,like, and comment!!!:)
Kamis, 23-03-23
__ADS_1
NA_Kim