
"V-Varo umur 15 t-tahun?"Gumam Vano membuat seseorang yang tidak lain adalah Varro menatapnya heran.
"K-Kak? Kak Vano baik-baik saja?"Ucap Varro memberanikan diri untuk menepuk bahu Vano.Ia sedikit khawatir karena melihat sang kakak yang berkeringat dengan tatapan kebingungan juga keterkejutan.
"Kak...Hei...Kakak!"Vano tersentak setelah Varro berkali-kali menguncang bahu Vano dan meneriaki untuk sadar.Vano terdiam menatap Varro dan beralih menatap Pak Jo yang menyetir juga sesekali menatapnya dengan ekspresi bingungnya juga.
"A-aku baik-baik saja"Ucap Vano berusaha untuk menetralkan nafasnya.Vano melihat ada botol air minum di tas Varro.Dengan cepat ia menyerobot botol air minum Varro dan hendak meminumnya tapi...
"Ya!Kenapa?Kakak haus loh!"Kesal Vano seketika membuat Varro tertegun karena Vano menyebut dirinya Kakak.Bukankah Vano sedang marah?
Jadi Varro dan Vano dalam perjalanan pulang setelah pergi ke sekolahan Varro.Awalnya di dalam mobil hanya ada makian-makian kasar dari Vano karena ia mendapatkan panggilan dari guru mata-matanya bahwa Varro membolos pelajaran sekolah.Varro hanya diam mendengarkan sesekali meringis kesakitan tanpa suara karena Vano sempat menamparnya.Pipinya masih terasa sangat panas dan perih karena Vano benar-benar menamparnya dengan kuat.
"A-aku..."
"Biarkan Kakak minum eoh?Kakak benar-benar haus,Varro kenapa huh?Sakit?"Tanya Vano dibalas gelengan dari Varro.Ternyata sebenarnya Varro meletakkan obat penenang di dalam minumannya itu guys...Kalian ingat kan? Pas di episode sebelum-sebelumnya Varro pernah pergi ke Apotek ditemani Chanwoo dan ternyata dia itu beli obat penenang+obat tidur.Dan Varro mencampurkan minuman itu untuk jaga-jaga agar tidak tenggelam dalam kecemasan saat Vano memarahinya.Jadi Varro tidak membiarkan sang kakak untuk meminumnya begitu saja.
"Kalau begitu biarkan Kakak minum okay?"Vano membuka tutup botol dan hendak meminumnya tapi...
"Yak! Varro!Kenapa kau meminumnya huh?"Vano mendengus kesal menatap sang adik yang meminum minumannya sampai habis.
"M-maaf Kak"Ucap pelan sambil menunduk.Vano hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam berusaha agar tidak emosi dan menyakiti hati sang adik.
"Hm...Kakak maafkan,lain kali jangan seperti itu."Varro hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap Vano dan menyenderkan kepalanya ke kaca jendela mobil.
"Pak Jo...Kita akan kemana?"Kini Pak Jo yang menyetir mobil pun menatap kaca yang menunjukkan Vano.
"Bukankah kita akan pulang den?Den Vano baik-baik saja?Apa perlu kita ke rumah ssakit, den"Vano langsung saja menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Aku baik-baik saja Pak Jo...Emangnya kita dari mana?"Tanya Vano membuat Pak Jo sedikit melebarkan matanya bingung ada apa dengan tuan mudanya itu.
"I-itu..."Belum sempat Pak Jo menjawab,Vano mendapati dirinya yang panik karena sang adik yaitu Varro kejang-kejang.
"Overdosis?"Pikir Vano dalam hati panik.
Awalnya ia menunggu jawaban dari Pak Jo tapi tiba-tiba saja tubuh Varro tersentak dan kejang dengan mulut Varro yang mengeluarkan busa.Mata Varro entah dari kapan sudah terpejam Vano hanya mendapati adiknya kejang dan sudah tidak sadarkan diri dengan badan yang penuh dengan keringat.
"Var!VAR!Hei...Ada apa hei!Varro!VARRO!" Vano berulang kali menepuk-nepuk bahkan mengguncangkan tubuh sang adik yang kini telah berhenti mengejang.
"RUMAH SAKIT!PAK JO!CEPAT!!!!....Var... Hei... Hei!Jangan buat Kakak takut dik...Varro...Hiks"Vano menangis sambil mendekap erat Varro,entah yang terjadi pada dirinya sehari ini...Tapi jelas,ada satu pikiran yang Vano pikirkan dari semua kejadian yang terjadi padanya hari ini.
"Var...Hei dik... Ini Kakak...Jangan seperti ini hiks...Kakak mohon Var... Kakak mohon" Vano terus saja berbicara sambil memeluk erat sang adik sedangkan Pak Jo melajukan mobil menuju rumah sakit dengan cepat....Tiba-tiba...
Ckit...
Mobil mereka berhenti tiba-tiba,hampir saja Vano terjerumus tetapi ia bisa menahan dirinya juga Varro.
"Ada apa Pak Jo?!!"Tanya Vano, sedangkan Pak Jo dengan wajah sedikit bersalah mengatakan jika mobil mereka mogok.
"Maaf den...Mobilnya mogok"Ucap Pak Jo menunduk.
"BAGAIMANA SIH?!BUKANKAH MOBIL SUDAH DISERVIS?ARGH!!!!" Vano frustasi dan mengangkat Varro ke gendongannya keluar dari mobil.
"Den Vano mau kemana?!" Teriak Pak Jo tetapi tidak digubris Vano.Ia lebih memilih berlari dengan Varro yang berada di gendongannya.
"Adikku akan tiada jika menunggu mobil itu hidup!"Gumam Vano dengan terus melangkahkan kakinya.Vano seperti kehilangan akalnya, sedangkan banyak sekali taksi yang melewatinya.
"Kakak mohon Var...Jangan seperti ini,sangat menyakitkan untuk Kakak"Gumam Vano terus saja melangkah hingga ia melewati jalan yang sepi dan hujan deras tiba-tiba saja turun membuat dirinya basah, begitu juga dengan Varro.
"ARGH!!Hiks... Selamatkan adikku!Hiks... KENAPA SEPERTI INI?...Hiks.. Kenapa?KENAPA?!" Vano frustasi dan kakinya melemas.Ia terjatuh bersama dengan Varro yang berada di gendongannya.Vano memindahkan Varro ke dalam dekapannya dan memeluknya erat.
Mata Vano terpejam berkali-kali sambil terisak menatap wajah sang adik yang sudah benar-benar pucat bahkan bibir sang adik sudah mulai membiru.
Vano terdiam dalam isakkannya dan merenungi apa yang terjadi dengan dirinya ini.Sebelum ia pingsan,Varro mengatakan bahwa dirinya sangat egois...Kemudian Vano terbangun dan mendapati Varro yang berumur 5 setengah tahun ,11 tahun dan sekarang?
Vano mengerti...Ia mengerti apa yang terjadi pada dirinya ini dan terisak sejadi-jadinya.Vano merengkuh sang adik dalam dekapan hangatnya dan...
"Var...Ini Kakak,Vano" Sangat sulit untuk mengucapkan ini tetapi Vano berusahalah dengan sekuat tenaganya.
"V-Varro...M-maaf" Vano terisak ditengah-tengah perkataannya.
"Maafkan Kakak Var.M-maaf hiks...Kakak memang egois Var...Mulai sekarang,, K-Kakak akan mengijinkan Varro untuk...Hiks...Kakak akan mengijinkan Varro untuk pergi...Yah...K-Kakak mengijinkan Varro menjadi bintang"Tenggorokan Vano terasa sangat sakit bahkan dadanya seakan berat.Vano tidak kuat...Ia sambil memejamkan matanya mengatakan kata-kata yang mungkin Varro tunggu.
"Kakak akan selalu mengingatmu Var...Yah... Hiks... K-kau adalah bintang...Varro boleh ikut mereka...Kakak akan mengikhlaskan Varro untuk pergi...Kakak... Hiks...Kakak rela Var... Hiks... Rela" Vano terisak sangat keras setelah mengatakan itu dan tiba-tiba saja...
"Kakak..." Vano terkejut dengan suara yang memanggilnya itu,tetapi ia tidak mau membuka matanya karena takut.
"Kakak... "
"KAKAK!"Mata Vano terbuka dengan lebar setelah mendengar teriakan itu dan mendapati dirinya sendiri di dalam ruangan rawat rumah sakit dengan Harry yang duduk khawatir di sampingnya.
__ADS_1
"Van!Ada yang sakit?Akhirnya kamu bangun,Van"Ucap Harry tidak ditanggapi oleh Vano.
"Varro?"
***
Cklek...
"P-Paman..."Vano dengan perlahan melangkahkan kakinya mendekati sang Paman yang terisak di samping Varro yang terbaring lemah.
Grep...
"Paman... Hiks.. A-aku..."
"Paman tahu Van...Tapi kita akan menyakiti Varro jika seperti ini"Ucap Chanwoo dengan menghela nafas dalam-dalam menahan isakkan yang ingin keluar.
"Van...Varro menunggu Kakaknya"Ucap Chanwoo melepaskan pelukannya pada Vano dan mendekati Harry yang berdiri.
Vano berdiri di sini,di samping ranjang persakitan Varro...Di ruangan ICU.Air matanya berusaha ia tahan dan...
Tangan Vano terulur untuk mengusap lembut surai sang adik.
"Var..."
"Terima kasih telah lahir sebagai adik dari Kakak mu ini...Terima kasih,Var"
"K-Kakak...K-Kakak mengijinkan Varro untuk pergi ke langit...Hiks... T-tapi ingat!Varro harus terus bersinar dan menemani Kakak...Hiks..."
"Kakak sangat menyayangimu,Var... Kakak..."
Harry berlari ketika mendapati mesin EKG Varro berbunyi tidak stabil.Ia berlari mendekati Varro juga Vano dan...
"Paman...Jangan sentuh Varro dengan alat-alat menyakitkan itu...Hiks...Adikku tidak menyukainya...Hiks...Aku tidak akan egois dan memaksa adikku untuk tersakiti lagi" Harry berhenti setelah Vano mengatakan itu, hati Harry tergores karena melihat Vano yang benar-benar sudah putus asa.
Vano memeluk Varro yang terbaring lemah dan...
"Var...K-Kakak merelakanmu pergi..."
"Tidurlah yang nyenyak...Adikku,Varro Nando"
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.....
Tepat setelah Vano mengatakan itu,mesin EKG Varro menunjukan garis lurus yang berarti Varro sudah pergi dan menjadi bintang.Seketika itu juga Vano berteriak dan menangis histeris memanggil-manggil nama sang adik tetapi adiknya itu sudah pergi dan menjadi bintang di sana.Chanwoo berlari terisak memeluk Vano yang mengamuk.
Byur!
"Van!"Vano terkejut membuka matanya dan mendapati seorang wanita cantik dengan ember di tangannya.Tidak itu juga,ada seorang pria paruh baya yang berdiri di samping wanita itu dengan...
"Hiks...Varro... Hiks... Kamu Varro kan?Hiks... Adikku?Varro Nando?" Vano memeluk seseorang yang tidak lain adalah Varro.
"KAKAK LEPAS!!!Mama!!!"Seseorang yang dipanggil Varro mama itu tersenyum dan melepaskan pelukan Vano.
"Tidak!Hiks... Biarkan aku memeluk adikku hiks... Jangan lagi hiks... Jangan" Vano terus saja merengek dan...
"KAKAK MENYEBALKAN!"Dengan wajah memerah Varro melepaskan paksa pelukan Vano dan berlari ke luar kamar sang kakak.Vano hendak berlari mengejar Varro tetapi seseorang yang tidak lain mama dan papa Vano mencegahnya.
"Van!"Panggilan lembut itu menyadarkan Vano dan ia menatap mama juga papanya.
"M-mama... Hiks... Papa" Vano terisak dan mamanya memeluknya erat.
"Vano mimpi buruk hiks...Tidak mau lagi hiks"Vano terus saja terisak dan mamanya memeluknya dengan hangat hingga ia merasa tenang.
"Mau cerita?" Tanya Papanya dan akhirnya Vano menceritakan semua yang terjadi padanya di dalam mimpi buruk itu.
"Aigo...Putra Mama ternyata mimpi buruk,its okay sayang.Ingat,Vano tidak sendiri...Mama,Papa, dan Varro akan selalu ada bersama Vano.Semua itu adalah mimpi,mungkin itu adalah teguran untuk Vano agar tidak terlalu dingin kepada Varro.So...Jangan terlalu takut eum?"Ucap mamanya lembut.
"Dan juga...Paman Chanwoo mu itu sudah menikah ya. Hahaha bahkan kamu sudah memiliki sepupu...Kamu juga punya adik perempuan...Hahaha sampai kamu juga kebawa-bawa Sella,siapa Sella?Varro tidak memiliki teman perempuan,dan Haris siap-"Ucap sang Papa belum selesai tapi diam seketika saat sang mama mencubit perutnya.
"Maaf"
Tanpa mereka sadari Vano ikut tersenyum menatap kelakukan mereka dan..."Terima kasih Mama,Papa"Ucap Vano memeluk mereka.
"Gwenchana...Sayangi adik mu eoh"Ucap sang Mama.
"Tidak janji" Jawab Vano singkat dan...
"Hahahahah Mama Stop!Hahha Papa!Hahahha Vano tidak akan!Hahahha"Vano tertawa keras bersama Mama dan Papanya setelah tahu semuanya hanyalah mimpi.Dirinya merasa sangat lega.
Kim Nando dan Nadira Valencia adalah orang tua Vano dan Varro.Benar...Vano mengalami mimpi yang buruk.Sebelum kejadian itu terjadi Vano dan Varro bertengkar hebat.Nando memutuskan menghukum mereka untuk merenungkan kesalahan mereka masing-masing tetapi ia terkejut ketika Vano dalam tidurnya berteriak berkali-kali sambil terisak memanggil sang bungsu yaitu Varro.Ia lega karena ternyata Vano hanya mimpi buruk.Tapi ada satu lagi masalahnya...
__ADS_1
"Setelah bersih-bersih badan,jangan lupa ke kamar adikmu"Ucap Nando membuat Vano terdiam.Nando yang mengerti pun tersenyum dan mengusap kasar rambut sang sulung.
"Awalnya adikmu ingin meminta maaf karena meminjam bulpoint mu tanpa ijin, tetapi kamu terbangun lalu tiba-tiba memeluknya sambil terisak seperti itu dan membuatnya kesal,Van"Ucap Nando.
"Jadi...Temui adikmu dan minta maaf karena sempat memarahinya tadi"Tambah Nadira.
"Huft...Baiklah"
Sementara itu...
"Kak Vano aneh...Aku masih kesal"Ucap Varro yang duduk di atas ayunan taman rumah mereka dengan memainkan cat yang ada di sampingnya.
"Aku malu punya adik seperti mu!Dasar nakal"
"Mending menjadi anak tunggal dari pada menjadi kakak mu!"
"Menyebalkan!"
Kalimat demi kalimat pertengkaran mereka tadi siang terputar dalam pikiran Varro.Apakah ia seburuk itu?
"Aku tahu aku memang nakal,tapi kakak keterlaluan hari ini...Varro merindukan Nuna" Gumam Varro memainkan cat hingga seseorang mengagetkannya.
"Var..."
"Yak kau!"
Byur!!!
"VARRO!!!!!!!!!KAU!!!"
"MAAAF!!!"
Tom and Jerry kembali beraksi.Vano mengejar Varro dengan emosi menggebu-gebu karena menyiramnya dengan cat,sedangkan Varro berlari ketakutan.
"MAAFKAN VARRO KAKAK!VARRO TIDAK SENGAJA!!!"
"TIDAK PERDULI!!!" Mereka terus berlari,Vano berhasil menarik baju belakang Varro tapi...
Byur....
Mereka berdua tercebur ke dalam kolam renang dengan posisi Vano memeluk Varro karena sang adik tidak pernah sekalipun ke kolam renang.
"Yak!Kau!"Teriak Vano menenggelamkan Varro juga Varro yang menenggelamkan Vano.
Hal itu terus berlanjut tanpa sadar mereka saling tertawa dan..
.
"Uhuk... Uhuk..." Varro tiba-tiba saja terbatuk membuat Vano berhenti dan menepuk-nepuk punggung Varro lembut.
"Are you okay?"Tanya Vano dan...
"Yak!Ahhahha" Vano tertawa ketika menyadari bahwa adiknya menipunya.Mereka bermain air dengan menyipratkan....
"Kak maafkan Varro"Ucap Varro tiba-tiba menunduk.Vano tersenyum menatap sang adik dan...
"Maafkan perkataan kasar Kakak..."Ucap Vano dan menceritakan semua yang ia mimpikan.Varro hanya tertawa dengan cerita sang kakak membuat mereka kembali bertengkar,Nando dan Nadira pun melerai mereka hingga akhirnya kembali baikkan.
"SIAPA YANG MENYURUH VARRO MASUK KE KOLAM RENANG HUH?!"Mereka terkejut seketika hingga Vano membantu Varro untuk ke tepi kolam.
*
*
*
"Mereka sangat lucu" Ucap Nadira menatap Vano dan Varro yang tertidur di sofa.
"Tentu saja...Huft,aku masih ingin tertawa dengan cerita Vano yang mengatakan bahwa dirinya sudah berumur 25 tahun...Padahal ia saja baru berumur 17 tahun dan Varro 15 tahun"Ucap Nando tersenyum dan terkekeh begitu juga dengan Nadira.
"Tapi sayang..."
"Hum?"
"Bukankah mimpi Vano sedikit ada kebenarannya."Ucap Nadira dengan ekspresi wajah yang sendu.
"Hum?"
"Varro..."Ucap Nadira sendu dan Nando langsung memeluknya.Mereka tahu jika rahasia tidak akan bisa disembunyikan selamanya tetapi mereka tidak akan memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Setidaknya Varro tidak merasakan sakitnya,Sayang"
TAMAT