Varro Is Not Robbot

Varro Is Not Robbot
Episode 29


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu dari hari di mana teror di keluarga Nando terjadi.Semuanya telah berubah,suasana di keluarga Nando dari hari itu mulai berubah.Tidak ada senyuman kebohongan lagi,tidak ada air mata kekecewaan ataupun kerinduan lagi,bahkan sudah tidak ada hukuman lagi yang berlaku.Semuanya sudah berubah,keluarga Nando kini menjadi keluarga yang hangat ditambah dengan Harry yang tinggal di sana karena permintaan Harry.


Varro merasa sangat senang dan bersyukur karena kakaknya telah kembali seperti semula dan kini ia telah menerima apa yang seharusnya Varro terima sebagai bungsu.Hanya saja ada satu hal yang mengganggunya.


Mimisan,


Varro akhir-akhir ini sering saja mimisan,bahkan ia tidak bisa mengontrolnya.Varro tidak tahu apa penyebab ia mimisan, padahal ia sudah tidak lagi mengikuti les-les seperti sebelumnya... Tapi ia sering saja mimisan bahkan lemas tiba-tiba.Varro bahkan pernah ketahuan sang kakak jika ia mimisan, alhasil Vano memaksa Varro untuk pergi ke rumah sakit.Tapi sesampainya di sana, Varro merengek ingin pulang dan tidak ingin dirawat inap... Vano yang sudah mulai luluh dengan Varro pun akhirnya dengan terpaksa membawa pulang Varro dan meminta Harry yang sedang ada tugas untuk pulang memeriksa sang adik.Harry mengatakan bahwa Varro baik-baik saja, tapi ia menyarankan agar Varro tidak melakukan aktivitas-aktivitas berat atau membuat Varro lelah... Awalnya Varro menolak, tapi akhirnya ia menerima saran dari Harry karena kondisi tubuhnya yang sering saja drop tiba-tiba.


Matahari begitu terik bersinar menyinari dua laki-laki tampan yang sedang berbaring di samping kolam renang besar milik Keluarga Nando.Dengan yang lebih tua berbaring di samping kanan dan yang lebih muda di samping kiri dekat dengan kolam.


"Kak... "Panggil yang lebih muda membuat sang kakak menatapnya dan tersenyum.


"Hm?... Varro ingin sesuatu?"Varro tersenyum saat mendengar jawaban dari sang kakak yang benar-benar ia sangat sukai dan kagumi selama ini dan selamanya.


"Kak Vano mau sampai kapan libur karena Varro?... Bukankah kantor membutuhkan kakak?"Ucap Varro pada sang kakak yang memalingkan tatapannya dan beralih pada birunya langit siang.


Varro tersenyum tipis menatap langit biru itu dan...


"Sampai kakak ingin.... Lagipula tidak masalah bukan?... Varro juga homeschooling, kakak hanya tidak ingin adik kakak ini kesepian... Kau tahu?"Jawab Vano membuat Varro terdiam dan tersenyum haru pada sang kakak.


"Sebenarnya ini berlebihan Kak,tapi terima kasih Kak.... Varro akhirnya bisa merasakan kasih sayang dari Kak Vano... Walaupun Varro harus belajar dari rumah seperti ini.... Kakak tahu?... Varro itu baik-baik saja... Baik-baik saja" Lirih Varro menatap sang kakak yang masih setia menatap birunya langit juga mendengarkan sang adik.


"Var.... "


"Tidak ada yang berlebihan.... Anggap saja ini adalah cara kakak menebus kesalahan kakak selama ini dengan dirimu.... Kondisimu juga masih belum baik juga... Jangan pikirkan apapun dan ikuti saja.. Hum"Vano mengatakan itu dengan nada santai membuat Varro hanya bisa menghela nafas.


"Tapi bukan homeschooling juga, Kak"


"Dan... Varro juga bisa membawa Sella ke sini jika mau, kakak tidak akan bertengkar dengannya lagi.. Tenang saja" Ucap Vano membuat Varro tiba-tiba terkekeh dan Vano menatap sang adik bingung.


"Kenapa? "


"Haha... Tidak Kak, hanya sedikit kekanak-kanakan saja jika bertengkar dengan Sella.. " Ucap Varro sambil terkekeh dan mendapatkan jitakan pelan dari sang kakak.


Dug...


"Kak!!.. Sakit!!!" Teriak Varro duduk dan mengelus kepalanya yang menjadi sasaran jitakkan sang kakak.Vano yang melihat ekspresi sanga adik bukan kasihan tetapi malah tertawa karena ekspresi Varro yang sangat lucu di matanya.


"Kakak!!! " Varro kesal dan memalingkan wajahnya dari sang kakak,Vano akhirnya berhenti tertawa dan....


"Maafkan kakak ne...Mau es krim?"Vano berusaha membujuk Varro agar tidak mendiaminya tapi tetap saja hingga...


"Aduh..... Siang-siang main basket seperti menyenangkan.... Hanya saja tidak ada lawannya"Ucap Vano sengaja sambil berdiri merenggangkan otot-otot tangannya dan tanpa sadar membuat Varro sedikit melirik sang kakak.


"Huft....Baiklah,aku akan ke dalam saja menyelesaikan pekerjaan... Padahal aku sedang dalam mood yang ba-"


"Ayo!!"Ucap ketus Varro berdiri menatap sang kakak di hadapannya.Vano menatap Varro dengan salah satu alis yang terangkat dan...


"Benarkah?... Kakak kira Varro marah" Ucap Vano tersenyum sedikit sinis sedangkan Varro cemberut dan...


"Tidak!!... Ayo... Ayo main, Kak! " Varro menatap sang kakak yang masih berdiri di posisinya.

__ADS_1


"Baiklah.... Tapi bagaimana jika kita bermain di pusat pelatihan saja?"


"Pusat pelatihan?" Varro tidak mengerti dengan ucapan sang kakak dan...


"Sudahlah, Varro sekarang siap-siap dan pakai baju olahraga.... Kita akan pergi ke suatu tempat... Mau?"Ucap Vano awalnya membuat Varro ragu tapi Varro akhirnya mengangguk dan bersiap-siap.


Sementara itu,


"Bagaimana pasien hari ini Chanwoo ya? "Ucap Harry yang kini duduk di hadapan Chanwoo.


Chanwoo menatap Harry lalu menghela nafasnya panjang dan...


"Sudah terbiasa... Walaupun baru satu minggu bekerja, aku senang karena bisa membantu para pasien penderita leukimia" Senyum Chanwoo sambil kembali menghela nafasnya.


"Baguslah,,, itu akan membantumu"


"Mungkin saja,,, tapi aku masih belum bisa menemukan obat untuk traumanya.... Huft"Chanwoo terlihat benar-benar frustasi dengan memegangi keningnya dengan kedua tangannya.


Harry yang melihat sahabatnya seperti itu terdiam dan...


"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya Chanwoo ya....Entah itu karena Varro yang melemah atau karena efek racun saat itu... Sel kanker yang ada di dalam tubuh Varro mulai menyebar cepat....Beberapa hari yang lalu sudah mencapai dua menuju tiga... Saran ku sebaiknya kau memberitahu Vano juga Varro... Atau setidaknya Varro untuk melakukan kemoterapi.... Jangan sampai terlama hari Chanwoo ya"Chanwoo yang mendengar perkataan Harry hanya terdiam tanpa menjawab hingga...


"Jangan sampai Varro tahu dengan sendirinya... Juga Vano yang tahu dan tidak menerima keadaan sang adik... Jangan sia-siakan waktu yang tersisa" Ucap Harry hingga akhirnya keluar dari ruangan Chanwoo karena tidak mendapat jawaban dari sang empu.


"Apa yang harus aku lakukan,,,, Varro... Maafkan Paman karena tidak bisa berbuat apa-apa.... Apakah aku harus mengatakan semuanya kepada Varro juga Vano? " Chanwoo termenung dengan hati juga pikiran yang saling berperang berbeda dengan seseorang yang sedang senang karena di ajak ke Pusat Pelatihan basket yang ternyata adalah milik Keluarga Nando..


Di Pusat Pelatihan,


"Kenapa hanya kita, Kak? " Kini Varro mulai bertanya kepada sang kakak,Vano terkekeh karena sikap adanya dan...


"Lupakan,,, ayo kita mulai!!! "Teriak Vano tiba-tiba melempar bola basket yang ia pegang dan berlari menuju ring.... Varro yang menyadari itu pun tidak tinggal diam dan memulai dengan serius.


"YA!!!...KAKAK MASUK!!! "Teriak Vano bersemangat ketika berhasil memasukkan bola ke dalam ring.


"VARRO DAPAT!!! "


"YA!!!!...KAKAK DAPAT!!!"


"VARRO DAPAT POIN!!! "


Varro juga Vano terus saja bertanding tanpa sadar 5 jam sudah terlewat tetapi mereka tetap saja bertanding tanpa ada yang ingin mengalah hingga...


"YOOO!!!... VARRO!!!.. KAKAK MENANG!!!!.. YO... KAKAK MENANG VAR!!! " Vano berteriak kegirangan karena berhasil mengalahkan Varro dalam pertandingan basket tanpa sadar Varro yang berdiri menatap sang kakak tersenyum dan.....


Vano menatap sang adik dengan senyuman...


"K-kak... "Varro tersenyum menatap sang kakak yang berdiri dengan jarak sedikit jauh darinya, dapat Varro lihat sang kakak yang juga tersenyum menatapnya tapi tiba-tiba saja pandangan Varro menjadi memburam dan....


Bruk.....


Hampir saja,

__ADS_1


hampir saja Varro ambruk di dinginnya lantai lapangan jika saja Vano tidak lari dengan cepat menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan sang adik.


Dengan perlahan Varro berusaha membuka matanya yang berat dan menatap sang kakak yang khawatir menatapnya... Di dalam dekapan hangat sangat kakak Varro tersenyum dan merasa kepalanya sangat sakit juga sesuatu kembali mengalir dari hidungnya...


"Varro!!!... Varro dengar kakak?!.. Hei, dik... jangan bertahanlah... Kakak akan membawamu pada Paman" Ucap Vano sangat khawatir hampir saja menangis jika ia tidak ingat jika dirinya adalah seorang kakak.


Varro tersenyum dan...


"K-kak...A-ku mi-m-misan lagi.... Huft...K-kak ..Belakangan i-ini kepala-k-ku selalu p-pusingh bahkan s-sakit.... B-badanku merasa lemash padah-hal a-ku s-sudah tidak mengikuti l-lesh...K-kak"Kini Varro dengan air mata yang mengalir mulus di pipinya mengadukan semua rasa sakit yang ia rasakan akhir-akhir ini.Varro rasa dirinya sudah tidak kuat dan lelah karena terus saja mimisan dan menyembunyikannya dari Vano juga yang lain bahkan rasa sakit kepalanya yang semakin ke sini semakin memjadi-jadi.Vano yang mendengar penuturan sang adik pun merasa sakit pada hatinya tidak tega. Vano menarik nafas dalam-dalam dan....


"Varro akan baik-baik saja.... Mungkin Varro kelelahan karena Varro yang bermain basket terlalu lama eoh..Ah, atau Varro kambuh juga.. Jangan berpikir aneh-aneh... Ayo kita ke rumah sakit" Ucap Vano melembut sambil membersihkan darah dari hidung sang adik yang nyatanya masih kembali keluar.


Varro dengan lemah berusaha memegang tangan sang kakak dan....


"Varro baik-baik saja....V-Varro percaya Kak.... B-bantu Varro bangun" Ucap Varro berusaha menahan sakit,,, Vano awalnya menolak tetapi ia tidak tega dengan sang adik.


"Biar kakak bersihkan" Vano kembali membersihkan mimisan Varro dan...


"Mau kakak gendong? " Vano menawarkan diri untuk menggendong Varro yang masih terlihat lemah.Varro dengan ragu-ragu pun menganggukan kepalanya dan....


"Jangan sampai lepas eoh... Kau berat,,, pegangan yang erat nee" Ucap Vano diangguki Varro yang berada di gendongan sang kakak dan memegangi tangannya yang mengalung pada Vano erat.


"Terima kasih, Kak" Varro tersenyum karena kakaknya pertama kali menggendongnya setelah sekian lama,Vano tersenyum dan melangkahkan kakinya ke luar dan...


"Kakak rasanya hangat.... Varro nyaman"Ucap Varro sangat lirih membuat Vano pun menjadi khawatir dan mempercepat langkahnya menuju mobil.


"K-kak....P-pusinh" Dengan suara yang benar-benar lirih mampu membuat Vano menjadi kesetanan dan berlari menuju ke mobilnya dengan sang adik yang ternyata telah pingsan,tidak perduli dengan semua orang yang menatapnya... Vano menangis dengan memanggil-manggil nama Varro hingga di dalam mobil. Vano meletakkan Varro di samping tempat duduknya dan tidak lupa memasangkan sabuk pengaman.


"Bertahanlah... BERTAHANLAH!!!" Vano benar-benar merasa sangat kalut dan melajukan mobilnya di atas rata-rata menuju ke rumah sakit. Dirinya semakin kalut ketika mendapati adiknya yang kembali mimisan dan sesak.


"PAMAN!!!!!...... TOLONG ADIKKU!!!... TOLONG VARRO!!!... TOLONG VARRO!!!! "Tanpa mengurusi administrasi, Varro langsung saja masuk dan membawa Varro ke ruangan Chanwoo tidak peduli dengan perawat dan dokter lain memperhatikannya,toh...Rumah sakit ini juga miliknya.. Ia tidak peduli lagi karena kalut menatap Varro yang semakin pucat.


Cklek....


Pintu terbuka mendapati Chanwoo dan Harry yang terkejut mendapati Vano yang menangis panik dengan Varro di gendongannya... Wajah Varro yang sangat pucat,nafas Varro yang memberat,juga mimisan yang mengalir.Chanwoo dan Harry terdiam membeku dan...


"VARRO!!!!.....ADA APA DENGAN VARRO...VAN?!"Chanwoo benar-benar terkejut tetapi...


"Lebih baik kita menangani Varro.... Ayo... Cepat!!... PERAWAT!!! " Harry yang menyadari bahwa ini adalah kondisi darurat pun langsung saja mengambil alih Varro dengan bantuan perawat juga Chanwoo.


"Varro..... Leukimia stadium 3,Van"


"Aku ingin kita ke perpus Var"


"Kamu suka menulis Sel?.... Bagaimana jika kamu menulis cerita tentangku... Agar selalu abadi dan tersimpan dalam hatimu"


Jangan lupa vote, like, and comment!!! :)


Senin,06-03-23


NA_Kim

__ADS_1


__ADS_2