Varro Is Not Robbot

Varro Is Not Robbot
WAKTU BERSAMA KAK VANO#1


__ADS_3

Di ruangan serba putih dan penuh dengan cahaya seseorang yang tidak lain adalah Vano terbangun dan mengerjapkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan dengan cahaya.


Dahi Vano mengernyit menatap sekitarnya yang serba putih seperti tidak ada pintu untuk keluar.


"Di mana ini?"Ucap Vano pada dirinya sendiri, dirinya panik karena tidak melihat satupun pintu di sekitarnya.Vano bangkit dan berlari ke sana juga ke sini untuk mencari jalan keluar tetapi tetap saja tidak bisa.


Vano lelah lalu mendudukkan dirinya dan memeluk lututnya.Perlahan dirinya terisak ketika memorinya mengingat seseorang yang membuatnya seperti ini.Ia berusaha untuk menghentikan isakkannya tetapi tetap saja tidak bisa.Seakan ia lupa bahwa dirinya sedang dalam masalah untuk menemukan jalan untuk kembali.Vano terus saja terisak hingga tiba-tiba saja ada seseorang yang lebih muda darinya memanggil dan berlari kepadanya tersenyum lebar.


"Kakak!" Vano yang tadinya memeluk lututnya sambil menenggelamkan wajah pun mengangkat wajahnya itu dan menoleh ke asal suara.


Vano seakan reflek dan berdiri menatap seseorang itu, mata tajamnya melebar tidak percaya dengan apa yang ia lihat.Seorang anak kecil berumur 5,5 tahun mendekati dan memeluknya.Reflek Vano membalas pelukan itu dengan tangannya yang bergetar.


"Kakak ke mana saja?...Valo menunggu kakak tapi tidak pulang juga,Valo kila Kakak pelgi sepelti Paman"Ucapnya dengan suara khas bocah.Vano tidak bisa menanggapi perkataan dari adiknya yang tidak lain adalah Varro, tapi... Bagaimana bisa?Bagaimana bisa adiknya menjadi kecil?Bagaimana bisa adiknya kembali menjadi bocah umur 5,5 tahun? Bagaimana bisa?


Vano masih saja terjebak dalam perang batin juga pikiran hingga...


"Kakak!Kenapa Kakak tidak menjawab Valo?...Kakak masih malah ya?... Kakak ingin menghukum Valo lagi?Maafkan Valo Kakak...Jangan hukum Valo lagi"Teriakan Varro kecil membuat Vano terkejut dan sadar dari lamunannya.Vano langsung saja memangi kedua bahu Varro dan menatapnya hangat.Varro hanya terdiam tidak mengerti.


"Berapa umur mu?"Tanya Vano menatap Varro yang bingung dengan sang kakak,Varro langsung saja menatap kesepuluh jarinya dan menunjukan lima jari.


"Lima tahun?"


"Tidak...Kakak bilang lima setengah tahun,Kakak lupa?"Jawab Varro lucu membuat Vano terkekeh.Sedangkan Varro tersenyum lebar menatap sang kakak yang terkekeh.


"Bagaimana kau bisa di sini?"Tanya Vano lagi kembali membuat Varro menatap Vano dengan tatapan sedikit takut.


"Ada apa?Kenapa menatap Kakak seperti itu huh?"Vano tersenyum lembut dan mengusap surai sang adik.Entah apa yang terjadi dengan Varro kecil tapi Vano pikir mungkin karena dirinya di masa lalu.


"M-maafkan Valo Kakak...Valo takut di sekolah dan pulang,maafkan Valo"Ucap Varro menunduk membuat Vano terdiam.


"Apa yang terjadi?"Vano memejamkan matanya dan ia sangat terkejut saat kembali membuka matanya.


Rumahnya?


Ruang tamu?


Bagaimana?


Bukankah tadi ia berada di ruangan putih tanpa pintu dan bersama dengan Varro kecil?


Vano kembali terkejut mendapati dirinya berada di depan sang adik yaitu Varro,tapi yang membuatnya terkejut adalah Varro yang berumur 11 tahun dan dirinya yang memegang sabuk di tangannya.Tangan Vano bergetar dan menjatuhkan sabuk itu seketika setelah melihat Varro yang meringkuk kesakitan dengan punggungnya yang terdapat bekas cambukan dan luka yang masih basah.Vano terdiam merasakan kakinya yang melemas dan...


Grep...


"Var..."Dengan kelu Vano merengkuh tubuh sangat adik yang tersentak karena pelukannya.


"Jangan takut...Maafkan Kakak,Var"Ucap Vano sambil mengusap lembut surai sang adik yang basah karena keringat.Dapat ia rasakan detak jantung Varro yang tidak karuan juga nafas yang tidak teratur dan suara isakkan pelan dapat ia dengar dari mulut sang adik.


"Menangislah...Mulai sekarang,Kakak tidak akan menghukum mu.Kakak sangat menyayangimu,Varro "Air mata Vano tiba-tiba saja ikut menetes setelah Varro berbalik dan memeluknya sambil terisak dan mengatakan terima kasih,ia juga berjanji akan memberikan Vano nilai yang sempurna dan memuaskan...Itu sedikit menampar Vano.


"Jangan pikirkan itu...Lakukan apa yang membuatmu senang"Ucap Vano tersenyum dengan sang adik yang memeluknya erat.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Kak Varro tapi...Aku berterima kasih dan,Varro sayang Kakak"


"Kakak juga sayang Varro"

__ADS_1


***


"Kakak..."Panggil Varro yang berbaring di sofa dengan sang kakak sebagai bantal.Awalnya Varro menolak karena takut,tetapi Vano akhirnya bisa membuat Varro percaya padanya.


"Hm?"Jawab Vano yang sedari tadi duduk di samping Varro dan tidak berhenti mengusap surai hitam sang adik.


"Kakak kenapa tiba-tiba saja berubah?"Sebenarnya Varro 11 tahun itu takut bertanya tentang hal itu tetapi ia benar-benar sangat ingin tahu.


"Tidak apa-apa,Kakak hanya ingin menebus kesalahan Kakak selama ini...Varro memaafkan Kakak kan?"


"Tentu saja,apapun kesalahan Kakak Varro maafkan"Jawab Varro tersenyum lebar.


~Hening~


Varro sedari tadi diam menatap televisi dan Vano terus saja menatap sang adik. Apa yang terjadi dengannya? Mimpi? Atau apa?


"Apapun itu aku harus bisa memanfaatkan waktu ini dengan baik"Ucap Vano dalam hati.


"Var... "Panggil Vano membuat Varro langsung saja mendongak menatap sang kakak.


"Iya Kak?"


"Mau ikut Kakak?" Ucap Vano tersenyum tetapi sejenak Varro menjadi terdiam dan menatap wajah Vano sedikit curiga.


"Kemana Kak?"


"Ikut saja" Vano tersenyum dan mengusak rambut Varro kasar lalu tertawa dan bangkit dari sofa dan otomatis Varro juga bangun.


"Bagaimana ini..."Varro terus menatap sang Kakak dari tangga menuju kamarnya,ia takut jika sang kakak akan membawanya ke tempat jauh dan meninggalkannya atau lebih tepatnya membuang dirinya.


***


Vano menatap Varro biasa dan tidak mengatakan apapun membuat Varro sedikit takut.


Ckit...


"Hahha...Kakak!" Varro benar-benar terkejut saat mobil sang kakak berhenti tiba-tiba,perasaan terkejutnya bercampur dengan ketakutan yang sedari tadi menguasainya.Tapi ketakutannya perlahan menghilang ketika sang kakak tertawa menatapnya sehingga ia pun ikut tertawa.


"Hahaha...Sudahlah ayo kita keluar"Ucap Vano tersenyum dan keluar dari mobil.Awalnya Varro ragu untuk keluar tapi...


"WOAAH!"Vano tersenyum sambil terkekeh melihat tingkah Varro yang seperti anak kecil.Varro berlarian ke sana dan ke sini seperti berada di tempat yang sangat mengagumkan.Tentu saja,Vano membawanya ke tempat lapangan basket keluarga Nando.Tempat yang membuat dirinya tau apa yang terjadi dengan adik 17 tahunnya....Leukimia stadium 3.


"Kakak!Lapangan ini sangat luas!Kakak benar-benar mengajakku ke sini? Ini tidak mimpi kan Kak?Tolong katakan ini tidak mimpi"Vano hanya bisa terkekeh dengan sikap sang adik yang tidak bisa berhenti terkagum-kagum.


Puk!


"Dasar!Tentu saja ini tidak mimpi,ini adalah lapangan milik keluarga kita"Jawab Vano membuat Varro semakin terkagum-kagum.


Varro berlari mengelilingi lapangan sambil membawa boleh basket dan memainkannya.Vano hanya bisa diam dan tersenyum melihat itu, rasanya sangat bahagia bercampur penyesalan saat melihat Varro yang berumur 11 tahun ini.


Vano merasakan nostalgia bercampur rasa ketakutan karena...


Ring...Ring...Ring...


"S**t!...Kenapa aku masih ada orang ini sih" Kesal Vano menatap layar ponselnya yang bertulisan "Penjahat"...Vano ragu mengangkat teleponnya atau tidak dan akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo?"


"..."


"Maaf saya tidak bisa,adik saya membutuhkan saya" Ucap Vano tegas.


"..."


"Terserah!Tapi sebelum anda melakukan itu,tapi saya juga tidak akan diam saja"


"..."


"APA YANG ANDA KATAKAN!BERANINYA!"


"..."


"YAK! BERANINYA KAU! JANGAN LUKAI ADIKKU...YAK!KA-"


"K-Kak..."


"DIAM KAU!" Varro tersentak saat Vano membentaknya.Varro tidak ingin terisak tetapi dia masih anak berumur 11 tahun yang awalnya mengadu kepada sang kakak karena tiba-tiba saja tubuhnya lemas dan hidungnya mimisan.Tapi niat awalnya itu musnah seketika saat sang kakak membentaknya.Kakinya mundur satu langkah dan...


Bugh...


Seseorang dengan wajah datarnya memukul keras Varro dari belakang dan membuat Varro tersungkur.Vano terkejut ketika melihat adiknya tiba-tiba saja sudah tersungkur di samping kakinya dan meringis kesakitan.


"Varro!!! Apa yang terjadi?!Hei...Var...Dik... Hei!"Varro masih setengah sadar dan dapat melihat sang kakak yang menatapnya penuh khawatir di lain sisi Varro melihat seseorang dengan wajah datarnya tersenyum menyeramkan dan hendak memukul sang kakak tapi...


"K-Kak..."Varro berusaha mengangkat tangannya dan...


Bugh...


"BERANINYA KAU!" Tidak ada yang terluka,Vano menahan balok kayu yang hendak dipukulkan pada dirinya.


"JANGAN KABUR SAEKKIYA!" Vano hendak mengejarnya tapi...


"J-Jangan K-Kak" Varro dengan suara lirihnya menahan Vano untuk pergi.Vano akhirnya berbalik dan terisak memeluk sang adik yang tidak berdaya.Vano tidak bisa mengubahnya ya ini memang bukan masa lalu pikir Vano.Dulu saat Varro berumur 11 tahun ia menghukum anak itu dan pergi ke tempat orang itu untuk memenuhi tugas.Varro mengikutinya dan tiba-tiba saja pengawal menemukan Varro dan memukulinya hingga Varro pingsan juga mimisan.Vano menangis keras memohon untuk membawa sang adik ke rumah sakit tapi ia tidak mendapat izin dan alhasil Vano memberanikan diri untuk melawan para mengawal.Vano berhasil membawa Varro keluar tapi mereka masih mengejar hingga Harry membantu Vano untuk membawa Varro ke rumah sakit.Hari itu adalah hari di mana Varro mendapatkan trauma berat.


"Apa ini sakit hum?Maafkan Kakak Var... Maafkan Kakak belum bisa melindungi mu" Vano memeluk sang adik erat.Varro hanya tersenyum dan mengatakan baik-baik saja walaupun dirinya tidak baik-baik saja.Kepalanya berdarah karena pukulan tadi juga mimisannya yang tidak berhenti keluar.


"K-Kak"


"Hum?"


"J-jika ini w-waktunya V-Var-ro pergi...J-jangan t-tahan V-Var-ro...Itu me-nyakitk-kan" Ucap Varro membuat Vano menggelengkan kepala dan menangis memeluk sang adik erat...Ia mengingat hal yang terjadi sebelum ia datang ke tempat ini.Vano memejamkan mata berkali-kali sambil terisak dan...


"A-apa yang terjadi?" Bingung Vano ketika membuka matanya dan mendapati dirinya berada di mobil bersama dengan Pak Jo juga Varro di sampingnya.


Tapi....


"V-Varro umur 15 tahun?"


Jangan lupa vote, like, and comment


Senin, 01-05-23

__ADS_1


NA_Kim


Semangat!


__ADS_2