Varro Is Not Robbot

Varro Is Not Robbot
Episode 30


__ADS_3

Satu jam berlalu, satu jam pula Vano mondar-mandir di luar ruangan ICU dengan keadaan yang kacau. Hatinya benar-benar cemas menunggu kabar tentang sang adik, ingin rasanya Vano menangis tetapi tetap saja ia harus kuat.


Vano juga bolak-balik mengintip di balik pintu kaca besar ruang ICU melihat sang adik yang sedang ditangani oleh sang Paman juga sahabat pamannya itu.Hatinya seakan berhenti melihat tubuh sang adik tersentak berkali-kali oleh alat pacu jantung.Berkali-kali air mata Vano tanpa sadar menetes dalam kebisuan lukanya melihat sang adik yang seperti akan menyerah.Beribu-ribu pertanyaan yang sama seakan menyerbu kepalanya"Ada apa dengan Varro?".Hingga.....


Cklek....


"Paman!... Varro!... Bagaimana keadaan adikku Paman.... Katakanlah!"Pintu ruangan ICU terbuka oleh Harry yang keluar dan mendapatkan pertanyaan bertubi-tubi dari Vano yang menangis tanpa suara.


"Paman!.. Katakan!... Biarkan aku masuk!!... Bagaimana keadaan adikku Paman!!... Aku mohon Paman jangan diam saja" Suara Vano melirih dengan nada sangat memohon membuat Harry dengan diam dan menepuk-nepuk bahu Vano menarik nafasnya dalam-dalam...


"Masuklah,,,Pamanmu ingin mengatakan sesuatu kepadamu...Paman harap kau bisa mengontrol dirimu"Ucap Harry menepuk bahu Vano pelan dan menariknya ke dalam ruang ICU.Vano yang masih tidak paham dengan perkataan Harry hanya terdiam dengan melangkahkan kakinya menuju ruangan di mana sang adik berbaring dengan alat-alat yang begitu menyakitkan.


Cklek...


"Kenapa Paman menguncinya?" Bingung Vano ketika Harry mengunci pintu ruangan ICU dari dalam.


"Ada sesuatu yang sangat penting,,, temuilah adikmu" Vano hanya diam mendengarkan perkataan Harry walaupun sangat aneh dan membuat dirinya tidak bisa tenang.Kini tatapan Vano beralih kepada sang Paman dengan jas kedokterannya menggenggam erat tangan lemah sang adik.Mungkin tidak aneh bagi Vano tapi kenapa Pamannya menangis? ada apa dengan adiknya? semua baik-baik saja bukan? dengan hati yang tidak tenang Vano perlahan melangkahkan kaki menuju sang adik yang berbaring lemah di brankar membuat sang Paman berdiri sedikit mundur.


"Var... "Panggil Vano lirih dengan pertahanan yang hancur, benar-benar hancur.Walaupun dirinya sering menyiksa sang adik" DULU"... Sangat sakit untuk sekarang melihat adiknya berbaring lemah dengan berbagai peralatan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.Tangan Vano dengan perlahan mengusap lembut surai hitam Varro dan mencium lembut kening Varro.


"Maafkan kakak.. Hiks... Maafkan kakak, Var"Berkali-kali Vano menggunakan kata yang sama hingga seseorang menepuk bahunya dari belakang dan memanggil namanya.


"Van... Cukup Van... Jangan seperti ini... Percayalah jika Varro itu kuat, percayalah"Chanwoo dengan pelan mengatakan kata-kata penenang hingga....


"Bagaimana bisa Paman?... Adikku,,, adikku tidak baik-baik saja... A-aku mohon pada Paman... Tolong periksa lebih dalam tentang Varro Paman...V-Varro hiks.. mengatakan kepadaku sebelum pingsan...Hiks...Paman, adikku sering kesakitan Paman... Hiks... Dia bilang kepalanya selalu sakit dan lebih sakit setiap hari.... Hiks... Dia selalu saja mimisan dan..." Vano tidak bisa lagi melanjutkan perkataannya dan malahan terisak pelan... Sangat pelan berusaha memendam kekhawatirannya.


Harry yang berada sedikit jauh dari Chanwoo dan Vano hanya diam dan....


"Tidak perlu lagi Chanwoo ya.... Jangan membuat kesalahan yang sama lagi....Percayalah" Harry dengan langkah mendekat mengatakan hal itu membuat Vano sedikit mengernyit bingung dan....


"V-Van.... "Panggil Chanwoo pelan membuat Vano mengernyit dengan perasaan semakin kalut dan...


"Paman ingin kau bisa kuat dan.... Jangan membenci Paman juga dirimu... Berjanjilah"Perkataan Chanwoo yang tidak jelas di telinga Vano dan...


"Katakan Paman,langsung saja ke intinya... Perasaanku tidak enak, jangan seperti ini" Ucap Vano mampu membuat Chanwoo bungkam dan...


Puk....

__ADS_1


Tangan Chanwoo dengan perlahan terulur untuk mengusap lembut surai Vano.Hati Vano semakin tidak tenang karena Chanwoo meneteskan air mata yang dapat ia lihat adalah air mata kesedihan.


"Van.... "


"Varro..... Leukimia stadium 3,Van"Lirih Chanwoo dengan berat membuat Vano langsung saja membulatkan matanya dan...


Deg!!!


Rasanya seperti jantung Vano seakan berhenti, tubuhnya melemas dan dirinya jatuh terduduk dengan ekspresi ketidak percayaan juga air mata yang berlomba-lomba keluar dari mata Vano.


Sesak,


sangat sesak rasanya,Chanwoo berusaha menenangkan Vano tapi Vano....


Plak! plak! plak!


"Vano!.. Apa yang kau lakukan!"Teriak Chanwoo langsung menghentikan Vano yang menampar pipinya berulang kali berusaha menyadarkan dirinya bahwa apa yang dikatakan sang Paman adalah kebohongan.Sakit, Vano merasakan rasa sakit karena tamparannya hingga ia menangis keras dalam rengkuhan Chanwoo yang berusaha menghentikannya.


"Hiks...Tidak!!!... Paman!.. Katakan yang sebenarnya!!.. Hiks... Paman mengerjai Vano bukan?... Hiks.. Paman hanya berusaha membuat Vano sayang pada Varro bukan?... Hiks.. Paman!!! tidak lucu!... Katakan!!...Paman!!! " Vano berteriak berusaha melepaskan pelukan sang Paman dan memaksa sang Paman mengatakan bahwa semuanya adalah kebohongan sang Paman...


"KATAKAN!...Hiks... Paman!.. Katakan adikku baik-baik saja!!.. Adikku sehat!!... Tidak mungkin adikku menderita leukimia stadium 3!!...TIDAK MUNGKIN!!!!"Vano terus saja memberontak dan menangis hingga....


Chanwoo menampar Vano hingga membuat Vano diam dan terisak pelan.


"Paman tidak bohong Van!...Paman tidak bohong!... Jika boleh memilih, lebih baik Paman memilih bohong Van... Adikmu benar-benar mengidap leukimia stadium 3...Maafkan Paman Vano" Chanwoo langsung saja memeluk Vano yang terisak diam.


"Adikku... Adikku sehat Paman,,, adikku tidak mempunyai penyakit seperti itu...Tidak" Vano terus saja seperti itu hingga....


"Varro mengidap penyakit leukimia sedari kecil Van....Tepat seminggu sebelum Paman pergi ke Korea....Maafkan Paman Van... Maafkan Paman karena telah menyembunyikan ini semua, maafkan Paman Va-"


Brugh....


Vano mendorong Chanwoo yang memeluknya dan membuat Harry langsung saja membantu Chanwoo dan...


"Dari kecil?... Sebelum Paman pergi?... Bertahun-tahun?... Paman, Apa Paman gila?... APA PAMAN GILA HUH?!!! " Chanwoo terdiam ketika Vano membentaknya,ia juga sudah mempersiapkan kemungkinan apa yang terjadi.


Prang!

__ADS_1


Vano berdiri dan memukul vas bunga besar di sampingnya dan...


"Hiks.. PAMAN BENAR-BENAR GILA!!!.. PAMAN MEMBUATKU... Hiks.. Paman membuatku menyiksa adikku yang sekarat.. Paman... PAMAN BENAR-BENAR GILA!!!" Teriak Vano keras menatap kecewa sang Paman yang hanya terdiam dengan air mata yang begitu deras mengalir.


"Paman...PAMAN ADALAH SEORANG DOKTER... APAKAH SEPERTI INI?....Paman GILA.... Hiks... Bermain-main dengan nyawa adikku... Hiks... Nyawa keponakan Paman sendiri!!!.... Hiks... Kenapa?!!... Kenapa Paman tidak jujur?!!... Kenapa baru sekarang?!!!....Kenapa baru saat leukimia adikku sudah memasuki stadium 3...KENAPA?!!! "


"Paman ingin adikku mati?... Paman ingin membunuh adikku?!!.. Paman ing-"


Plak!!!...


Dengan keras Chanwoo menampar Vano dan....


"Maafkan Paman,Van" Chanwoo dengan lirih mengatakan itu, tetapi Vano hanya menatap sang Paman tajam dan....


"Paman Harry... Buka pintunya...BUKA!!! "Harry awalnya tidak ingin membukakan pintu tetapi melihat keadaan Vano dan Chanwoo yang tidak baik, ia langsung saja membuka pintu dan...


Brak!!!


"Tenangkan dirimu dan jaga Varro... Biar aku yang menenangkan keponakanmu itu" Ucap Harry diangguki Chanwoo dan...


Cklek...


Hanya Chanwoo dan Varro yang tersisa.Chanwoo dengan perlahan berdiri dan duduk di samping brankar Varro...


"Maafkan Paman Var, kakakmu benar... Paman gila... Paman bodoh.. Paman tidak pantas menjadi dokter.... Paman telah menyembunyikan penyakitmu bertahun-tahun.... Maafkan Paman Var....Paman akan berusaha,bertahanlah Var... Bertahanlah seperti sebelumnya... Maafkan Paman Var... Maafkan Paman... Hiks... "Ungkapan katakan maaf berkali-kali Chanwoo ucapkan kepada Varro yang tidak terganggu sama sekali.Chanwoo sangat merasa bodoh dan menyesal karena telah menyembunyikan penyakit Varro bertahun-tahun hingga sekarang menjadi stadium 3...Ia bersyukur, karena jika saja sel kanker Varro menyebar cepat maka Varro mungkin sudah tidak bersama dengannya sekarang.... Tapi,Chanwoo berpikir... Apa yang harus ia lakukan?...Kemoterapi?... Apakah tidak telat untuk Varro?.... Hanya diam dan terisak serta menggumamkan kata-kata agar Varro berjuang dan bertahan tanpa sadar air mata dengan perlahan jatuh dari mata Varro yang terpejam rapat.


"Benar-benar terjadi.... Aku.. Aku mengidap penyakit itu.... Leukimia stadium 3"Ucap Varro dalam hati, ternyata Varro sudah tersadar ketika sang kakak membuka pintu ruangan ICU... Hanya saja ia tetap memejamkan matanya karena mendengar Harry mengatakan jika Chanwoo ingin mengatakan sesuatu yang serius.Hatinya begitu hancur ketika mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit leukimia...Dan sudah memasuki stadium 3.Varro sangat kecewa dengan Chanwoo tapi, Varro tahu jika sang Paman juga bingung dengan apa yang harus dilakukan.


"Paman,Kakak... Kenapa Varro mengikuti kemoterapi? Varro sakit apa?...Kata kalian jika Varro baik-baik saja?... Kenapa? "


"Aku ingin kita ke perpus Var"


"Kamu suka menulis Sel?.... Bagaimana jika kamu menulis cerita tentangku... Agar selalu abadi dan tersimpan dalam hatimu"


Jangan lupa vote, like, and comment!!! :)


Rabu, 08-03-23

__ADS_1


NA_Kim


__ADS_2