
Jio menyibukkan diri dan hingga pukul sembilan, dia masih sibuk menatap layar monitor untuk menyiapkan beberapa file yang akan dia bahas dengan Tuan Frendik menjelang siang nanti.
Namun perasaannya benar-benar tidak tenang karena terus memikirkan Safira, apalagi saat Bosnya Erlan beberapa kali menggodanya lewat suara deheman. Erlan terus melirik Jio dan membuat Jio tidak nyaman. Apalagi saat ditanya kenapa dia masuk kerja bukannya mengambil cuti, Jio hanya diam saja.
Erlan yang penasaran kemudian menghampiri Jio dengan perlahan. "Kuntilanak!" teriak Erlan seraya menggebrak meja kerja Jio.
"Brengsekk! Mau gue pecat lo?" jawab Jio saking kesal dan kagetnya. Erlan malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Jio. "Arghh! Kenapa sih ... kenapa!" Jio melempar beberapa berkas di atas meja kemudian dia beranjak pergi menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya disana. Satu tangannya pun menumpang di kening setelah itu Jio pun memejamkan mata.
"Kenapa sih, lo? Patah hati? Safira berubah pikiran dan nggak mau kawin sama lo, hah?" ledek Erlan yang duduk di sofa lainnya. Namun Jio tidak langsung menjawab. Dia terlihat sedang mengatur napasnya seolah beban pikirannya begitu berat.
"Ibu Safira nggak setuju dengan hubungan kami. Aku nggak sengaja nguping kemaren. Dan ... Safira malah bohong sama aku. Dia nggak mau jujur kalau ibunya nggak setuju. Padahal sebelumnya Ibunya itu nggak sabar mau ketemu aku, anehkan?" papar Jio membuat Erlan yang sejak tadi ingin tertawa tiba-tiba sedih dan kembali berwajah serius.
Kisah cinta sahabatnya yang begitu profesional dengan semua pekerjaannya, ternyata harus diawali dengan perjuangan keras demi mendapatkan restu sang Ibu mertua. Jauh berbeda dengan dirinya.
"Kenapa begitu? Apa alasannya?" tanya Erlan kini tidak lagi ada candaan dalam dirinya.
"Aku nggak tahu. Ibunya tiba-tiba bilang suruh putus dan uang yang pernah aku berikan untuk berobat ... akan dianggap hutang," jawab Jio dengan nada datar. Namun Erlan tahu jika sahabatnya ini sedang sangat sedih, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Udah tanya Safira?" Jio hanya menggelengkan kepalanya dengan posisi yang tidak berubah. "Mau aku yang tanya?" Jio tiba-tiba langsung beranjak dan duduk menatap Erlan.
__ADS_1
"Coba liat aku. Apa Serjio ini kurang tampan dan kurang meyakinkan bisa membahagiakan Safira sampai ibu Romlah nggak rela anaknya kawin sama aku? Tolong ... bantu cari solusi! Kan aku udah setia selama ini dan yang pasti juga banyak nolong anda, Tuan Erlangga."
Erlan malah ingin kembali tertawa mendengar ucapan Jio. Wajahnya sungguh terlihat seperti seorang yang minta belas kasih. Sungguh, baru kali ini Erlan melihat raut wajah Jio yang seperti itu.
"Diskusi aja sama istri gue, mungkin dia bisa bantu. Aku doakan, Serjio ... segera kawin!" ujar Erlan dan Jio hanya bisa manggut-manggut tanda setuju dengan usul Bosnya.
...***...
Safira sedang mondar-mandir untuk mencari alasan pada Ibu Romlah atas kepergiannya. Biasanya dia memang sangat jarang pergi malam hari kecuali di musim liburan karena banyak turis yang berkunjung menikmati indahnya negara Indonesia. Namun saat ini bukan musim liburan. Ibu Romlah sendiri paham jadwal sibuk anak satu-satunya itu.
"Ampun! Masa harus kabur sih?" gumam Safira cukup kesal di dalam kamarnya sendiri. Detik demi detik terus berjalan dan Safira semakin panik karena tidak mendapatkan ide untuk pergi dari rumah. Ekor matanya terus melirik jam di dinding juga benda pipih yang sejak tadi dia pegang karena Jio terus mengirimkan pesan.
"Fira! Ibu mau ke rumah Pak Lurah," teriak Ibu Romlah yang membuat Safira langsung melotot terkejut serta kegirangan dalam hati. Segera dia keluar dari dalam kamar.
"Di suruh bantuin masak. Katanya males catering karena suka nggak sesuai masakannya sama lidah Pak Lurah. Sebenarnya udah dari kemaren bilangnya. Nanti malam anaknya Pak Lurah mau lamaran. Paling Ibu juga pulang besok pagi. Kamu nggak perlu nungguin Ibu ya? Kunci aja pintunya," jelas Ibu Romlah kemudian pergi tanpa curiga sama sekali jika Safira sedang merencanakan untuk pergi.
"Hm. Fira juga agak nggak enak badan. Kayaknya efek haid. Kalau gitu Ibu hati-hati. Jangan terlalu capek! Bantuin yang ringan-ringan aja nanti," kata Safira memberikan nasehat pada Ibunya tanpa menunjukkan niat kabur pada sang Ibu.
"Iya. Ibu pergi dulu." Ibu Romlah pun pergi dan dengan cepat Safira masuk kamar mandi karena mobil yang menjemputnya hampir sampai. Benar-benar suatu keberuntungan atau bisa disebut semesta sudah merestui hubungannya dengan Serjio.
__ADS_1
Setelah mandi, Safira mengenakan gaun yang di kirim oleh Jio menggunakan ojek online yang tiba beberapa menit sebelumnya. Bahkan Safira harus pura-pura datang bulan dan beralasan membeli pembalut demi untuk mengambil baju kiriman Jio itu.
Safira bukan wanita yang pandai merias diri karena tanpa make up pun dia sudah begitu cantik. Namun karena ini malam yang cukup spesial, Safira pun memberikan sedikit polesan diwajahnya. Setelah selesai bersiap, Safira mengenakan hoodie agar tidak menjadi sorotan para tetangga julid kemudian bergegas melangkah pergi sebelum mobil yang menjemput dirinya itu terlalu lama menunggu.
Setelah masuk ke dalam mobil, Safira melepaskan hoodie yang dia pakai kemudian merapikan rambutnya.
Perjalanan dua jam lebih tidak membuat Safira tidak merasakan apa-apa. Dia sungguh gugup karena ini pertemuan penting baginya. Apalagi saat mobil mulai memasuki kawasan elit kemudian masuk ke sebuah rumah mewah milik Tuan Erlangga.
Beberapa orang yang sudah diatur oleh Diandra segera berbaris rapi sesuai instruksi begitu melihat mobil yang ditunggu-tunggu sejak tadi datang.
Safira semakin gugup menatap orang yang begitu fokus dengan kedatangannya dari jendela mobil yang masih tertutup rapat, tetapi dia tetap berusaha untuk enjoy karena tidak mau membuat Jio mau. Segera Safira membuka pintu lalu turun dari mobil karena tidak mau membuat mereka yang menantikan kedatangannya menunggu terlalu lama.
"Duh ... deg-degan," gumam Safira mulai melangkah mendekati kerumunan yang sedang menunggunya. Matanya menyapu pemandangan yang membuat dirinya merasa sangat nyaman.
Jio yang tadinya fokus mengobrol dengan Erlan langsung terkesima dengan ekor mata yang melirik kedatangan calon istrinya tersebut. Senyum tipis pun mulai terpancar di sudut bibir seorang Serjio. Padahal bukan pertemuan pertama, tetapi entah kenapa Jio merasa setiap bertemu Safira jantungnya selalu berdebar lebih cepat. Mungkin itu yang disebut mabuk cinta.
Safira terlihat kesulitan berjalan dan seperti tidak terbiasa mengenakan high heels. Jio malah diam saja tanpa berinisiatif untuk segera menyambut calon istrinya.
Erlan segera mendorong tubuh Jio agar menjemput dan menuntun Safira. Jio pun mengulurkan tangannya. Namun tentu saja rasa gugup mengalahkan langkah kaki yang sudah dia lakukan dengan hati-hati hingga akhirnya Safira tersandung.
__ADS_1
Tubuhnya terhuyung, tetapi dengan cepat Jio menangkap tubuh Safira. Pada akhirnya Safira pun jatuh ke dalam pelukan Jio.
........