
Suara tepuk tangan yang cukup meriah membuat kesan romantis di malam itu semakin terasa. Apalagi saat beberapa asisten rumah tangga berdiri berjejer di sisi kiri dan kanan Jio seraya membawa sebuah balon dengan huruf yang membentuk tulisan 'I love you Safira'.
Jio membiarkan Safira menikmati keromantisannya untuk beberapa saat. Setelah itu dia melangkah mendekati wanita yang sedang terkagum-kagum padanya. Sebuah kotak berwarna abu-abu dengan hiasan pita merah di tangan segera dia buka. Di dalamnya ada sebuah cincin berlian yang seharusnya dia sematkan kemarin saat Jio datang ke rumah Safira.
Sayang ada sebuah insiden kecil yang membuat rencana Jio itu gagal. Dan malam ini adalah kesempatan dia untuk memasangkan cincin di jari manis Safira sebagai tanda Safira tidak boleh dimiliki siapapun kecuali dirinya.
"Will you marry me, Safira?" tanya Jio seraya berlutut memegang tangan kiri Safira setelah berhasil menyematkan cincin di jari manis itu. Jio pun mencium cincin tersebut kemudian menatap Safira dengan penuh cinta.
Rasa haru serta bahagia membuat Safira menitikkan air mata. Serjio terlalu sempurna untuk dia yang hanya wanita biasa-biasa saja. Sebuah anggukan kepala diiringi tetesan air mata kebahagiaan membuat Jio tahu jika Safira mau menikah dengannya. Jio pun bangkit lalu mencium kening Safira.
Suara tepuk tangan meriah kembali terdengar membuat Jio tidak langsung menyingkirkan bibirnya dari kening Safira saking dia begitu menikmati kebersamaan dengan sang kekasih sampai lupa jika banyak mata yang sedang menatapnya.
"Jangan lama-lama, kita udah laper," seru Erlan membuat suasana haru itu berubah seketika.
"Mas! Ganggu aja, ish!" ujar Diandra seraya memukul lengan Erlan.
"Sayang, dia nih terlalu menghayati. Sengaja dia tuh bikin kamu dan wanita disini iri sama keromantisan mereka," keluh Erlan kemudian menghampiri Jio yang sedang terkekeh. "Heh, Serjio! Udah buruan bakar barbeque nya. Acara lamaran telah usai. Kamu mau buat kita mati kelaparan?" lanjut Erlan semakin membuat Jio terkekeh berikut dengan Safira.
Pesta barbeque itu benar-benar terasa begitu hangat. Canda tawa dan gurauan menyertai setiap detik malam yang semakin larut tersebut.
...***...
Diandra sedang menahan Safira agar mau menginap saja di rumahnya. Namun Safira kali ini jujur dan mengatakan jika dia kabur dari rumah karena Ibunya sedang ke rumah Pak Lurah.
__ADS_1
"Yah, cuma semalam aja, masa nggak bisa. Kapan lagi dong bisa nginap disini?" Diandra terlihat kecewa, tetapi dia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya.
Safira orangnya sangat asyik diajak bicara. Apalagi kemampuannya yang bisa berbahasa asing membuat Diandra semakin tertarik untuk mengobrol lebih lama dengannya. Begitu juga dengan Cherin yang juga nyambung kalau ngobrol dengan Safira. Namun Cherin sudah pulang sejak beberapa menit lalu bersama Hanes.
"Iya, maaf ya, Nona! Kapan-kapan saya akan sempatkan waktu untuk menginap disini. Semoga waktu itu nggak lama lagi," jawab Safira masih saja bicara formal. Padahal sudah Diandra bilang kalau bicara biasa saja dengannya supaya lebih akrab. Tentu Safira tidak mau karena walau bagaimanapun dia adalah istri dari Bosnya Jio.
Akhirnya perdebatan menginap itu selesai dan Safira pulang diantar oleh Jio.
...***...
"Kamu bener-bener nggak tau apa yang membuat Ibu nggak suka sama aku?" tanya Jio seraya fokus melajukan mobilnya.
"Nggak, Mas! Maaf ya, sebelumnya aku nggak jujur sama kamu. Padahal kamu aja jujur masalah chat kamu dengan si ulet gatel yang namanya Ayu itu," jawab Safira tertunduk dan meremass tangannya.
Jio tidak langsung merespon. Dia pun mengingat kejadian-kejadian sebelumnya, tetapi dia pastikan kalau Jio tidak pernah bertemu dengan Ibu Romlah ataupun berbuat salah padanya.
"Aneh!" gumam Jio membuat Safira menoleh padanya.
"Apa yang aneh, Mas?" tanya Safira tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Jio yang fokus dengan kemudinya.
"Sayang, apa perlu kita buat anak dulu demi mendapatkan restu ibu kamu?" kata Jio kemudian membanting kemudinya ke pinggir jalan. Jalanan cukup sepi karena sudah bukan jalur utama. "Ayo kita buatkan Ibu kamu cucu, pasti kita akan mendapatkan restu saat tau kamu hamil," lanjut Jio segera melepaskan setbelt dan mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Safira.
"Ish ... bilang aja kamu mau enak-enak. Nggak! Aku mau kita berjuang secara sehat, Mas!" tolak Safira seraya menyilangkan kedua tangannya menutup dada dan menggeser duduknya mundur agar sedikit menjauh dari Jio dengan pikiran mesumnya itu.
__ADS_1
"Padahal waktu itu kita melakukannya beberapa kali. Tau gitu aku tembak benihku di dalam aja terus biar jadi ya?" goda Jio dengan tatapan aneh.
"Udah ... buruan jalan lagi," titah Safira yang sedikit mendorong tubuh Jio. Namun Jio malah menekan tombol kursi Safira agar kursi itu memudahkan dia untuk menindih tubuh Safira. Tak lupa Jio juga melepaskan setbelt yang melingkar di tubuh Safira. "Mas!" seru Safira tentu saja terkejut dengan sikap Jio.
"Udah lama banget, Sayang. Sebentar aja, boleh ya?" goda Jio seraya membelai rambut Safira.
"Ih ... nggak! Kita harus mendapatkan restu Ibu dengan cara baik-baik, Mas! Bukan begini!" Lagi-lagi Safira kekeh dengan pendiriannya.
"Aku janji nggak akan sampai tahap itu. Aku kangen bau tubuhmu, Sayang. Apalagi kamu sangat cantik. Aku nggak bisa menahannya lagi." Jio yang benar-benar tidak tahan langsung melumatt bibir Safira dengan lembutnya. Lumatann itu kian menuntut satu sama lain karena memang sudah berbulan-bulan mereka tidak melakukannya. Tangan kanan Jio juga menekan leher Safira agar ciuman itu semakin dalam.
"Emh," lengguhh Safira membuat Jio kian bersemangat walaupun sebenarnya suara itu tidak sengaja keluar dari mulut Safira.
Jio terus menikmati bibir manis itu, bahkan satu tangannya mulai aktip dan menurunkan tali gaun milik Safira lalu tangan itu memaksa menyusup masuk hingga berhasil meremass gundukan kenyal yang menggairahkan tersebut.
Sadar jika Jio hampir kelewat batas, Safira segera mendorong tubuh Jio agar dia mengakhiri ciuman panasnya sebelum Safira benar-benar terbuai dengan godaan Jio. "Cukup! Ayo kita jalan lagi, Mas!" mohon Safira.
"Sebentar lagi, hm? Tanggung banget, Sayang!" Jio juga memohon dengan wajah memelas.
"Nggak! Aku nggak mau kita di grebek disini gara-gara mobil yang bergoyang," tolak Safira segera merapikan pakaiannya.
"Kalau gitu ... kita cari hotel, gimana?" Safira langsung melotot kemudian memukul dengan keras lengan Jio.
"Kamu mau anter aku pulang ... atau aku akan pulang sendiri?" ancam Safira membuat Jio mau tidak mau kembali duduk seraya memukul kemudi.
__ADS_1
"Padahal dikit lagi," gumam Jio terpaksa melajukan mobilnya.
........