
"Bukan-bukan! Tadi itu ... tadi ada ... itu ... ada kecoak, Pak Soleh! Fira takut, jadi Mas Jio ngelindungin Fira. Maaf ya, Pak Kadir! Maaf, Pak Soleh! Fira pulang dulu ya, permisi!" Segera Safira menarik tangan Jio untuk pergi dari sana.
Safira benar-benar malu bahkan sangat gugup karena dia pulang bersama Jio. Tangannya bahkan berkeringat dingin. Namun Jio melepaskan genggaman tangan Safira dari pergelangan tangannya kemudian berganti menggenggam tangan Safira agar tenang. Kedua bapak tadi pasti sedang siskamling, makanya melewati gang sempit itu dan akhirnya memergoki dia juga Jio sedang berciuman.
"Sayang, pelan-pelan jalannya!" pinta Jio, tetapi nadanya begitu manja. Tentu saja sebenarnya Jio sangat senang dengan kejadian tadi. Seharusnya Safira jujur saja dan mereka bisa langsung menikah malam itu juga. Benar-benar pikiran Jio sangat kotor.
Tiba di depan rumah, Safira pun melepaskan tangan Jio dengan kasar dan menatap wajah Jio yang malah tersenyum senang. Namun tidak lama karena Safira langsung melirik beberapa tetangganya, takut ada yang belum tidur dan melihat dirinya bersama Jio sedang berdiri di depan rumah di tengah malam tersebut.
"Kamu senang?" tanya Safira kembali menatap Jio dengan nada kesal setelah memastikan keadaan aman.
"Heem. Seneng banget! Seru tau kejadian tadi. Kamu makin gemes! Harusnya bilang aja kita emang mesum, bisa kawin deh kita malam ini," jawab Jio tanpa rasa bersalah sama sekali. Safira benar-benar gemas dan sangat ingin memberikan pukulan keras padanya.
"Bisa-bisanya aku punya calon suami seperti kamu, Mas!" gerutu Safira seraya memijat pelipisnya.
"Kenapa? Aku ganteng, pinter dan punya banyak uang. Apa yang kurang, hm?" goda Jio seraya mencolek lengan Safira. Hal itu membuat Safira semakin pusing karena sikap Jio yang kelewat bucin.
"Tap-" Safira menggantungkan bicaranya saat mendengar pintu rumahnya akan terbuka.
"Safira!" seru Ibu Romlah seraya membuka pintu. Safira sangat terkejut melihat ibunya ada di rumah. Padahal Ibunya pamit akan menginap di rumah Pak Lurah. "Dari mana kamu dengan laki-laki ini sampai tengah malam?" tanya Ibu Romlah yang terlihat sangat marah.
"Malam, Buk! Maaf, say-"
"Diam! Siapa yang suruh kamu bicara? Laki-laki macam apa kamu bawa pergi anak orang dan pulang tengah malam begini? Dimana sopan santun dan etika kamu, hah!"
"Ibu ... pelan-pelan! Kita masuk rumah dulu! Nggak enak di denger tetangga." Safira segera mendorong tubuh Ibu Romlah untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah. Jio pun mengekor ikut masuk kemudian menutup pintunya. "Buk, dengerin Fira dulu, oke?" bujuk Safira seraya merengkuh kedua bahu sang Ibu.
__ADS_1
Namun ekor mata Ibu Romlah tertuju pada Jio yang malah ikut masuk ke dalam rumah, bukannya pulang. Padahal sudah jelas bahwa Ibu Romlah tidak suka dengan kehadirannya.
"Kenapa dia ikut masuk?" tanya Ibu Romlah masih bernada marah.
"Saya mau bertanggung jawab, Buk."
"Siapa Ibu kamu? Saya bukan Ibu kamu!"
"Maaf, maksudnya ... saya hanya ingin bertanggung jawab, Tante."
"Sejak kapan saya menikah dengan oom kamu, hah! Memang saya ini terlihat seperti tante-tante?"
"Maksudnya, say-"
"Cukup! Ibu ... dengerin penjelasan kita dulu." Ibu Romlah pun membuang muka karena tak sudi menatap Jio. Sedangkan Jio hanya bisa mengelus dada seraya menggelengkan kepalanya karena bingung harus memanggil apa calon ibu mertua yang galak seperti itu.
Safira mengajak Ibu Romlah untuk duduk agar amarahnya sedikit teredam. Namun saat Jio ikut duduk, dia kembali mendapatkan tatapan membunuh dari Ibu Romlah.
"Siapa yang suruh kamu duduk. Tuan rumah nggak nyuruh kamu duduk, kenapa kamu duduk. Nggak sopan banget!" teriak Ibu Romlah benar-benar semakin membuat Safira mendapatkan tekanan batin.
"Maaf!" lirih Jio kembali berdiri, tetapi kali ini dia berpindah posisi menjadi di sisi Safira karena baginya tempat itu akan aman dari tatapan menakutkan calon ibu mertuanya itu.
"Astaga ... Ibu!" Safira pun mengusap bahu sang Ibu. "Kenapa sih? Salah Mas Jio sama ibu apa coba? Tolong jelaskan, Buk?"
"Bukan urusan kamu!" jawab Ibu Romlah dengan ketusnya.
__ADS_1
"Jelas urusan Fira. Sebelum ketemu sama Mas Jio, ibu antusias banget pengen ketemu calon menantu. Tapi setelah ketemu, Ibu jadi begini. Kalau Mas Jio salah, bisa dibicarakan baik-baik dan cari jalan keluarnya supaya ibu mau memaafkan kesalahan Mas Jio. Fira cinta sama Mas Jio, begitu juga sebaliknya.
"Betul!" sahut Jio.
"Siapa yang nyuruh kamu nyaut?" Lagi-lagi Jio salah.
"Astaga, aku bisa gila kalau begini," gumam Safira.
"Tenang, Sayang kalau kamu gila, aku akan temani kamu di rumah sakit jiwa," jawab Jio langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ibu Romlah berikut Safira. "Eh ... salah lagi?" Jio pun tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya.
"Pokoknya ibu nggak mau kalian menikah. Ibu nggak akan kasih restu. Cari laki-laki lain. Ibu tahu banyak yang suka sama kamu selama ini. Ibu lebih setuju kamu sama Rendra walaupun dia nggak begitu banyak uang. Dari pada sama laki-laki di samping kamu itu. Atau sama keponakan Pak Lurah yang namanya Asep juga Ibu setuju. Itu lebih baik. Sama Ferdi juga nggak pa-pa. Dia keliatan mapan kan kerja kantoran. Walaupun duda, tapi dia ramah. Istrinya juga meninggal, bukan cerai. Pokoknya ibu nggak setujui titik."
Jio tentu melongo mendengar Ibu Romlah menyebutkan deretan nama laki-laki lain yang menyukai Safira. Selama ini Jio tidak memikirkan hal itu. Di usia Safira yang menginjak dua puluh enam tahun dan berparas sangat cantik juga begitu cerdas, pastilah banyak yang menyukainya.
Kali ini Jio tidak menunjukkan sikap bercanda ataupun main-main. Jio pun duduk di kursi tepat di depan Ibu Romlah dengan raut wajah serius. Tentu saja dengan pesona ketampanan dan wibawanya.
"Permisi, saya benar-benar ingin tahu kenapa anda tidak merestui hubungan saya dengan putri anda, Nyonya. Dia wanita pertama dan satu-satunya yang bisa merebut hati saya. Saya mohon, tolong jelaskan! Apa saya kurang tampan dan mapan bagi anda, Nyonya?"
Safira terpana dengan pesona Jio. Kali ini Jio benar-benar terlihat berkarisma, bukan laki-laki mesumm yang sebelumnya terus menggoda dirinya.
"Justru wajah kamu itu yang buat saya tidak suka. Sudahlah ... pulang sekarang juga. Kamu nggak liat ini jam berapa? Apa pantas jam segini bertamu? Dasar nggak sopan!" Ibu Romlah pun beranjak pergi masuk ke dalam kamar.
Safira tidak bisa menahannya dan hanya bisa mengehela napas panjang menatap Jio dengan pasrah. Sama halnya seperti Safira, Jio juga hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang. Jio pun beranjak karena memang benar tengah malam bukan waktu yang tepat untuk bertamu. Apalagi suasana hati Ibu Romlah tidaklah bagus untuk diajak berdiskusi.
"Aku pulang ya, Sayang. Jangan sedih! Kita akan tetap menikah asal kamu nggak menerima cinta Rendra dan Ferdi maupun Asep." Safira hanya terkekeh mendengar perkataan Jio. Setelah berpelukan, Jio pun pergi.
__ADS_1
........