
Entah sudah berapa kali ponsel di atas nakas itu bergetar, tetapi sang pemilik ponsel tidak peduli dan memilih untuk melanjutkan tidurnya. Padahal alarm di ponsel itu juga sudah berbunyi tujuh kali dan Jio terus mematikan alarm tersebut sejak pagi-pagi sekali.
"Arghhh! Kenapa sih kamu nggak mau diem, hah!" seru Jio menatap benda pipih yang mana dilayarnya tersebut tertera nama 'Erlangga Si Bos Kejam'. Terpaksa Jio mengusap tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga dengan malasnya.
"Sekertaris Brengsekk! Kenapa elo belum juga datang, hah!" teriak Erlan dalam panggilan telepon. Jio segera menjauhkan smart phone miliknya karena merasa gendang telinganya akan pecah. Jio pun duduk sambil menguap dan mengucek mata.
"Kenapa sih marah-marah terus? Nggak dikasih jatah sama Nona Diandra? Baru bangun nih!" sahut Jio kesal. Padahal dia sendiri tersiksa karena sampai detik ini juga belum mendapatkan jatahnya dari Safira. Bahkan Jio sampai tidak bisa tidur karena memikirkan bau tubuh Safira semalam.
"Punya sekertaris nggak ada akhlak sama sekali jam segini baru bangun? Cepet berangkat, Sial! Kalau elo punya janji sama orang, jangan buat orang itu nungguin elo. Awas aja kalau sampe di kantor, gue pecat!" kata Erlan dan langsung memutuskan sepihak panggilan tersebut.
Jio segera beranjak dari tempat tidurnya seraya berpikir tentang janjinya dengan menatap layar ponsel yang telah mati. Namun hari ini Jio ingat betul kalau dirinya tidak punya janji untuk bertemu dengan klien atau siapapun. Itu juga salah satu alasan dirinya bermalas-malasan.
"Janji? Jangan-jangan Bos Kejam itu yang buat janji dan nggak kasih tau aku," gumam Jio kemudian meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
Baru Jio akan melangkah ke kamar mandi, Safira masuk ke dalam kamar hendak membangunkan Jio karena pagi itu jam sudah menunjukkan pukul sembilan, tetapi Jio belum juga turun untuk sarapan.
"Mas, kok belum siap? Emang nggak ke kantor?" tanya Safira heran melihat Jio masih memakai celana pendek juga kaos lengan pendek dengan rambut acak-acakan. Tiba-tiba kedua sudut bibir Jio melebar melihat Safira yang begitu wangi dan cantik ada di hadapannya.
__ADS_1
Akhirnya Jio urung ke kamar mandi dan menarik pinggang Safira dengan tujuan mencari imun untuk membangkitkan semangatnya pagi itu.
"Cium dong!" pinta Jio dengan nada manja.
"Nggak mau, kamu bau, Mas!" jawab Safira seraya menutup hidungnya dengan tangan. Bukannya tersinggung, justru Jio gemas dengan respon Safira.
"Jahat banget sih! Bibir aku tetap manis Sayang walaupun aku belum mandi. Cobain singkirin tangan kamu, Sayang!" ucap Jio masih dengan nada yang sama.
"Kamu udah telat, Mas! Tuan Erlan nanti bisa marah sama kamu kalau kamu jam segini belum berangkat juga," kata Safira mencoba melepaskan pelukan Jio, tetapi gagal dan memang dia tidak pernah bisa lepas begitu saja dari kungkungan Jio.
"Dia barusan marah-marah, Sayang. Tanggung lah! Biar darah tinggi sekalian karena selalu semena-mena sama aku. Padahal dia butuh kecerdasan otak aku," ledek Jio sambil mengecup dahi Safira.
"Bentar aja, abis itu aku bakal mandi. Kalau di bawah nanti nggak bisa karena ada ibu, Sayang, please!" mohon Jio dan Safira hanya bisa menghela napas berat.
"Mas, emang kapan kamu selalu menepati ucapan kamu? Ngomong aja bentar, tapi nyatanya lama. Udah buruan mandi, aku tunggu di bawah. Kasian Ibu sendirian karena susternya lagi ke toko."
Namun Jio tidak mendengarkan ucapan Safira dan melahap bibir manis yang sejak tadi begitu menggoda iman.
__ADS_1
"Emh, Mas!" Safira berontak. "Please deh, Mas! Kenapa otak kamu sangat kotor sekali sih?" protes Safira dan Jio segera menjatuhkan tubuhnya di sisi Safira.
"Sayang ... aku ini pria dewasa dan normal. Hal kecil begini adalah kebutuhan biologis yang seharusnya bisa dilakukan setiap hari demi kesehatan jantung. Kamu mau aku sehat terus kan?" kata Jio dengan nada putus asa.
"Mas, aku udah pernah bilang kan kalau kita udah menikah, aku nggak akan pernah menolaknya. Sekarang tolong tahan otak mesumm kamu itu dan segera mandi!" Safira pun cepat-cepat beranjak lalu mempercepat langkahnya keluar dari kamar.
"Andai Erlangga Saputra itu nggak kasih aku jadwal yang padat, minggu ini juga aku bisa menikahi Safira. Atau ... nikah aja dulu pestanya bisa belakangan," gumam Jio diiringi senyuman yang begitu menunjukkan sebuah kebahagiaan karena ide briliannya.
Jio pun bergegas mandi dan bersiap ke kantor sambil memikirkan ide super jenius yang baru saja di dapatkan.
"Pagi, Bu!" sapa Jio lalu duduk di kursi di sisi Ibu Romlah yang sedang menyantap roti bakar.
"Pagi juga! Kok baru bangun, apa semalam kerja lembur?" tanya Ibu Romlah sedikit khawatir.
"Nggak kok, Bu. Lagi males aja. Em, Sayang, aku makan di mobil aja. Aku harus buru-buru katanya ada seseorang yang cari aku di kantor," kata Jio langsung beranjak kembali dari tempat duduknya dan mengambil sepotong roti.
"Tunggu, Mas! Aku masukin ke wadah aja. Masa sarapan sepotong aja. Tunggu bentar!" Safira segera ke dapur dan mencari kotak makan juga botol air panas. Secepat mungkin Safira memasukkan beberapa potong roti bakar dan menuangkan kopi untuk Jio ke dalam botol lalu menyerahkan pada Jio.
__ADS_1
"Makasih, Sayang. Aku berangkat ya! Bu ... Jio berangkat dulu ya, dah!" Jio pun berlalu.
........