
"Astaga ... Kak, kenapa nggak bilang dari kemaren sih? Sebaiknya kamu segera lamar Safira sebelum dilamar laki-laki lain," ujar Ayu pada Rendra.
"Tapi ... apa nggak terkesan memaksa? Lagian Fira kayak nggak suka sama aku, Ayu." Rendra benar-benar ragu dengan usul Ayu.
"Ngapain ragu? Aku yang akan bilang sama Papa. Ibunya Safira itu pasti mau menerima lamaran kamu, Kak. Kamu udah cukup kenal lama dan kamu sama Safira juga udah bekerja bersama selama bertahun-tahun, kan? Kasih mahar dan seserahan yang banyak, nggak mungkin tu ibu miskin nolak kamu," jawab Ayu dengan nada sombong, tetapi terlihat jelas jika Ayu sangat bahagia Rendra mau menikah dengan Safira.
Sebelumnya Safira dan Ayu tentu saja pernah bertemu. Namun sayangnya saat Itu Ayu merasa mendapatkan penghinaan atas sikap Jio. Mengetahui jika Rendra menyukai Safira, maka saat itu juga Ayu segera meminta Rendra untuk melamarnya.
Walaupun semuanya serba mendadak, tentu jika uang berbicara semuanya akan beres. Rendra berserta keluarganya datang ke rumah Safira dengan membawa berbagai macam barang mewah.
"Rendra? Apa-apa ini?" tanya Safira terkejut saat membuka pintu ada banyak orang di depan rumahnya. Yang membuatnya semakin terkejut adalah kedatangan Rendra yang begitu formal dengan Ayu di sisinya yang sedang tersenyum sinis menatap Safira.
"Safira ... aku ... aku mau melamar kamu. Mari kita menikah, Safira," ujar Rendra dengan lembutnya.
"Loh, ada apa ini kok rame-rame," tanya Ibu Romlah yang heran karena Safira tidak kembali ke dapur.
"Ibu ... izinkan saya melamar Safira," kata Rendra dengan tulusnya.
Tentu saja Ibu Romlah tidak begitu terkejut karena memang sejak lama sudah tahu jika Rendra suka dengan anaknya. Apalagi saat tahu wajah Jio, Ibu Romlah pasti lebih memilih Rendra menjadi menantu ketimbang Serjio.
"Wah, mendadak sekali? Mari masuk mari!" Bu Romlah mempersilahkan tamu masuk dengan senangnya. "Maaf ya, keadaannya begini. Tolong dimaklumi," sambung Bu Romlah menatap dan menambah beberapa kursi atom untuk para tamu istimewa.
"Bu, ini nggak sep-" Belum Safira selesai dengan perkataannya, Bu Romlah segera menarik Safira untuk masuk ke dalam kamar. Di kamar, Bu Romlah langsung membuka lemari baju Safira dan mengambil beberapa baju layak pakai untuk acara pertunangan yang baru saja di terima itu.
"Jangan banyak bicara! Cepat ganti baju kamu, dan terima lamaran Rendra. Dia laki-laki baik dan Ibu rasa dia sangat kaya. Kamu lihat kan tadi yang dibawa itu banyak? Jangan buat Ibu malu dan cepat ganti bajumu sebelum Ibu mati berdiri," ucap Bu Romlah penuh penekanan.
__ADS_1
"Tapi Fira nggak cinta dengan Rendra, Bu. Fira cuma cinta dengan Mas Jio," elak Safira.
"Alah ... persetan dengan cinta! Kamu tau Ibu dulu sangat cinta dengan seorang pria, tetapi dia malah menikah dengan wanita lain. Jadi jangan bawa-bawa cinta disini. Kamu akan mencintai Rendra seiring berjalannya waktu. Ingat! Cepat ganti bajumu karena Ibu nggak mau tamu-tamu istimewa itu menunggu terlalu lama."
Bu Romlah pun keluar dari kamar Safira dengan rasa dongkol yang teramat dalam. Safira benar-benar tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Ibunya. Andai saja dia cenayang, pastilah dia bisa mencari banyak alasan untuk menolak Rendra.
"Bagaimana bisa aku menerima lamaran Rendra padahal aku baru saja dilamar Jio," gumam Safira penuh kebingungan. Dia tidak bisa menghubungi Jio karena ponselnya di sita sejak kejadian tengah malah itu.
Namun Safira memang tidak ada pilihan lain selain menerima lamaran Rendra karena restu sang Ibu ada pada Rendra. Berbeda dengan dia bersama Jio walaupun sebenarnya Safira tidak tahu pastinya kenapa mereka berdua tidak mendapatkan restu.
"Sebelumnya kami sangat minta maaf karena datang begitu mendadak. Saya Aji, selaku Papa dari Rendra datang kemari secara khusus untuk melamar anak Ibu Romlah yang bernama Safira," ujar Tuan Aji dengan sopannya.
"Iya, Tuan. Tidak apa-apa. Tentu saja saya sebagai orang tua tunggal bagi Safira menyambut dan menerima lamaran ini dengan senang hati. Saya sendiri sudah sangat paham dengan Nak Rendra. Terima kasih banyak atas kunjungannya," jawab Ibu Romlah tak kalah ramah.
Namun acara penyematan cincin terhenti saat Rendra melihat ada cincin berlian lain di jari manis Safira yang menang belum disadari oleh Ibu Romlah.
"Loh, ini?" tanya Rendra menatap Safira yang sedang tertunduk, tetapi Rendra tidak mendapatkan jawaban apa pun.
"Safira, lepas!" tegas Bu Romlah. Namun Safira memilih untuk tetap tertunduk.
"Safira, ada apa ini?" tanya Jio mampu membuat semua orang di dalam rumah menatapnya. Kedatangan Jio benar-benar memberikan angin segar bagi Safira yang sejak tadi merasa sesak.
"Mas ...." Safira tidak melanjutkan ucapannya karena satu tangannya di tahan oleh Ayu yang duduk di sebelah Rendra. Bahkan tatapan membunuh dari Ayu terlihat jelas.
"Eh, Serjio! Ayo masuk! Kami baru akan memulai acaranya," ujar Ayu dengan sopannya.
__ADS_1
"Acara? Maksudnya acara apa? Safira, bisa jelaskan kenapa ini?" tanya Jio masih terheran-heran.
"Mas ... aku ...." Lagi-lagi Safira menahan ucapannya.
"Nak Jio, kenal dengan Safira?" tanya Tuan Aji, Papa Ayu sekaligus Papa Rendra. Jio tentu mengenal pria paruh baya tersebut.
"Sudah, Tuan. Dia tidak penting! Kita lanjutkan aja acara pertunangannya," kata Ibu Romlah yang segera meraih kotak kecil di atas meja dan membukanya. Ada sepasang cincin berlian disana.
"Tunggu!" Jio hendak mencegah, tetapi Ayu memeluk dan menarik Jio untuk duduk bersamanya di kursi.
Jio tidak begitu saja menurut pada Ayu yang mengajarkannya untuk duduk di kursi, tetapi Jio segera menepis kasar tangan Ayu kemudian menarik paksa tangan Safira agar menjauh dari laki-laki bernama Rendra. Seharusnya dia paham sejak awal jika Rendra ini anak dari Tuan Aji dan kembaran Ayu.
"Safira tidak akan pernah menikah dengan siapapun, kecuali dengan Serjio!" tegas Jio menatap bergantian orang-orang yang bingung dengan situasi tersebut.
"Serjio! Saya tidak memberikan restu saya untuk hubungan kalian! Saya hanya merestui hubungan Fira dengan Rendra, jadi ... pergi dari sini dan jangan ganggu acara pertunangan ini!" gertak Ibu Romlah seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak! Kami harus segera menikah! Safira tidak akan menikah dengan siapapun karena Safira sudah menjadi wanita cacat," ujar Jio membuat semua orang membelalak dengan ucapannya.
"Jaga bicara kamu, Serjio!" bentak Ibu Romlah.
"Nak Jio, apa maksudnya Safira wanita cacat?" tanya Tuan Aji.
"Ya, Safira sudah tidak perawan karena kami sudah tidur bersama. Dan ... kemungkinan Safira sedang hamil."
........
__ADS_1