
Keesokan harinya, Ibu Romlah memaksa untuk pulang karena merasa sudah baikan. Emosinya telah stabil setelah tahu kebenaran yang sesungguhnya tentang Safira dan Jio. Walaupun hati belum bisa benar-benar menerima, tetapi Ibu Romlah sedang mencoba untuk tidak mengingat masa lalu lagi demi kebahagiaan sang anak.
"Ibu yakin udah baikan? Tunggu saran Dokter aja ya, Bu? Fira takut ibu malah kumat lagi pas di rumah."
Dipaksa juga percuma karena Ibu Romlah tidak mau menambah biaya rumah sakit. Kepalanya memang masih pusing, tetapi sekuat mungkin dia sembunyikan semua itu dari Safira. Bagi dia hanya pusing biasa dan mungkin karena terlalu memikirkan hal yang telah berlalu.
"Nggak pa-pa. Kamu cepet bilang Dokter ya. Pokoknya Ibu mau pulang hari ini," kata Ibu Romlah masih memaksa. Safira hanya mengangguk.
Dokter yang menangani Ibu Romlah mengizinkan pulang dengan catatan dan banyak saran. Ibu Romlah hanya mengangguk mengiyakan. Setelah menyelesaikan administrasi, mereka pun pulang.
"Eh, Ibu Romlah udah pulang? Katanya udah mau punya cucu ya? Wah ... selamat ya, Bu. Nggak nyangka loh Safira yang lugu begitu ternyata mau juga jual diri, cih!" sapa seorang ibu-ibu yang kebetulan lewat depan rumah Safira.
Emosi Ibu Romlah kembali meledak. Dadanya cukup sesak mendengar kata 'jual diri' dari tetangganya tersebut. Kabar Safira telah hamil langsung menyebar ke seluruh warga. Safira hanya bisa mengusap punggung sang Ibu agar bersabar.
"Duh ... padahal nih ya, Ibu ngefans banget loh sama kamu, Fir. Eh, sekarang amit-amit deh. Besok jangan main sama anak-anak lagi di taman. Ibu takut berdampak buruk dan kamu ngajarin yang nggak-nggak lagi," kata satu Ibu lainnya.
"Iya, bener itu! Kamu diem aja deh di rumah, Fir. Kita nggak nyangka loh kamu bisa jual diri sampai hamil. Emang kamu nggak KB waktu mutusin jual diri?" sahut kata satu Ibu lainnya.
"Eh, Bu! Jaga ya ucapan kalian. Ibu-ibu ini kan juga punya anak perempuan. Mau apa yang kalian ucapkan dan pikiran itu terjadi sama anak kalian? Yang kalian dengar itu belum tentu benar ya, jadi nggak usah urusin hidup orang!" seru Ibu Romlah.
"Idih ... udah ketauan busuknya, masih aja syok suci. Kita ini ngedidik anak kita baik-baik. Yang jelas juga anak-anak kita punya peran Ayah. Nggak seperti Safira yang nggak punya ayah dari Ibu Romlah tinggal disini. Nggak usah syok jadi korban."
__ADS_1
"Betul. Seharusnya kalian itu diusir dari kampung sini karena Safira hamil diluar nikah. Bisa-bisa Safira bakal bawa sial kampung ini gara-gara zina. Tapi karena kebaikan Pak Lurah, kalian nggak jadi diusir. Udah ah, males ngomong sama keluarga nggak jelas ini."
Ibu Romlah hendak menjawab lagi, tetapi dengan segera Safira menahan agar sang Ibu tetap sabar dan mengajaknya masuk ke rumah lalu membawa sang Ibu ke kamar untuk istirahat.
"Kenapa sih mereka itu? Nggak tahu yang sebenarnya, tapi asal bicara," seru Ibu Romlah kesal dan malah melempar bantal sebagai pelampiasan.
"Ibu ... mereka nggak salah. Safira memang sekarang bukan lagi wanita baik-baik kan? Safira memang jual diri,"
"Nggak! Kamu anak ibu yang terbaik. Kamu begitu juga karena, Ibu. Kamu terpaksa dan bukan sengaja." Safira pun memeluk sang Ibu.
"Maafin Safira ya, Buk! Safira udah bikin Ibu malu. Kalau Ibu nggak kuat dengan omongan mereka, kita pindah aja dari sini, ya?"
"Berarti Ibu udah restuin hubungan Fira sama Mas Jio, Bu?" tanya Safira cukup penasaran.
"Hm. Siapa lagi yang mau nikahin kamu dan terima kamu kalau bukan dia. Ibu akan coba menerima Jio. Walau bagaimanapun ... dia sudah banyak mengeluarkan uang juga untuk Ibu. Harusnya Ibu terima kasih kan? Memang sulit, tapi ... Ibu mau kamu bahagia."
Safira kembali memeluk Ibunya.
"Terima kasih, Bu!" Sebatas itu yang Safira katakan. Dia ingin sekali bertanya kenapa membenci Jio, tetapi Safira tidak mau memaksa dan akan membiarkan sang Ibu sendiri yang bercerita.
...***...
__ADS_1
Ferdi yang baru saja pulang dinas di luar kota sangat terkejut dengan kabar Safira dilamar oleh Rendra dan kabar kehamilannya. Walaupun lamaran itu batal, tetapi Ferdi tentu ingin tahu lebih jelasnya dan pergi untuk menemui Safira juga Ibu Romlah.
"Bang! Kenapa keliatan panik?" tanya Safira saat tahu jika tamunya adalah Ferdi.
"Boleh masuk? Aku mau ngobrol sebentar," pinta Ferdi dan Safira hanya mengangguk. "Aku baru pulang dari luar kota dan baru tau kabar tentang kamu yang lagi dibicarakan banyak orang. Apa kamu baik-baik aja?"
"Iya, Fira baik-baik aja kok. Emang kenapa, Bang?" Sebenarnya Safira sudah tahu maksud tujuan Ferdi.
"Fir, kamu tau aku suka sama kamu sejak dulu. Kalau Rendra nggak bisa terima kamu apa adanya, aku ... aku siap untuk menerima kamu, Fir. Aku nggak masalah dengan status kamu. Kita bisa rawat sama-sama anak kita," kata Ferdi dengan tulusnya.
Safira hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan Ferdi. Duda satu anak itu terlihat sangat tulus, tetapi sejak dulu Safira hanya menganggap dia seorang kakak. Tidak ada ketertarikan sama sekali dengan Ferdi. Sama hal perasaan dia dengan Rendra.
"Bang, Fira nggak hamil, Bang. Dan maaf, Fira juga mencintai dia. Dulu kita pernah satu sekolah dan ternyata secara kebetulan dia juga nyari Fira, Bang. Kami akan menikah sesegera mungkin."
"Apa kamu yakin dia laki-laki baik, Fir?"
"Hm. Aku sangat yakin, Bang. Aku dan Ibu juga berencana pindah dari sini. Orang-orang disini udah nggak suka sama kami. Nggak diusir aja udah bersyukur banget. Tapi kami harus tau diri juga."
"Baiklah! Aku nggak bisa maksa. Semoga kamu bisa dapet kebahagiaan kamu dimanapun kamu berada, Safira." Walaupun dengan berat hati, Ferdi segera pamit pulang setelah mengutamakan niat baiknya.
........
__ADS_1