
Suasana di ruang kamar yang hanya ada satu pasien dengan dua orang yang saling berhadapan tanpa suara itu benar-benar hening untuk beberapa saat. Safira sudah memberikan kode keras pada Jio agar dia tidak mengatakan fakta bagaimana Safira mendapatkan julukan wanita cacat.
Walaupun Safira ada sedikit keinginan mengatakan hal tersebut, tetapi tentu saja nanti atau entah esok bahkan mungkin hal itu akan dia pendam sendiri demi kesehatan satu-satunya keluarga yang dia punya.
Sorot mata Safira memancarkan sebuah kekecewaan pada Jio karena kini Ibu Romlah tahu semuanya.
"Sayang ... aku nggak bisa tahan. Ibu kamu memang harus tau cepat atau lambat!" seru Jio kekeh dengan pendiriannya setelah melihat sorot mata Safira yang mungkin tidak akan menguntungkan baginya.
"Safira ... apa semua itu benar? Kamu ... kamu menjual tubuhmu ... demi ... Ibu?" Tak kuasa air mata Ibu Romlah tertahan. Kini sudut mata itu benar-benar basah, padahal baru beberapa menit yang lalu kedua matanya tersebut terus memicing.
Safira tidak berani menatap wajah Ibunya. Dia kembali tertunduk dengan menggenggam kuat ujung blouse yang dia pakai. Tangisnya kembali pecah dan tetesan air mata kembali membasahi kedua pipinya.
"Biar saya yang jelaskan, Nyonya." Jio melangkah maju menghadap Ibu Romlah. Keduanya sama-sama saling bertatap mata, tetapi kali ini dengan pandangan yang berbeda.
"Safira sebenarnya dibayar untuk menjebak atasan saya yang bernama Erlangga saat kami sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Safira di bayar untuk merusak rumah tangga dan perusahaan atasan saya.
Tapi saat itu kebetulan saya dan atasan saya berpakaian sama hingga orang yang membayar Safira tidak bisa menebak mana diantara saya dan atasan saya yang harusnya mereka berikan minuman beralkohol beserta obat perangsang.
Sayangnya saat itu mereka salah orang karena sayalah yang diberikan minuman serta obat tersebut. Bahkan Safira sendiri terus menyebut nama Erlangga padahal saat itu saja sudah menjelaskan kalau saya itu Serjio.
Saya yang sudah terlanjur tidak sadarkan diri karena pengaruh obat, dan Safira yang memang menganggap saya itu Erlangga, akhirnya kami melakukan berkali-kali malam itu. Bahkan Safira merekamnya dan hendak memberikan rekaman tersebut pada orang yang membayar Safira untuk biaya berobat Nyonya.
Tapi saya akan bertanggung jawab penuh atas apa yang telah kami perbuat. Sayangnya sesaat setelah kepulangan kami dari luar negeri, Nenek atasan saya meninggal sampai saya begitu sibuk dengan urusan keluarga yang telah membesarkan saya itu.
__ADS_1
Saya pun menunda pertemuan saya dengan anda, Nyonya. Saya sangat berharap saat itu Safira hamil dan kami bisa segera menikah. Namun ternyata saat itu Safira tidak dalam masa subur.
Untuk itu ... saya mohon pada Nyonya agar memberikan restu atas hubungan kami yang pada dasarnya Safira memang wanita yang saja cari sejak beberapa tahun lalu."
Jio mengatur napasnya setelah berbicara panjang lebar. Kemudian menatap Safira yang masih tertunduk tanpa kata dan hanya terdengar isak tangisnya. Jio benar-benar tidak bisa membiarkan wanita di depannya itu terus menangis. Jio pun segera membawa Safira dalam dekapan hangat.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Safira. Gadis itu justru membalas pelukan Jio padanya sebenarnya menunjukkan rasa kecewanya. Namun memang sebuah pelukan bisa membuat hati yang kacau menjadi sedikit lebih tenang.
"Kenapa harus kamu, Serjio?" tanya Ibu Romlah tiba-tiba. Safira tidak melepaskan pelukannya saat suara sang Ibu kembali terdengar.
"Inilah takdir, Nyonya. Semuanya sudah di atur dan semuanya berjalan sesuai takdir. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Nyonya. Tapi semua kebetulan yang terjadi saya anggap bahwa Safira memang jodoh saya."
Entah kenapa Safira semakin mengeratkan pelukannya mendengar apa yang dikatakan Jio.
Setelah penjelasan itu, seharusnya Ibu Romlah merestui hubungan mereka. Nyatanya Jio masih melihat banyak keraguan dimata Ibu Romlah.
"Sayang ... sekarang kamu bisa tenang. Maaf membuatmu sedikit atau banyak kecewa. Tapi dengan ini setidaknya tidak akan ada luka baru di hatimu setelah gosip di lingkungan kamu itu. Aku akan beri waktu kalian bicara. Jangan ragu lagi atau merahasiakan apa pun dengan Ibu kamu, hm?"
Jio mengecup ujung kepala Safira kemudian melepaskan pelukannya dan mengusap kedua pipi yang masih sedikit basah.
Sebenarnya Jio ingin sekali bertanya perihal Ibu Romlah yang menyebutkan nama sang Ayah. Namun Jio pikir itu bukan waktu yang tepat karena pasti Ibu Romlah ingin bicara berdua dengan anaknya.
"Aku pergi ya, Sayang. Jangan sedih lagi dan jangan pikirkan tentang omongan orang-orang. Aku mencintaimu dengan tulus. Jangan pernah takut mengahadapi mereka nantinya. Aku akan ada selalu untuk mendukungmu. Aku pulang ya!"
__ADS_1
Jio pun mengusap ujung kepala Safira setelah mendapatkan anggukan. Jio hanya pamit menoleh pada Ibu Romlah yang memilih untuk tidak menatapnya. Lewat sebuah senyuman, Jio pun keluar dari kamar kawat tersebut.
Satu menit, dua menit hingga hampir satu jam tidak ada satupun suara yang terdengar kecuali beberapa orang lewat. Baik Safira maupun Ibu Romlah terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
Sampai tibalah dokter yang memeriksa Ibu Romlah datang dan memberikan banyak saran kesehatan untuknya. Safira pun mendengar dengan seksama saran dari dokter.
Setelah beberapa menit pemeriksaan selesai, Safira pun kembali duduk dan masih belum ada niat untuk bicara.
"Ibu ingin minum," kata Bu Romlah membuat Safira segera beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan beberapa langkah menuju nakas dan mengambilkan segelas air dan kembali untuk menyodorkan segelas air tersebut. "Kamu nggak mau bantu Ibu minum?" tanya Ibu Romlah kini berwajah sendu.
Safira pun menatap ibunya dan mendengus kesal pada dirinya sendiri. Lagi-lagi Safira tertunduk dengan tangan yang masih menggenggam segelas air untuk ibunya.
"Ibu bilang kalau Safira itu kot-"
"Maaf ... maafin ibu yang malah menambah luka dan menjadi bebanmu, Nak! Maaf sudah merepotkan kamu dan malah berburuk sangka. Ibu ... Ibu benar-benar minta maaf, Safira!"
Saat itu juga keduanya saling berpelukan setelah Safira meletakkan gelas yang dia genggam di atas nakas.
"Nggak, Bu! Jangan pernah berpikir kalau Ibu itu beban Fira. Cuma Ibu yang Fira punya saat ini. Ibu nggak boleh sakit sampai Fira benar-benar bisa membahagiakan Ibu."
Tangis keduanya pun pecah memenuhi ruang rawat yang sebelumnya begitu hening. Baik Ibu maupun anak itu sama-sama menumpahkan tangis mereka dalam pelukan.
........
__ADS_1