Wanita Kesayangan SERJIO

Wanita Kesayangan SERJIO
WKS. Rendra dan Ferdi


__ADS_3

Safira hendak protes dan mengusir Rendra juga Ferdi dari rumahnya. Dia tidak mau nama baiknya jadi tercemar hanya karena ada kedua laki-laki di depan rumah diwaktu yang hampir tengah malam itu.


Namun belum Safira membuka mulutnya, pintu yang sejak tadi tertutup, kini terbuka lebar dan Ibu Romlah pun menatap bergantian meraka yang sedang berdiri di depan pintu dengan wajah sedikit terkejut. Apalagi Safira, dia tiba-tiba gugup melihat Ibunya membuka pintu.


Bukan karena kehadiran Rendra dan Ferdi, melainkan takut dengan pertanyaan yang akan terlontar dari Ibu kandungnya itu.


"Kalian? Kenapa malam-malam ribut di depan rumah orang, heh?" tanya Ibu Romlah dengan tatapan mata yang sendu seperti habis menangis.


"Malam, Buk!" sapa Ferdi dengan ramahnya seraya membungkukkan badan dan sebuah senyuman lebar.


"Hallo, Tante!" sapa Rendra kemudian mencium punggung tangan Ibu Romlah yang ikut tersenyum manis.


"Hm, malam juga. Safira, kamu baru pulang?" Kini mata Ibu Romlah sudah tidak sendu lagi melainkan tatapannya berubah menjadi marah melihat anak gadisnya yang baru pulang setelah menghilang beberapa hari.


Apalagi alasan Safira sangat tidak masuk akal karena Rendra telah mengatakan jika tempat kerja mereka itu sedang libur. Padahal Safira izin untuk bekerja ke luar kota karena tugas dari Bosnya.


"Buk, kita bicara di dalam aja ya? Kak Rendra dan Bang Ferdi sebaiknya pulang. Safira capek dan ngantuk banget," usir Safira secara halus. Namun setelah beberapa detik, tidak ada satupun dari pemilik nama yang dipanggil Safira itu beranjak pergi dari depan rumahnya. Keduanya malah kompak menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Melihat wajah tidak rela dari Rendra dan Ferdi, Ibu Romlah pun kembali angkat bicara. "Apa kalian mau ngopi dulu sebentar?" tawar Ibu Romlah dan keduanya langsung mengangguk setuju.

__ADS_1


Rendra sendiri sering pura-pura minta dibuatkan kopi pada Ibu Romlah dengan alasan takaran dan kopi buatannya pas juga enak. Dia yang tinggal sendiri membuat Ibu Romlah maklum. Apalagi Rendra jika berkunjung tidak pernah dengan tangan kosong. Makanya dia tidak menolak sama sekali saat ditawari minum kopi walaupun dia sendiri baru pulang ngopi dari warteg malam itu.


Penampilan Rendra memang cukup sederhana, tetapi tampangnya cukup lumayan. Dia juga tinggal di rumah peninggalan Neneknya yang kecil dan tidak jauh dari tempat tinggal Safira. Saat bekerja pun, Rendra tidak pernah menampakkan sosok seorang yang berduit, padahal dia cukup punya gaji tinggi sebagai orang kepercayaan sang Bos.


Sedangkan Ferdi, dia tidak sedekat itu dengan Ibu Romlah. Duda satu anak itu memang selalu mencari perhatian Ibu Romlah terutama saat Ibu Romlah pulang dari pasar. Ferdi selalu menawarkan diri untuk membantu membawakan barang bawaan yang dibawa Ibu Romlah.


Sayangnya saat dia ingin sekali saja mampir dan masuk ke rumah, anaknya yang berumur lima tahun selalu memanggil dan hal itu membuat Ferdi gagal terus menerus mendekati Safira. Walaupun dia duda beranak satu, Ferdi hanya tua satu tahun dari Rendra. Penampilan juga lebih menjanjikan dari pad Rendra karena Fendi pekerjaan kantoran.


Bukan tanpa alasan memang kedua pria matang itu mendekati Safira. Selain wajahnya yang cantik, Safira terkenal ramah dan menyukai anak-anak. Bahkan di hari senggang, Safira sering menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak di lapangan, termasuk anaknya Ferdi yang bernama Fera.


"Ibu ... ini udah malam. Hampir tengah malam, kok main ngajak cowok masuk buat ngopi. Apa kata tetangga nanti, Buk?" protes Safira seraya menggoyangkan tubuh sang Ibu sebagai bentuk penolakan atas apa yang baru saja dikatakan Ibunya.


"Baiklah, kalau begitu kalian bisa datang besok pagi. Sekalian aja kita sarapan bareng, gimana?" tawar Ibu Romlah dan seketika langsung mendapatkan anggukan juga wajah sumringah dari Rendra juga Ferdi.


"Kalau begitu ... saya permisi, Tante," kata Rendra.


Ibu Romlah hanya mengangguk pelan sambil menahan tawa setelah kedua laki-laki tersebut berlalu pergi. Baginya tingkah Rendra dan Ferdi sangatlah lucu. Mirip seorang abg yang sedang jatuh cinta. Walaupun sebenarnya Ibu Romlah tahu jika keduanya menyukai Safira.


...***...

__ADS_1


Safira segera menutup pintu sesaat setelah dia masuk ke dalam rumah. Wajahnya semakin kesal karena Ibunya menawarkan hal yang merepotkan Safira. Dia khawatir jika Rendra dan Ferdi berpikir telah mendapatkan lampu hijau dan lebih bebas mendekati dirinya.


"Udah, nggak usah ditekuk gitu wajahnya! Sekarang ... jelaskan sama Ibu, kemana aja kamu selama ini?" Ibu Romlah menarik tangan Safira kemudian mendudukkan anaknya di kursi kayu di ruang tamu.


Mereka berdua duduk berhadapan. Ibu Romlah pun merengkuh bahu Safira dan siap mendengarkan penjelasan dari sang anak. Namun Safira tidak langsung menjelaskan kepergiannya, melainkan malah tertunduk bingung harus mulai dari mana ceritanya itu. Tentu saja dia ingin mengenalkan Jio pada sang Ibu.


"Safira ... Ibu khawatir beberapa hari ini kamu nggak ada kabar, Nak. Apalagi Rendra bilang kalian lagi libur dan masuk lagi minggu depan. Ibu bahkan mikir macem-macem. Jelaskan sama ibu, kamu kemana aja, hm?"


Kini nada Ibu Romlah berbeda. Kedu tangannya pun meraih tangan Safira dan menggenggamnya sebagai tanda jika sang Ibu ingin mendengar apa yang terjadi selama beberapa hari Safira pergi.


"Fira niat kerja sampingan, Buk. Fira sengaja nggak bilang karena Ibu pasti nolak rencana Fira yang cari uang tambahan buat pengobatan Ibu," jawab Safira seketika membuat Ibu Romlah sedih. Matanya bahkan langsung berkaca-kaca.


"Maaf, ibu ... merepotkan kamu, Nak!" kata Ibu Romlah seraya tertunduk. Kedua tangannya yang tadi menggenggam tangan Safira tiba-tiba melemah dan hampir saja terlepas, tetapi dengan cepat Safira menarik tangan itu kemudian mencium dan menggenggam erat tangan sang Ibu.


"Nggak, Buk! Ibu cuma satu-satunya keluarga yang Fira punya. Mana mungkin Fira anggap Ibu itu merepotkan? Bahkan apa yang Fira lakukan nggak akan bisa membalas air susu yang udah Ibu kasih untuk Fira."


Mendengar ucapan Safira, Ibu Romlah langsung mendongak menatap sang anak yang telah meneteskan air matanya. Safira telah kehilangan Ayahnya, tentu dia tidak mau kehilangan orang tua satu-satunya itu.


"Semoga Tuhan senantiasa memberikan kamu kelancaran dalam mencari rejeki, Nak. Ibu hanya bisa berdoa yang terbaik untuk anak Ibu. Sekali lagi ... maafkan Ibu ya, Nak!"

__ADS_1


Keduanya pun berpelukan diiringi isak tangis. Ibu Romlah tentu membanggakan putri semata wayangnya itu. Namun entah apa yang akan terjadi jika sang Ibu tahu apa yang sebenarnya dialami Safira bersama Jio di Negara B itu. Safira hanya berharap tidak ada benih yang tumbuh sebelum mereka benar-benar menikah.


........


__ADS_2