Wanita Kesayangan SERJIO

Wanita Kesayangan SERJIO
WKS. Kebahagiaan 1


__ADS_3

Sejak beberapa hari yang lalu, Serjio tidak bisa berkerja dengan fokus saking senangnya karena Ibu Romlah telah memberikan restu dan meminta agar segera menikahi Safira. Tentu saja Jio tidak menyia-nyiakan waktunya dan memilih beberapa keperluan pernikahan sendiri. Bagi seorang profesional seperti Serjio, tidaklah sulit memilih dan menyiapkan sendirian.


"Senyum terus! Menang lotre?" tanya Erlan sinis seraya melemparkan tumpukan map yang harus Jio periksa. Hal itu membuat Jio terkejut.


"Ish! Punya Bos sepuluh seperti Tuan Erlangga begini, pasti Serjio sudah mati terkena serangan jantung," protes Jio langsung merubah raut wajahnya yang senang menjadi suram dan segera meletakkan ponselnya di atas meja kerja.


Jio pun beranjak menjauh dari Erlan yang heran padanya. Jio beralih ke dispenser untuk mengambilkan air mineral dan meneguknya kasar.


Erlan mengambil ponsel Jio yang belum dimatikan. Dia melihat beberapa foto wedding dan Erlan pun mengerti kenapa asisten sekaligus sahabatnya itu marah.


"Oh, lagi milih-milih? Emang udah dapet restu?" ledek Erlan kembali meletakkan ponsel Jio.


"Heem. Udah dari beberapa hari yang lalu dan aku diminta untuk segera menikahi Safira," jawab Jio diiringi senyuman.


"Akhirnya Serjio bisa honeymoon juga," ledek Erlan lagi.


"Sial!" umpat Jio seraya memicing. Erlan malah menyunggingkan senyum.


"Jangan bulan ini, inget!" kata Erlan seolah sedang mengingatkan jadwal Jio.


"Sial! Kenapa aku lupa." Lagi-lagi Jio mengumpat karena lupa dengan jadwalnya sendiri. Dia terlalu asyik dengan dunia baru yang dipenuhi dengan Safira.


Bulan ini Jio harus pergi kembali ke Negara B untuk memenuhi undangan Tuan Fredrik. Jio bisa saja menolak, tetapi mengingat jasa Tuan Fredrik yang pernah menyelamatkan Safira saat itu, Jio harus memenuhi undangan itu.


"Oiya, Diandra kemaren pesen buat ngasih kado rumah ke elo kalau jadi kawin sama si Fira itu. Jadi karena lo udah dapet restu, kasih sekarang aja deh dari pada nanti ribet. Diandra udah pilih rumahnya dan udah siap huni. Lo cek aja sendiri, kalau kurang cocok, lo pilih aja rumah yang Lo mau. Bos lo ini yang akan bayar."

__ADS_1


"Ck, ternyata masih peka Nona Diandra daripada Tuan Erlangga," ledek Jio yang kembali duduk di kursi kerjanya.


"Sial! Yang penting kan saya yang bayar, Tuan Serjio!" serga Erlan.


"Tetap saja yang inisiatif itu istri anda, Tuan Erlangga!" bantah Jio dan kembali fokus dengan ponselnya. Namun karena bulan ini dia tidak bisa buru-buru, Jio mengabaikan beberapa rekomendasi wedding untuknya. Dia akan memilih berdua dengan Safira nanti.


"Ya terserahlah! Emang istri Erlan selalu ter the best. Tapi demi sahabat aku yang lagi bucin ini, nggak pa-pa. Erlangga ngalah demi menjaga kewarasan." Erlan segera berlalu setelah berhasil membuat Jio memicingkan matanya. Erlan tahu jika Jio bisa saja melemparkan benda apa pun padanya nanti. Jadi Erlan buru-buru pergi.


...***...


"Selamat siang, Bu!" sapa Jio begitu tiba di depan pintu rumah Ibu Romlah. Bukannya menjawab, Ibu Romlah buru-buru menarik lengan Jio untuk segera masuk ke dalam. "Loh, kenapa, Bu?" tanya Jio heran karena Ibu Romlah segera menutup pintu.


"Nggak pa-pa! Eh, Nak Jio mau minum apa? Kenapa baru kesini?" kata Ibu Romlah, tetapi Jio melihat gelagat Ibu Romlah yang tidak beres.


"Iya. Beberapa hari ini kami bahkan nggak berani keluar rumah. Tatapan mata orang-orang disini sudah berbeda. Ini memang salah Ibu. Seharusnya Ibu nggak biarin semua ini terjadi sama Fira," kata Ibu Romlah seraya terisak. Tetesan air mata di pipinya benar-benar membuat Jio sedih.


"Lalu, Safira kemana sekarang?" Jio celingukan mencari keberadaan calon istrinya.


"Fira pergi ke Pak RT buat pamit. Sore ini kami mau pergi, apa Fira nggak bilang sama kamu?" Jio tentu saja terkejut. Sebenarnya dia ingin bertanya perihal tumpukan kardus yang ada di dekat pintu, tetapi urung karena raut wajah Ibu Romlah yang berubah tadi.


"Pindah? Kemana?" tanya Jio masih terheran-heran. Safira tidak mengatakan apa-apa perihal rencana pindah itu.


"Ibu nggak tau. Fira yang inisiatif buat ngajak pergi hari ini. Bahkan mobil yang membawa barang-barang kami ini udah di depan. Kamu pasti liat tadi," jelas Ibu Romlah yang Jio benarkan karena dia memang melihat mobil truk terparkir tadi.


Untungnya tadi Jio segera izin pergi dari kantor untuk mengajak Safira melihat rumah yang dimaksud oleh Erlan. Andai terlambat pasti Jio akan menyesal. Walaupun dia belum tahu bagaimana bentuk rumah pilihan istri bosnya itu, Jio akan langsung membawa Safira juga Ibu Romlah tinggal disana demi keamanan dan kenyamanan mereka.

__ADS_1


"Bu ... kita berang-" Safira tertegun melihat Jio ada di dalam rumah sedang duduk di sisi ibunya. "Mas!" ucap Safira tanpa suara.


"Fira ... kamu nggak bilang sama calon suami kamu kalau kita akan pindah?" tanya Ibu Romlah dan Safira hanya menggeleng pelan.


"Maaf, Mas!" sesal Safira.


"Nggak pa-pa, Sayang. Kebetulan aku mau ajak kalian melihat rumah hadiah dari Nona Diandra. Kalau udah kayak gini kalian berdua langsung tinggal aja disana, gimana?" Tentu saja Safira dan Ibu Romlah terkejut.


"Tap-" Ibu Romlah hendak protes, tetapi Jio segera mengusap bahu Ibu Romlah diiringi gelengan kepala. "Baiklah, terserah aja!" sambung Ibu Romlah.


"Mas, apa nggak berlebihan? Kita belum menikah." Jio hanya tersenyum dan Safira pun pasrah. Sebenarnya Safira akan pergi mencari kontrakan yang disarankan oleh Ferdi. Namun karena lokasinya cukup jauh, jadi Safira tidak sempat melihat lokasi dan memilih untuk langsung pindah tanpa bicara dengan Jio terlebih dahulu.


"Lain kali kamu harus bilang dulu sama aku, Sayang! Untungnya calon suami kamu ini pekak," kata Jio yang sudah berdiri di depan Safira dan mencubit hidungnya.


"Maaf, Mas! Aku udah banyak merepotkan kamu. Jadi aku ambil keputusan sendiri."


"Kamu pikir semua laki-laki nggak suka direpotkan? Aku malah senang kalau aku berguna buat kamu."


"Kamu pikir kamu tepung terigu yang serba guna?" ledek Safira seraya mencubit pinggang Jio. Keduanya pun saling melepas tawa.


"Malah bercanda! Mana kuli yang ngangkut barang-barang kita? Takut kemalaman di jalan." Ibu Romlah akhirnya angkat bicara. Namun tentu saja dia bahagia melihat bagaimana ekspresi wajah anaknya yang berbeda karena beberapa hari terakhir Safira terlihat stres.


"Oh, iya. Fira telepon dulu, Bu!" Safira pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya dan melakukan panggilan pada kuli yang akan membawa barang-barang mereka ke mobil.


........

__ADS_1


__ADS_2