Wanita Kesayangan SERJIO

Wanita Kesayangan SERJIO
WKS. Gosip Hamil


__ADS_3

Keesokan harinya, gosip tentang lamaran Rendra yang gagal padahal sudah banyak bawaan barang mewah, menyebar begitu saja.


Banyak dari para tetangga yang tidak tahu jika Rendra sebenarnya adalah anak orang kaya yang diam-diam hidup sederhana bahkan banyak yang mengatakan Rendra melakukan semua itu dan rela berpenampilan seadanya demi Safira. Namun sayangnya saat akan melamar dengan sungguh-sungguh, Safira di gosipkan hamil.


Tentu saja kampung tempat Safira menjadi heboh. Safira di kenal sangat baik di kampung tersebut dan gosip itu membuat Ibu Romlah masuk rumah sakit karena tekanan darah tinggi.


"Puas ... kamu buat ... ibu ... malu?" ucap ibu Romlah di balik alat bantu pernapasannya. Nafasnya cukup berat, tetapi Ibu Romlah mencoba menguatkan diri.


Cukup sesak memang, tetapi Ibu Romlah tidak bisa menahan rasa kecewanya atas apa yang telah terjadi. Segera dia menurunkan alat bantu pernapasannya yang terpasang menutup hidung dan mulut tersebut. Tatapan sang Ibu membuat Safira semakin takut


"Ibu, tolong tenang! Pikirkan saja kesehatan Ibu. Semuanya nggak bener. Aku nggak hamil, Bu," jawab Safira seraya menggenggam tangan sang Ibu. Hanya saja tangan itu ditolak. Ibu Romlah pun membuang muka.


"Tapi ... kamu sudah tidur dengan laki-laki itu, Safira!" tegas sang Ibu.


"Ibu, kita jangan bahas ini dulu ya? Sebaiknya Ibu tenang dulu. Safira cuma punya Ibu di dunia ini. Jadi tolong ... fokus dengan kesehatan Ibu, hm?" Nasehat sang anak benar-benar tidak di dengar. Ibu Romlah tak acuh pada anaknya sendiri karena belum bisa menerima kenyataan jika anak yang paling dia sayang itu sudah tidak perawan lagi.


Otak dan hatinya sedang bergelut memikirkan berapa kali anaknya melakukan hal menjijikan dengan Serjio, laki-laki yang dicintai Safira, tetapi dibenci olehnya.


"Bu ... Ibu denger Fira?" Safira berusaha menyentuh bahu ibunya, tetapi dengan sebuah gerakan kecil saja, Safira paham jika sang Ibu tidak mau disentuh olehnya.


"Ibu ... Fira mohon, jangan kayak gini! Kita bisa bicarakan semuanya setelah Ibu membaik ya?" bujuk Safira dan akhirnya sang Ibu menoleh kembali menatap Safira.


"Berapa kali kamu melakukan perbuatan menjijikan dengan lelaki brengsekk itu, Safira?" tanya ibu Romlah dengan nada yang begitu dingin. Bahkan pertanyaan itu sangat menusuk jantung Safira.


Safira hanya bisa tertunduk seraya meremass kedua tangannya yang langsung berkeringat dingin.


"Jawab, Safira!" tegas Ibu Romlah sangat tidak sabar ingin mendapatkan jawaban dari anaknya. Walaupun dadanya begitu sesak, sang Ibu tetap ingin tahu bagaimana bisa anak yang dia didik dengan sangat baik itu bisa berbuat hal yang memalukan dan menjijikan dengan menjajahnya tubuhnya pada laki-laki yang dibenci olehnya.

__ADS_1


"Fira ...."


"Oh ... kamu lupa melakukannya berapa kali karena terlalu banyak kali? Apa yang ada dalam kepala kamu itu, Safira?" ucap Ibu Romlah sedikit meninggikan suaranya.


"Ibu ... Safira mohon ... jangan begini dulu! Tekanan darah Ibu bisa semakin naik nanti," mohon Safira.


"Ibu malu, Safira! Ibu malu punya anak yang nggak bisa jaga kehormatannya. Hal yang seharusnya hanya suami kamu yang memiliki itu, bukan pria brengsekk seperti Serjio."


Safira sudah sangat kewalahan menyikapi kemarahan ibunya. Ingin sekali dia pergi meninggalkan sang ibu untuk sebenar saja sampai marahnya mereda, tetapi rasa sayang pada sang Ibu tidak membuat dia tega melakukan hal itu.


Safira pun mencoba merah tangan sang ibu yang tidak terpasang infus hendak mengusap punggung tangannya. Namun seketika itu juga tangan Safira segera di tepis kembali.


"Ibu ... tolong, fokus kesehatan Ibu. Kita bahas nanti aja ya?" Safira pun beranjak dari kursinya dan hendak membantu sang ibu untuk tidur dengan posisi lebih nyaman. Sayangnya Ibu Romlah kembali tak acuh dan membuang muka.


"Jangan sentuh Ibu dengan tubuh kotor mu itu. Ibu nggak sudi punya anak yang membuat malu ibunya sendiri."


"Ibu ...." Safira terisak.


"Pergilah!" usir Ibu Romlah.


"Saya benar-benar tidak tahan mendengar percakapan kalian sejak tadi." Jio tiba-tiba masuk dan berdiri di sisi Safira kemudian merengkuh kedua bahunya.


Wajahnya sangat dingin, tetapi matanya memancarkan amarah yang bergejolak di balik kacamata yang dia pakai. Ibu Romlah langsung menoleh saat Jio masuk tanpa permisi dan malah menunjukkan sebuah kemesraan di hadapannya.


"Heh, punya wajah juga kamu masih berani muncul di hadapanku dengan raut wajah yang sangat memuakkan seperti itu," kata Ibu Romlah dengan nada meremehkan.


"Mas ... jangan katakan apa pun! Aku mohon ... jangan memperburuk suasana dan kesehatan Ibu aku, Mas." Safira menurunkan tangan Jio yang ada di bahunya. Dia bahkan bergeser sedikit untuk memberikan jarak diantara keduanya.

__ADS_1


"Sayang ... aku benar-benar nggak tahan dengan omongan Ibu kamu," sahut Jio tidak terima dengan sikap cuek Safira. Tentu saja dia sangat ingin mengusap kedua pipi yang sejak tadi basah oleh air mata.


Pastilah ucapan yang dilontarkan sang Ibu sangat menyakiti hati Safira sampai dia menangis dan nyaris terisak. Ibunya sendiri menjudge tubuhnya kotor dan seolah Safira itu adalah seorang pelacur.


"Nggak usah drama disini! Sebaiknya kalau kalian ingin bercinta dan sayang-sayangan, pergi dari sini!" usir Ibu Romlah kembali membuang muka.


"Mas, pergilah! Aku akan tetap jaga Ibu disini. Aku udah bilang ... jangan kesini sampai keadaan membaik. Kenapa kamu ngeyel?" Safira masih tertunduk dan tetesan air matanya berjatuhan ke lantai rumah sakit.


Jio merasakan dada yang begitu sesak melihat wanita kesayangan menangis.


"Sayang ... kita bicara sebentar diluar, hm?" bujuk Jio, tetapi secepatnya Safira menggelengkan kepalanya.


"Kalian benar-benar memuakkan! Safira ... cepat bawa keluar laki-laki ini! Ibu nggak sudi lihat wajahnya yang begitu mirip dengan si brengsekk Satya Pratama," ucap Ibu Romlah menatap sinis Jio.


"Sebenarnya ... ibu macam apa anda ini, Nyonya Romlah? Bagaimana bisa nada begitu membenci anak anda sendiri padahal belum tahu keadaan yang sebenarnya. Bagaimana bisa seorang ibu begitu tega menyakiti makanya sampai anaknya terisak?"


Jio benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Apalagi Safira malah menatap Jio dengan tatapan sendu dan beberapa kali menggelengkan kepalanya memberikan isyarat untuk Jio agar tetap diam.


"Ck, Ibu mana juga yang tidak kecewa saat anaknya tidak bisa menjaga diri?" sahut Ibu Romlah kembali menatap Jio.


"Ibu macam anda! Ibu yang tidak tahu terima kasih kar-"


"Mas!"


"Sayang ... Ibu kamu harus tahu kamu menjual kehormatan kamu ke luar negeri demi pengobatannya. Kamu rela jual diri demi dia juga, Sayang. Ibu kamu harus tahu faktanya!"


Kini hati Ibu Romlah lah yang hancur mendengar apa yang dikatakan Jio bahwa kenyataan tidak seperti apa yang dia pikirkan pada anak semata wayangnya tersebut.

__ADS_1


........


__ADS_2