
Beberapa menit berlalu tanpa ada suara dan kata lagi antara Jio juga Safira. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Namun tiba-tiba Jio teringat sesuatu, yaitu tentang dirinya yang telah tidur dengan Safira. Seharusnya itu bisa dijadikan alasan Jio harus segera menikah dengannya, bukan?
"Sayang, apa kamu nggak bilang sama ibu kalau kita udah tidur bersama?" tanya Jio kembali membuat Safira melotot. "Kenapa? Bener kan? Aku mau tanggung jawab loh, jadi kejadian waktu itu bisa kita jadikan alasan kenapa kita harus segera menikah," lanjut Jio lagi dengan senyum kemenangan.
"Mas! Kamu mau buat Ibu kenak serangan jantung? Kalau Ibu tahu kita udah pernah tidur gara-gara aku cari biaya pengobatan ibu, terus ibu kaget, gimana?" Safira pun melipat kedua tangannya di dada lalu membuang muka menatap keluar jendela mobil karena kesal dengan usul Jio.
Kepulangan dari luar negeri saja Safira harus punya banyak alasan untuk berbohong. Untungnya kejadian itu tidak membuat Safira hamil karena dia tidak sedang dalam masa subur. Andai hamil, bisa saja sang Ibu Romlah akan kembali sakit.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan usul dari Jio. Apalagi memang benar Jio akan bertanggung jawab selain jadi alasan karena tidak sabar. Hanya saja Safira benar-benar mengkhawatirkan kondisi Ibunya yang baru bisa pulih total, mengingat biaya yang dikeluarkan oleh Jio tidaklah sedikit.
"Astaga! Ribet banget sih! Ya jangan bilang kita tidur di luar negeri karena kamu lagi cari biaya buat berobat dong! Bilang aja khilaf gitu karena mabuk, bereskan?" usul Jio lagi, tetapi lagi-lagi respon dari Safira tidak menguntungkan Jio.
"Iya ... tapi Ibu akan kecewa, Mas. Ibu akan sangat kecewa karena aku nggak bisa jaga mahkotaku. Apalagi uang berobat dari Ibu itu asalnya dari kamu semua. Pasti ibu bisa tau aku tidur dengan kamu itu untuk biaya pengobatan, Mas. Ish ... kamu tuh bukan nggak sabar pengen nikah, tapi nggak sabar pengen kawin!"
Seharusnya Safira jadi wanita yang beruntung karena mendapatkan Jio yang bertanggung jawab bahkan memberikan banyak uang padanya, tetapi entah kenapa dia takut untuk menceritakan kalau Safira dan Jio telah tidur bersama. Ibu Romlah juga bukan orang tua yang bodoh yang tidak tahu maksud kenapa Safira sampai harus tidur dengan Jio kalau bukan demi biaya pengobatannya.
Safira terdiam. Namun tiba-tiba ada sedikit rasa setuju atas usul Jio agar mereka mendapatkan restu dan segera menikah. Walaupun khawatir, tetap saja Safira harus segera menikah mengingat sikap Jio yang main nyosor terus.
"Mas ... em ... tapi kalau ibu tetap nggak setuju walau tahu kita udah tidur bersama, gimana? Lagian aku juga nggak hamil," kata Safira tiba-tiba dan membuat Jio segera menepikan mobilnya lagi.
__ADS_1
"Makanya ... ayo kita buat anak? Nyicil gitu, biar dapet restu!" jawab Jio dengan wajah berharap. Sepertinya memang tidak ada pilihan lain selain segera menikah karena Jio benar-benar tidak sabar dan pikiran terlalu kotor.
"Ish ... kamu kira anak itu rumah dan mobil bisa dicicil? kenapa kamu mesumm banget sih, Mas?" Safira pun mencubit sebelah pipi Jio. Sebenarnya ingin menamparnya supaya sadar, tetapi sayang sekali wajah tampan dan mulus itu harus di tampar.
"Tuh ... raut wajah kamu itu bikin gemes, Sayang. Mana tahan aku kalau kayak gini. Yuk! Malam ini aja, pasti langsung jadi! Kita lembur. Aku akan minum obat kuat," bujuk Jio hendak mencium Safira.
"Mas!" pekik Safira mendorong wajah Jio, dan lagi-lagi Jio ditolak.
"Sungguh malang sekali nasibku ini," gumam Jio.
"Sabar, Mas! Ini jalanan!" jawab Safira.
"Arghh!" Jio hanya bisa mengacak-acak rambutnya karena kesal tidak berhasil membujuk calon istrinya itu.
...***...
Tiba diujung gang, Safira menghentikan langkah kakinya karena takut ada tetangga yang tahu dia pulang tengah malam dengan seorang pria.
"Sampe sini aja, Mas! Udah deket, kamu buruan pulang aja!" titah Safira, tetapi Jio malah meraih pinggang Safira kemudian mendorong tubuhnya ke dinding gang sempit tersebut.
__ADS_1
"Aku bener-bener bisa gila kalau kita menundanya terlalu lama, Sayang," ucap Jio kemudian mencium singkat bibir Safira.
"Iya, sabar! Aku akan tanya Ibu kenapa nggak merestui hubungan kita. Aku akan paksa Ibu buat cerita, jadi ... sekarang kamu pulang, hm?" Safira juga memberikan kecupan singkat di bibir Jio yang hanya berjarak beberapa centi saja dengan dirinya.
Namun Jio tidak puas kalau hanya sebatas ciuman singkat. Remangnya cahaya lampu dan suasana yang begitu sepi karena mereka berdua ada di antara tembok tinggi yang hanya bisa dilalui dua orang saja, Jio pun menyesapp dengan lembut bibir manis Safira. Kedua tangannya menekan pinggang Safira hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka.
Hawa dingin yang meruak tubuh mereka karena baru saja turun hujan, tiba-tiba menjadi hangat. Rasa aneh mulai menjalar dan ciuman itu semakin menuntut untuk meminta lebih. Jio menjulurkan lidahnya untuk menikmati setiap inci rongga mulut wanita yang hampir membuatnya gila.
Beberapa detik kemudian, ada setitik cahaya yang menyorot mengarah tepat ke wajah Safira dan Jio yang sedang menyatukan bibir mereka.
"Hei! Sedang apa kalian? Mesum ya?" teriak seorang bapak-bapak. Safira langsung mendorong kuat tubuh Jio hingga tubuh itu membentur dinding.
"Loh, Neng Fira?" tegur satu bapak lainnya yang kembali menyorotkan lampu senter ke wajah Safira. Setelah itu bergantian ke wajah Jio. Safira sangat gugup. "Laki-laki itu ... mau melecehkan Neng Fira ya?" seru bapak tersebut hendak melayangkan tangan pada Jio.
Tentu saja Safira terkejut karena mereka salah paham. Walaupun sebenarnya sikap mereka juga tidak bisa dibenarkan karena berciuman di tempat yang minim cahaya. Apalagi mereka berdua belum resmi menjadi pasangan suami istri. Safira benar-benar bingung.
"Tunggu, Pak Kadir! Dia ... dia calon suami, Fira. Kami bukan ... itu, kami nggak melakukan hal yang kalian pikirkan," serga Safira dan sedikit malu.
"Astaga! Jadi kalian benar-benar mesum ditempat seperti ini, hah!" seru satu bapak lainnya. Safira semakin gugup harus menjawab apa. Namanya cukup baik dilingkungan sekitar. Safira takut kabar ini bisa membuat malu Ibu Romlah dan mengganggu kesehatannya.
__ADS_1
Secepatnya dia memikirkan cara agar kesalahan pahaman itu segera berakhir. Namun tangannya malah tremor karena takut jika keributan itu mengundang warga lain untuk datang dan suasa menjadi tambah rumit.
........