
Di satu ruangan yang hanya berukuran tiga kali tiga meter itu, semua orang terdiam setelah apa yang dikatakan Jio. Kata 'wanita cacat' benar-benar membuat semua orang terkejut.
Namun tidak dengan Ibu Romlah yang langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian melayangkan satu tangan untuk mendarat di sebelah pipi Jio. Tamparan itu sungguh nyeri dan berdenyut, tetapi Jio tidak menghiraukan rasa sakit tersebut.
Jio benar-benar tidak tahu tindakkan apa yang bisa menghentikan pertunangan Rendra dengan Safira jika dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Walaupun Jio tahu jika Rendra mencintai Safira dengan tulus.
"Laki-laki bajingann! Sifatmu memang sama persis dengan Satya Pratama, Serjio! Berani-beraninya kamu menodai anak saya, hah! Berani-beraninya kamu menunjukkan diri kamu setelah menodai anak saya? Dasar bajingann!"
Lagi-lagi Ibu Romlah berhasil mendaratkan sebuah tamparan di pipi Jio. Amarah Ibu Romlah tentu saja memuncak karena sang anak sudah tidak perawan dan keperawanan itu diambil oleh orang yang dia benci.
Jio langsung terpaku tak berdaya saat Ibu Romlah menyebut nama Ayahnya. Bagaimana bisa Ibu Romlah tahu nama Ayah Jio? Bisa jadi restu yang tidak dia dapatkan itu ada hubungannya dengan sang ayah, bukan?
"Astaga ... Rendra! Bisa-bisanya kamu buat malu keluarga ternama kita dengan memilih wanita cacat seperti itu? Papa setuju-setuju saja dia tidak punya ayah karena meninggal, tapi Papa nggak sudi punya menantu yang nggak bisa jaga kehormatannya. Sekarang juga kita pergi! Pertunangan ini batal?" seru Tuan Aji yang terlihat sangat marah.
Semua orang disana segera berdiri dan siap untuk melangkah keluar rumah. Apa yang dikatakan Jio memang cukup menyakitkan, apalagi bagi Safira sendiri karena semua orang jadi tahu kalau dia sebenarnya adalah wanita cacat. Wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya. Namun Safira tidak merasa sakit hati sama sekali karena Jio mengatakan hal yang sebenarnya. Dia hanya khawatir dengan keadaan sang ibu.
"Tuan Aji, Tuan, tunggu! Kita bisa ... maksud Rendra ... kamu cinta kan dengan Safira? Kamu bisa kan terima dia apa adanya?" mohon Ibu Romlah layaknya seorang pengemis.
"Bu!" seru Safira tak membuat sang Ibu melepaskan tangannya dari lengan Rendra karena sedang menghadang kepergian laki-laki yang akan melamar sang anak.
"Mohon maaf, Ibu Romlah! Tapi saya sebagai Papanya Rendra, saya tidak akan mau menerima menantu seperti anak anda itu. Bagaimana dengan cucu saya nanti jika mewarisi sifat buruk Ibunya? Kami permisi dulu!"
Tuan Aji tidak lagi menahan langkah kakinya dan segera menarik Rendra untuk pergi dari rumah Safira. Ayu juga terlihat sangat kesal karena usahanya untuk mendapatkan Jio akan semakin sulit.
__ADS_1
"Tuan! Tunggu, Tuan!" teriakan Ibu Romlah sama sekali tidak di gubris oleh Tuan Aji maupun Rendra. Walaupun Rendra tidak masalah dengan apa yang terjadi pada Safira karena dia sudah tahu sejak awal dari Jio, tetapi Rendra juga tidak bisa menentang kemauan sang papa.
"Bu, cukup! Safira udah bilangkan kalau Safira han-"
"Diam kamu, Fira!"
"Bu ... maafkan saya!" Jio mencoba meminta maaf.
"Puas kamu, hah? Puas kamu buat malu keluarga saya? Setelah Ayah kamu buat saya malu, sekarang kamu anaknya buat saya malu, hah? Saya nggak akan sudi terima kamu sebagai menantu saya! Pergi kamu dari sini!" teriak Ibu Romlah tanpa jeda bahkan tangannya kembali melayang di udara.
"Ibu ... tahan emosi, Ibu. Pikirkan kesehatan Ibu!" kata Safira mencoba menahan tangan sang Ibu yang hendak menampar Jio kembali.
Ibu Romlah berusaha mendorong tubuh Jio, tetapi kekuatannya tidak mampu untuk melakukan itu karena rasa kecewa dan amarah menyerang. Alih-alih mengusir Jio, Ibu Romlah memilih untuk masuk ke dalam kamar.
Bukannya kecewa, Safira justru memeluk Jio dan menepuk bahunya untuk memberikan ketenangan. Safira tidak menyesali apa yang dikatakan Jio karena dia juga tidak mau menerima dengan terpaksa teman baiknya untuk dijadikan suami.
"Nggak apa-apa, Mas! Nggak pa-pa. Aku nggak marah sama kamu. Aku tahu itu cara kamu satu-satunya untuk mempertahankan aku," ucap Safira masih memeluk Jio.
Segera Jio membalas pelukan Safira bahkan dengan napas yang tidak teratur. Jio sangat ingin marah, apalagi saat dirinya disangkut pautkan dengan sang Ayah.
"Tapi Ibu kamu kecewa, Sayang. Dia ... dia semakin benci sama aku. Aku ... aku harus gimana?" tanya Jio semakin mengeratkan pelukannya. Jio benar-benar bingung dengan masa lalu apa yang terjadi pada Ayah dan Ibu Romlah.
"Sudah, nggak pa-pa. Biar aku yang bicara dengan Ibu nanti. Kamu bisa pulang dulu, Mas." Jio langsung menggelengkan kepalanya. Tentu saja dia tidak mau pulang dengan keadaan kacau seperti itu. Jio harus mendapatkan penjelasan atas apa yang dikatakan oleh Ibu Romlah terlebih dahulu.
__ADS_1
Cukup lama keduanya berpelukan. Bahkan Jio enggan untuk melepaskan pelukan tersebut. Hanya saja ponsel milik Jio terus bergetar di dalam saku celananya dan membuat Jio semakin kesal. Sayang sekali dia tidak bisa mengumpat ataupun marah saat ini dan akhirnya mau melepaskan pelukannya.
"Sepertinya akan butuh waktu untuk bicara dengan Ibu, Mas. Jadi aku rasa kamu pulang aja dulu. Kamu juga pasti banyak kerjaan. Aku bener-bener nggak pa-pa."
Raut wajah Safira memang tidak menunjukkan rasa marah ataupun kecewa. Jio tahu jika Safira juga sangat mencintainya. Namun dia masih menyesal karena Ibu Romlah semakin membenci dirinya.
"Mas ... malah ngelamun!" Safira mengusap sebelah pipi Jio dengan begitu lembut.
"Sayang ... bagaimana bisa aku menerima takdir ini? Aku benar-benar nggak akan sanggup sampai kamu jadi milik orang lain. Andai aku nggak tiba di waktu yang tepat, kamu ... kamu pasti menerimanya, bukan? Aku ... maafkan aku yang membuat kamu malu dan mengatai kamu wanita cacat. Bagiku kamu sangat sempurna di mataku, Sayang."
"Iya, aku paham. Yang buat aku cacat juga kamu, Mas. Lagian kamu juga bertanggung jawab penuh dan semua ini juga bukan salah kamu. Aku yang ingin melak-"
"Jangan ingat-ingat hal itu lagi karena aku nggak akan bisa bayangin andai saat itu kamu melakukannya bukan denganku." Safira tersenyum kemudian berjinjit untuk memberikan ciuman singkat di bibir Jio.
"Pulanglah dulu. Tunggu keadaan membaik, dan aku akan menghubungi kamu, Mas. Hape aku masih disita sama Ibu. Jadi ... em, nanti pasti aku kabarin, hm?"
Jio mengangguk paham. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa di rumah itu. Apalagi Ibu Romlah ada di dalam kamar. Jio juga khawatir jika kondisi kesehatannya akan menurun.
"Baiklah, aku akan menuruti istriku yang cantik ini. Aku akan pulang. Jangan terlalu lama nggak kasih kabar, hm?"
"Iya, nanti aku akan coba bujuk ibu, Mas. Kamu hati-hati ya? Aku nggak bisa anter ke depan." Jio hanya mengusap ujung kepala Safira kemudian pergi dari rumah itu.
........
__ADS_1