
"Ibu ... kok lama amat sih?" tanya Safira begitu sang Ibu masuk ke dalam rumah baru mereka. Sedangkan sang Ibu terlihat kelelahan. "Ibu kenapa? Capek?" tanya Safira lagi seraya menuntun Ibu Romlah untuk segera duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Jio memberikan petunjuk pada orang-orang yang membantu menurunkan barang dari mobil.
"Iya, ternyata jalanan ibu kota kayak gitu ya, Fir. Macet banget sampe Ibu capek. Polisi dan ah, Ibu bakal betah nggak ya disini? Padahal rumahnya bagus banget, tapi kalau inget sama jalannya ... Ibu kayak males deh," keluh Ibu Romlah dengan helaan napas begitu berat.
"Polisi?" tanya Safira mengulang ucapan sang Ibu.
"Maksudnya polusi, Fir. Salah ngomong. Tapi bener-bener ibu kota beda sekali sekarang. Jaman kamu masih bayi, belum serame ini jalannya. Tapi sekarang, astaga ... Ibu nggak bayangin Jio kalau berangkat sama pulang kerja gimana," kata Ibu Romlah masih penuh dengan keluhan.
"Ibu, itu kan jalan utama, jadi ya pasti macet karena ini hari libur juga. Kalau gitu ... Ibu tetep tinggal disana aja tapi Safira disini sama saya, gimana?" ledek Jio membuat Ibu Romlah memberikan lirikan tajam.
"Mas!" lirih Safira, tetapi Jio terkekeh. Tentu saja Safira paham dengan otak kotor calon suaminya tersebut.
"Jadi kamu usir Ibu?" tanya ibu Romlah dengan nada judes.
"Haha ... bercanda, Ibu. Sekarang sebaiknya ibu langsung istirahat aja. Ibu bisa mandi air hangat juga biar ibu rileks dan segar plus tidur lelap juga lupa sama kemacetan tadi," rayu Jio seraya merengkuh bahu Ibu Romlah dan menuntunnya ke kamar.
"Mas," panggil Safira, tetapi dengan nada berbisik. Jio pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan mengantarkan sang calon ibu mertua ke kamarnya.
"Wah ... ini kamar Ibu, Nak Jio?" Begitu pintu dibuka, tentu saja Ibu Romlah kagum dengan kamar yang tiga kali lipat lebih luas dari kamar sebelumnya.
"Iya Ibu, ini kamar Ibu sendirian. Nanti akan ada yang bantu ibu dan ngajarin ibu gimana caranya pakai air hangat," jelas Jio membuat Ibu Romlah mengangkat satu alisnya.
"Safira tidur sama kamu?" tanya ibu Romlah bak anak yang begitu polos. Namun untungnya Jio tidak terbawa oleh pertanyaan yang menjebak itu.
"Malam ini yang tidur sendiri-sendiri dulu, Ibu. Nanti kalau udah menikah, baru deh kita tidur berdua. Safira tidur di kamar utama, sedangkan saya akan tidur di kamar tamu," jelas Jio membuat Ibu Romlah dan Safira menghela napas lega. Padahal Dalma hati Jio ingin sekali menjerit dan menyalahkan dirinya sendiri kenapa Harau berkata demikian.
__ADS_1
"Baiklah, Safira juga pasti capek. Kamu bisa antar dia ke kamarnya buat istirahat." Jio tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Dalam hati bahkan bersorak gembira karena punya banyak waktu berduaan dengan Safira.
Berbeda dengan Safira yang tahu bagaimana raut wajah Jio berubah, dia langsung melangkah mendekati sang Ibu dan memberikan jawaban yang membuat Jio seketika seperti putus asa.
"Fira mau tidur sama Ibu dulu, deh. Safira kan mau menikmati masa-masa jadi anak dulu sebelum jadi istri," kata Safira merayu Ibu Romlah dan sangat berharap sang Ibu mau untuk tidur bersama dengannya.
"Sayang ... Ibu kan mau me time. Jangan gangguan lah," bujuk Jio.
"Iya, Fira. Ibu mau rileksasi sendiri dulu. Ibu nggak mau diganggu dulu. Kamu nggak tau kemacetan tadi di jalan? Udah sana kamu keluar dulu sama Jio!" usir Ibu Romlah sambil mendorong tubuh sang anak agar segera keluar. Jio kembali bersorak dalam hati.
"Tapi, Bu ... Fir-"
"Udah, Sayang! Ayo aku antar ke kamar, jangan ganggu Ibu ya," kata Jio yang langsung menarik tubuh Safira dan segera menutup pintu kamar Ibu Romlah rapat-rapat. "Berhasil menyingkirkan penghalang, yes!" gumam Jio yang masih bisa di dengar jelas oleh Safira.
"Mas!" seru Safira yang langsung menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Aku nggak mau! Sana kamu ke-" belum Safira selesai, Jio segera membungkam mulut Safira dengan bibirnya. Kedua bibir yang menyatu itu tidak ada pergerakan selama beberapa detik hingga akhirnya Jio yang tidak tahan untuk menyesal bibir mansi sang calon istri.
"Jangan tegang, Sayang. Aku akan buat kamu senyaman mungkin," bisik Jio setelah menyudahi ciuman lalu membopong tubuh Safira menuju kamar utama.
"Mas, jangan begitulah. Kita nikah dulu, baru akan akan menuruti hasrat kamu sebanyak kamu minta setiap harinya," bujuk Safira hanya mendapatkan respon senyuman dan sebuah kecupan singkat di bibir. "Dih ... kamu mesumm sekali sih, Mas!" seru Safira yang mulai deg-degan karena pintu kamar utama tujuan mereka telah terbuka dan Jio menutup kembali pintu tersebut menggunakan kaki.
"Aku udah bilang kan kalau kamu nggak perlu segugup ini? Kamu harus rileks sayang biar tidurnya nanti nyenyak dan bangun dalam keadaan bugar,"
"Tapi, Mas ...."
__ADS_1
"Hm, nggak ada tapi-tapi pokoknya. Malam ini kamu harus nurut. Nggak boleh nolak, nggak boleh protes atau kamu harus terjaga sepanjang malam menemani aku."
Pada akhirnya Safira pun hanya pasrah saat tubuhnya telah dibaringkan oleh Jio di atas tempat tidur.
"Tunggu bentar, aku mau lepas baju dulu," kata Jio berbisik membuat Safira bahkan sampai merinding.
Jio benar-benar melepaskan jas yang dia pakai juga kemejanya lalu meletakkan di kursi di sisi tempat tidur dan kembali mendekati Safira. Roti sobek di dada Jio memang sangat menggoda jika itu wanita yang sudah dilanda gelora bercinta.
"Kamu mau buka baju sendiri atau ... aku yang lepas, hm?" tanya Jio dengan suara yang begitu lembut dan hampir membius Safira.
"Mas ... ak-aku," Safira tergugup dengan memegang keras baju kemeja yang dia pakai.
"Kenapa sih, Sayang? Kenapa kamu tegang gitu? Aku kan cuma mau buat kamu rileks aja dengan mandi air hangat kayak Ibu tadi. Setelah itu kamu bisa tidur dengan nyaman."
Safira langsung bengong. Jio malah terkekeh melihat raut wajah Safira yang tiba-tiba tersipu malu. Jio sebenarnya sengaja menggoda Safira dengan mengatakan hal-hal yang berbau hubungan badan.
"Ja-jadi ... jadi kamu nggak itu, Mas?" tanya Safira gugup dan malah menyesali pertanyaan yang terlontar dari mulutnya itu.
"Oh, jadi kamu mikir apa, Sayang? Apa kamu mikir kita akan melanjutkan hal yang tertunda tadi, hm?"
"Nggak, nggak!" jawab Safira dengan cepat, tetapi masih tersipu.
"Baiklah, aku akan menuruti pikiran kotor kamu itu, Sayang." Jio segera menindih tubuh Safira.
"Mas," lirih Safira yang kembali gugup. Namun malam itu Jio hanya mencium singkat bibir Safira dan membiarkan calon istrinya itu berendam air hangat dengan parfum yang benar-benar membuat Safira rileks.
__ADS_1
........