Wanita Kesayangan SERJIO

Wanita Kesayangan SERJIO
WKS. Kebahagiaan 2


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir empat jam lamanya, Serjio juga Safira tiba di tempat tujuan. Sedangkan Ibu Romlah yang ikut dengan mobil truk karena tidak mau mengganggu keromantisan Jio dan Fira masih ada di belakang. Mungkin butuh beberapa menit lagi.


Jio menghentikan mobilnya tepat di rumah no 7 sesuai dengan arahan map. Safira menatap Jio dengan mata penuh tanda tanya. Walaupun Jio sudah menjelaskan beberapa kali tentang hadiah rumah itu, tetapi Safira masih merasa tidak enak hati. Apalagi rumah yang akan mereka tempati ada dikawasan elit. Safira benar-benar merasa tidak pantas karena dia bukan dari golongan atas.


"Sayang, udah dong! Tatap calon suami kamu ini dengan penuh cinta, bukan begitu, hm?" bujuk Jio dan Safira hanya bisa memutar bola matanya kemudian membuka pintu mobil dan turun. Jio pun bergegas turun.


"Kayaknya mewah dan luas banget, Mas. Pasti Nona Diandra tadi cape ngatur semua isi rumah ini," kata Safira menatap rumah yang ada di depannya.


Memang beberapa jam sebelumnya, Erlan juga Diandra datang ke rumah tersebut untuk mengisi semua perlengkapan rumah agar Safira tidak repot dan langsung tinggal. Safira semakin tidak enak hati atas kebaikan Erlan dan Diandra. Apalagi mereka punya Ezra yang masih bayi.


"Nggak pa-pa. Namanya juga dikasih, ya terima aja biar yang ngasih seneng. Lagian ini termasuk minimalis kok. Nggak mewah-mewah banget. Kita masuk duluan yuk sambil nunggu Ibu," ajak Jio seraya merangkul bahu Safira yang hanya pasrah saja.


Jio pun menekan pin di tombol pintu dan Safira juga harus menghafal nomor pin tersebut. Setelah pintu terbuka, bau khas aroma terapi langsung menusuk indera penciuman Safira dan Jio. Bukan bau yang tidak enak, tetapi justru bau itu membuat Safira tenang.


"Ayo, Sayang!" Jio tersenyum dan Safira membalas senyum itu.



Jio dan Safira pun masuk ke dalam rumah baru mereka. Semua barang di dalam benar-benar sudah lengkap. Mulai dari televisi, lemari, sofa dan semua yang ada di dapur bahkan bahan pokok yang ada di kulkas juga sudah tertata rapi. Diandra tidak melewatkan satu hal kecil sekalipun karena dia sendiri ibu rumah tangga, jadi pasti tahu apa yang dibutuhkan nantinya.


"Nona Diandra baik banget sih, Mas. Repot-repot nyiapin semua ini begitu tau aku mau pindah. Padahal dia ada Tuan muda Ezra yang masih bayi," ucap Safira masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dapatkan.


"Nggak pa-pa. Ini sebanding sama pekerjaan aku, Sayang." Safira malah memicing menatap Jio. "Loh, kenapa? Serjio ini terlalu mahal otaknya, jadi rumah ini hadiah yang sebanding dengan perkejaan yang aku lakukan, Sayang. Rumah ini juga nggak mahal kok." Jio menyombongkan diri.


"Dasar kamu! Orang aku lagi terharu kamu malah menyombongkan diri." Jio hanya tersenyum dengan deretan gigi putihnya.


"Mau liat kamar kita? Atau mau coba kasurnya sekalian? Udah lama kita nggak ...."

__ADS_1


"Mas! Kamu itu pikirannya kotor terus sih!" seru Safira dengan nada kesal. Namun Jio malah tertawa terbahak-bahak.


"Gimana lagi, kan itu kebutuhan. Baiklah kalau kamu nggak mau, kita ke atap yuk! Katanya Nona Diandra juga buat sesuatu yang indah di atap rumah." Jio pun menggenggam tangan Safira dan mereka berdua beriringan menaiki anak tangga menuju atap rumah.


"Astaga ... Mas! Ini terlihat nyaman banget buat me time." Safira langsung takjub dengan apa yang dia lihat. Hanya atap, tetapi nuansa yang Safira dapatkan lebih dari itu.



"Syukurlah kalau kamu suka. Aku harus buat laporan soalnya," kata Jio dan Safira langsung mencubit pinggang Jio.


"Mulai bikin emosi?" keluhnya.


"Nggak kok! Aku maunya ... bikin anak," bisik Jio seraya menarik pinggang Safira.


"Mas!" seru Safira mencoba melepaskan diri dari dekapan Jio.


"Ngapain terima kasih sama kamu, Mas? Harusnya aku terima kasih sama Tuan Erlan dan Nona Diandra. Bukan kamu!" sahut Safira, tetapi terdengar meledek bagi Jio.


"Baiklah. Kalau begitu sebagai tanda cinta kamu ke aku. Kali ini kamu nggak boleh nolak!" ucap Jio yang kini sudah tidak berjarak lagi dengan Safira.


"Emang siapa yang bilang aku cinta sama kamu, Serjio!" kata Safira berbisik di telinga Jio. Hal itu membuat Jio geli dan meregangkan tangan yang memeluk Safira. Akhirnya Safira bisa lolos dari dekapan Jio dan berlari menjauh dengan tawa bahagia.


"Aku akan mendapatkan mu, Safira!" seru Jio dengan raut wajah yang sudah bisa ditebak oleh Safira bahwa Jio sedang menginginkan dirinya.


"Nggak!" Safira masih berusaha berlari menghindar dari Jio yang terus mencoba menangkapnya.


Pada akhirnya Jio berhasil menjatuhkan tubuh Safira diatas pangkuannya dan Jio duduk di kursi di dekat ayunan.

__ADS_1


"Aku bilang apa? Kamu nggak akan bisa lari, Sayang," ucap Jio dengan nada yang sudah berbeda jauh dari sebelumnya.


"Hanya cium, nggak ada adegan lain," ancam Safira dengan nada menekan. Namun Jio malah beranggapan lain.


"Mana bisa?" protes Jio.


"Sebentar lagi Ibu pasti datang, Mas."


"Baiklah." Jio pun tidak menyia-nyiakan waktunya dan langsung meraih tengkuk Safira kemudian keduanya pun saling menyesap satu sama lain.


Hasrat Jio pun terbakar saat Safira benar-benar bermain lidah dengan sangat lihai bahkan mengeluarkan suara desahann yang semakin menuntut Jio untuk melakukan hal lainnya.


"Ah, Sayang ...." Jio menyudahi ciuman itu dan menatap Safira dengan raut wajah memohon.


"Mas, jangan tunjukin raut wajah begitu. Kita harus turun menyambut Ibu. Kamu juga harus jaga nama baik kamu sebagai calon menantu idaman, Mas. Apalagi kita baru aja dapet restu."


"Sayang ... aku nggak tahan. Bentar aja disini nggak pa-pa. Pasti masih beberapa menit lagi karena jalur truk berbeda jauh tadi dengan kita. Ibu juga pasti paham." Lagi-lagi Jio memohon.


"Nggak!" Safira menolak. Sayangnya Jio malah menekan bagian dadanya hingga membuat Safira mendesahh. "Ah ... Mas! Jangan begini!" Namun Jio tidak menghentikan aktivitas yang semakin membangkitkan gairah tersebut. Segera Jio melahap kembali bibir manis Safira seraya memberikan remasan di dada Safira.


"Emh, ah ...." Jio pun menikmati momen yang sudah lama tidak mereka lakukan, bahkan dengan semangat membara.


"Ah, Mas! Udah!" Safira masih bisa sadarkan diri dari buaian Jio. Segera Safira mendorong kepala Jio dan Safira pun beranjak dari pangkuan Jio. "Ada suara mobil, kita harus turun." Safira segera merapikan rambut juga pakaiannya dan berlalu pergi tanpa menunggu Jio terlebih dahulu yang terlihat kecewa.


"Astaga ... kamu harus sabar!" gumam Jio dan dia pun beranjak turun.


........

__ADS_1


__ADS_2