
Safira melepaskan pelukannya setelah merasa sang Ibu cukup tenang. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan tentang pertemuannya dengan Jio yang mana Jio adalah kakak tingkat Safira saat di Jakarta dan ingin langsung menikah dengannya.
"Benarkah? Kamu harus segera bawa dia kesini," respon Ibu Romlah begitu senang. Apalagi saat tahu jika Jio memberikan banyak uang pada Safira untuk pengobatan sang Ibu.
Safira lega dengan respon Ibu Romlah dan tidak banyak bertanya apa pun terutama menyangkut keperawanannya. Safira hanya menceritakan bahwa mereka tidak sengaja bertemu saat Safira mencari pekerjaan dan akhirnya Safira menceritakan keadaan Ibu Romlah.
Namun Jio tidak bisa menemui Ibunya tersebut karena ada musibah dan masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Sang Ibu mengerti dan menurut untuk melakukan pengobatan di rumah sakit paling bagus di kota Bandung itu.
Keesokan paginya, Safira dan Ibu Romlah sibuk menyiapkan sarapan karena berjanji pada Rendra juga Ferdi untuk sarapan bersama. Tidak banyak yang mereka masak, hanya nasi uduk dan orak-arik tempe dengan sambal goreng saja. Ditambah kerupuk udang beserta kopi dan teh hangat di tata rapi di meja makan.
"Ibu ... inget ya, jangan terlalu kasih harapan ke mereka nanti! Ibu udah tau kalau Fira udah punya calon suami, jadi jangan bilang macam-macam sama Kak Rendra maupun Bang Ferdi. Sejak dulu Fira nggak suka. Malah mendingan Aa Asep yang rumahnya deket Pak Lurah itu. Dia nggak carper kayak mereka," ujar Safira sedikit mengancam Ibunya.
Ibu Romlah hanya mengangguk seraya menahan tawa karena memang anaknya itu sudah dewasa. Usia 26 tahun bagi wanita tentu sudah sangat pantas untuk menikah.
Beberapa saat setelah makanan siap, Rendra juga Ferdi datang secara bersamaan. Bahkan keduanya kompak memberikan kantong plastik yang tidak tahu isinya apa.
Ibu Romlah pun menerima kantong plastik pemberian Rendra dan Ferdi. Keduanya disambut hangat oleh Ibu Romlah, tetapi kali ini Ibu Romlah tidak terlalu ramah karena memang tidak enak jika disangka memberikan restu dan lampu hijau untuk Rendra juga Ferdi.
"Terima kasih ya," ucap Ibu Romlah seraya menenteng kedua kantong plastik tersebut.
"Terima kasih juga, Buk, udah di udang sarapan." Ferdi langsung duduk di kursi di dekat Safira.
"Terima kasih, Tante, udah repot-repot masak, keliatannya enak banget ini," kata Rendra yang juga duduk di sisi lain di dekat Safira.
__ADS_1
Tidak ada respon sama sekali dari Safira karena memang malas pada mereka yang begitu carper.
"Silahkan dinikmati sarapannya, Ibu mau ke belakang dulu mau beres-beres," kata Ibu Romlah.
"Loh, Tante nggak ikut sarapan bareng kita?" tanya Rendra sok akrab.
"Iya, Buk. Bareng-bareng kan lebih enak," sahut Ferdi.
"Nggak, tadi udah sarapan duluan." Ibu Romlah pun pergi.
Tidak ada yang berani bicara lagi setelah kepergian Ibu Romlah. Baik Rendra maupun Ferdi hanya fokus dengan sarapan mereka tanpa berani menatap Safira yang juga tidak bersuara sama sekali. Hanya suara peraduan sendok garpu saja yang terdengar di meja makan tersebut.
"Kak Rendra dan Bang Ferdi, kalau mau nambah jangan sungkan. Nasinya masih banyak. Dan lagi ... Fira harap ini makan bersama kita untuk yang pertama dan terakhir ya karena Fira udah punya calon suami dan akan menikah dalam waktu dekat. Jadi ... nggak enak kalau kalian makan disini karena kita nggak ada ikatan saudara," jelas Safira seketika langsung membuat Rendra dan Ferdi tersedak.
"Apa? Calon suami?" kompak Rendra dan Ferdi terkejut setelah menenggak habis minum mereka.
"Hm. Jadi mulai sekarang kalian jangan carper lagi sama Ibu aku karena aku udah mantap dengan pilihanku." Rendra dan Ferdi saling menatap kemudian beralih menatap Safira kembali setelah mendapati kenyataan pahit tersebut.
"Tapi ... Safira, siapa laki-laki itu? Bukan Asep kan?" tanya Rendra yang memang sudah tahu jika Asep yang seumuran dengan Safira itu juga menyukainya. Bahkan banyak yang bilang kalau mereka cocok karena saat Safira bermain dengan anak-anak di lapangan, Asep juga terkadang ikut main disana.
Walaupun Asep tidak banyak bicara maupun carper, tetapi sikapnya jelas menunjukkan kalau dia menyukai Safira. Apalagi Asep orang yang berpendidikan karena baru saja wisuda S2 di Jawa Timur dan sedang menjadi seorang dosen di universitas ternama disana.
"Haduh ... Kak, ya bukanlah. Kalian nggak kenal. Aku mau kebelakang dulu ya? Silahkan kalau mau nambah, jangan sungkan pokoknya. Anggap aja ini sebagai tanda perpisahan kita," kata Safira seraya beranjak pergi karena tidak mau mendapatkan banyak pertanyaan lagi.
__ADS_1
Rendra dan Ferdi tiba lemas lalu dengan kompaknya menyandarkan tubuh mereka pada kursi yang didudukinya. Pupus sudah harapan kedua laki-laki tersebut. Tanpa basa-basi lagi, mereka pun pergi begitu saja dari rumah Safira dengan langkah kaki gontai.
...***...
Safira sudah mendaftar sang Ibu disebuah rumah sakit terbaik di kotanya dan akan segera mendapatkan perawatan yang terbaik juga disana.
Beberapa hari sibuk di rumah sakit, membuat Safira izin untuk masuk kerja karena akan fokus pada kesehatan Ibunya.
Awalnya Rendra dan Ferdi hendak memberikan bantuan untuk membantu menjaga dan merawat ibunya di rumah sakit, tetapi ditolak begitu saja oleh Safira dengan alasan tidak mau merepotkan dan mengganggu pekerjaan mereka.
Walaupun bersikeras, Rendra dan Ferdi tidak bisa menemani dan hanya bisa sekedar menjenguk saja. Mereka masih berusaha mencari perhatian Safira karena bagi mereka sebelum janur kuning melengkung, Safira masih bisa didapatkan. Apalagi yang menikah saja bisa cerai, jadi mereka kembali semangat demi memperjuangkan wanita pujaannya.
"Astaga ... Fira bisa gila ini, Buk," keluh Safira sesaat setelah Rendra dan Ferdi pulang. Bahkan ada Asep juga yang ikut menjenguk keadaan Ibu Romlah di rumah sakit.
"Memang Nak Jio masih sibuk? Kok belum kesini juga?" tanya Ibu Romlah tentu saja penasaran dengan sosok yang dikenalkan anaknya itu.
"Iya, Buk. Mas Jio masih sibuk banget. Tapi Fira malah bisa fokus sama kesehatan Ibu. Kalau ada dia, Fira suka salah tingkah. Untungnya Bos juga kasih izin Fira beberapa hari kedepan. Ya ... walaupun banyak turis yang nanyain Fira." Ibu Romlah pun terkekeh mendengar ucapan Safira yang terlihat sangat bahagia dan mendapati sorot mata yang berbeda saat menyebut nama Jio.
"Syukurlah. Ibu nggak sabar pengen ketemu sama calon suami kamu yang katamu bikin salah tingkah. Ibu juga akan banyak mengucap terima kasih pada Nak Jio nanti karena dia banyak membantu keluarga kita."
"Iya, Buk. Fira benar-benar beruntung bisa bertemu dengannya. Apalagi saat dia bilang Fira itu cinta pertama yang dia cari selama bertahun-tahun. Sweet banget kan dia, Buk!" Ibu Romlah hanya mengangguk seraya tersenyum bahagia.
........
__ADS_1