Wanita Kesayangan SERJIO

Wanita Kesayangan SERJIO
WKS. Saingan Jio


__ADS_3

Jio tidak benar-benar langsung pergi begitu saja setelah Safira masuk kembali ke dalam rumah. Ditatapnya pintu rumah itu cukup lama hingga akhirnya dia membuang napas dengan penuh kekecewaan.


Langkah kaki itu perlahan pergi menjauh hingga melewati gang sempit yang meninggalkan kenangan menggelikan beberapa menit lalu. Jio pun tersenyum nanar. Hatinya sulit menerima jika ibu Safira benar-benar tidak merestui mereka.


"Siapa tau lo butuh." Sekilas Jio ingat kata-kata Erlan yang memasukkan rokok beserta pemantiknya di saku celana Jio.


Dengan pikiran yang tidak karuan, Jio pun menyandarkan tubuhnya pada mobil kemudian merogoh saku celananya dan menyalakan rokok. Namun baru beberapa hisap dia menikmati nikotin tersebut, tiba-tiba seorang pria sebaya dengannya berdiri dengan raut wajah dingin.


"Lo ... jangan pernah datang kesini lagi! Safira ... milik gue! Gue cinta mati sama dia. Nggak ada yang boleh memilikinya selain gue, Rendra Kresna Aji," ujar laki-laki di depan Jio yang tak lain adalah Rendra.


Jio hanya menyunggingkan senyum menatap laki-laki yang namanya sempat di sebut oleh Ibu Romlah. Setelah itu dia tertunduk menjatuhkan puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Bukan hanya sekedar diinjak, tetapi Jio menekan kakinya begitu kuat sebab rasanya ingin sekali memberikan bogeman pada Rendra.


Akhirnya Jio menghela napas panjang yang cukup membuat Jio sedikit sabar.


"Apa menurut lo, Safira juga berpikir hal yang sama?" tanya Jio kembali menyandarkan tubuhnya di mobil seraya memasukkan kedua tangannya pada saku celana. Sudut bibirnya kembali menunjukkan sebuah senyuman. Lebih tepatnya sebuah kekesalan yang terpendam.


"Kami sudah bersama selama bertahun-tahun. Kami berangkat dan bekerja bersama selama itu. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Yang paling penting ... gue dapet restu dari Ibu Romlah," sahut Rendra dengan tegasnya.


Memang Rendra sempat melihat Jio dan Safira masuk ke dalam rumah. Hingga akhirnya Rendra menguping pembicaraan mereka bersama ibu Romlah. Makanya Rendra tahu jika Jio tidak mendapatkan restu dari orang tua Safira. Rendra pun mengikuti Jio hingga ke tempat mobilnya terparkir.


"Lo pernah cium Safira?" tanya Jio masih dengan tatapan meremehkan. Rendra terdiam. "Lo pernah pegang tangan dia?" tanya Jio lagi dan Rendra masih diam menatap Jio. "Lo pernah tidur sama dia?" Lagi-lagi Rendra hanya diam. "Cih ... bisa-bisanya lo bilang akan ada cinta diantara kalian? Apa lo yakin Safira bisa cinta sama lo yang hanya terobsesi dengannya?"


"Sebuah pernikahan nggak perlu banyak cinta yang penting punya tujuan yang sama. Dan tujuan kami sama, yaitu sama-sama ingin membahagiakan orang tua. Gue sayang dengan Ibu Romlah sama seperti sayang dengan Ibu sendiri karena gue nggak punya ibu, jadi kami akan bahagia. Seiring dengan itu, cinta juga akan tumbuh, ck! Beda sama lo!"

__ADS_1


Perkataan Rendra mampu membuat Jio menjadi geram. Kedua tangannya mengepal kuat bahkan siap melayang dan mendarat di bagian tubuh Rendra. Namun dia masih bisa menahan itu semua. Tentu saja Jio tidak mau Safira jatuh ke dalam pelukan siapapun kecuali ke dalam pelukannya karena Jio mencari dan menunggu Safira belasan tahun.


Rendra pikir hanya dia yang tidak punya Ibu, padahal Jio sendiri tidak punya orang tua dan tinggal bersama keluarga Erlan sejak usia sepuluh tahun. Jio akhirnya mengabdi pada keluarga dan menjadi sahabat Erlan. Mendengar tujuan Rendra ingin membahagiakan orang tua Safira, Jio benar-benar geram.


"Lo pikir gue nggak mau orang tua istri gue bahagia? Ck, lo salah Bray! Kenapa lo nggak kasih banyak uang untuk berobat Ibu Romlah? Lo tau ... Safira rela menjual tubuhnya ke luar negeri demi dollar. Dan ... untungnya dia bertemu sama gue. Heh! Lo bilang cinta sama dia? Ck!"


Rendra langsung membelalak mendengar apa yang dikatakan Jio. Dia benar-benar merasa lalai dan seharusnya memaksa lebih keras lagi untuk memberikan bantuan. Kini giliran Rendra yang mengepalkan kedua tangannya.


Jio pun berdiri tegak. Dia membuka pintu mobil dan puas melihat bagaimana perubahan raut wajah Rendra seraya kembali menyunggingkan senyum.


"Jangan pernah bilang lo cinta dengan wanita manapun kalau lo nggak tau masalah terberat dia! Andai dia nggak ketemu sama gue, saat itu Safira akan jadi santapan bule disana. Dan gue udah jadi hiro baginya. Lo pikir sendiri, mungkinkah dia menolak gue yang keren dan kaya ini?"


Rendra tidak menjawab. Namun Jio juga tidak meneruskan ucapannya karena dia langsung masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobil tersebut.


Sudah sejak beberapa menit lalu Jio berusaha menghubungi Safira. Bahkan pekerjaannya di kantor tidak tersentuh sama sekali. Jio gelisah jika terjadi sesuatu dengan Safira. Apalagi kejadian semalam membuat Jio harus memutar otak untuk memikirkan kenapa Ibu Romlah tidak merestui dan mempermasalahkan wajahnya.


"Apa mungkin aku mirip seseorang? Atau aku pernah melakukan sesuatu yang tidak disengaja? Arghh! Sialann! Dengan cara apa aku membujuknya?" gumam Jio bahkan hampir melempar laptop yang ada di atas meja kerjanya.


Akhirnya Jio meredakan amarahnya dengan menyibukkan diri. Walaupun matanya terus melirik ponsel untuk memastikan Safira membalas pesan yang dia kirim.


Pada kenyataannya, hingga jam makan siang, Safira belum juga membalas pesan Jio. Lagi-lagi Jio mencoba menghubungi Safira. Namun kini nomornya di luar jangkauan.


Merasa tidak enak hati, Jio pun pergi meninggalkan kantor untuk menemui Safira.

__ADS_1


Untungnya saja jalanan saat itu lenggang dan Jio hanya menempuh waktu kurang dari dua jam menuju rumah Safira. Namun lahan kosong yang biasanya hanya ada beberapa mobil terparkir, kini menjadi banyak mobil. Jio bahkan menghitung mobil itu dan jumlahnya ada lima belas. Diandra mobil-mobil terparkir itu, Jio melihat mobil Ayu.


"Mungkin keluarga Ayu sedang berkunjung kesini. Kemarin dia juga cari tanah disekitar sini, bukan?" batin Jio kemudian tak acuh dan melangkah pergi menuju rumah Safira.


Hanya saja ada yang aneh karena rumah Safira cukup ramai. Jio semakin mendekat dengan jantung yang berdebar cepat. Tiba di ambang pintu, Jio benar-benar terkejut melihat sosok wanitanya sedang tertunduk bersanding dengan seorang pria.


"Safira, ada apa ini?" tanya Jio mampu membuat semua orang di dalam rumah menatapnya.


"Mas ...." Safira tidak melanjutkan ucapannya karena satu tangannya di tahan oleh Ayu.


"Eh, Serjio! Ayo masuk! Kami baru akan memulai acaranya," ujar Ayu dengan sopannya.


"Acara? Maksudnya acara apa? Safira, bisa jelaskan kenapa ini?" tanya Jio masih terheran-heran.


"Mas ... aku ...." Lagi-lagi Safira menahan ucapannya.


"Nak Jio, kenal dengan Safira?" tanya Tuan Aji, Papa Ayu. Jio tentu mengenal pria paruh baya tersebut.


"Sudah, Tuan. Dia tidak penting! Kita lanjutkan aja acara pertunangannya," kata Ibu Romlah yang segera meraih kotak kecil di atas meja dan membukanya. Ada sepasang cincin berlian disana.


"Tunggu!" Jio hendak mencegah, tetapi Ayu memeluk dan menarik Jio untuk duduk bersamanya di kursi.


........

__ADS_1


__ADS_2