Wanita Kesayangan SERJIO

Wanita Kesayangan SERJIO
WKS. Melamar Safira


__ADS_3

Entah berapa lama Jio terus menatap kecantikan Safira yang ada dalam pelukannya. Bahkan Erlan sampai kesal melihat sang asisten tidak segera menjalankan sesuai rencana dan malah terpesona dengan kecantikan Safira.


"Ehem!" Erlan berdehem cukup keras supaya Jio segera melepaskan pelukannya. Namun Jio tidak mendengar hingga Safira memberikan tepukan di pipi Jio dan menyadarkannya.


"Ah, untung aja nggak jatuh. Lain kali, hati-hati, Sayang!" kata Jio tiba-tiba jadi canggung seraya melepaskan pelukannya.


"Iya. Makasih, Mas!" jawab Safira sedikit malu-malu. Erlan beberapa kali melirik gitar dengan ekor mata yang tidak jauh dari tempatnya berdiri dengan untuk memberikan isyarat agar Jio segera melakukan rencananya. Namun Jio malah tak acuh.


"Em ... gimana perjalanan kamu?" tanya Jio membuat Safira melongo karena bingung harus menjawab apa pertanyaan Jio itu. Seperti sesuai hal yang aneh saja.


"Haa?" jawab Safira seraya mengangkat satu alisnya.


Baik Erlan maupun istri dan orang-orang yang mendengar pertanyaan Jio kompak menempuh jidat. Bahkan menahan tawa. Seharusnya Jio itu memuji kecantikan Safira, bukan malah bertanya tentang perjalanannya. Tentu saja ibukota itu macet, memang perjalanan apa lagi yang akan dilalui Safira.


Jio benar-benar hanya pandai dalam bisnis, bukan pandai dalam merayu wanita. Erlan kembali menggelengkan kepalanya.


"Astaga ... kenapa Serjio ini begitu bodoh? Apa dia nggak pernah liat gimana caranya aku merayu. Untuk apa bertanya seperti itu? Emang Safira lagi mudik? Seharusnya kan dia bilang, 'kamu sangat cantik malam ini, Sayang, bolehkah aku menggandeng mu dan mengenalkan mu pada keluargaku', biar Safira tersipu. Ini malah tanya perjalanan," bisik Erlan pada Diandra, istrinya.


"Sudah, Mas! Biarin aja! Mungkin dia gugup," jawab Diandra masih mencoba menahan tawanya.


"Dia bodoh dalam hal cinta. Pinter kerja aja." Erlan masih kesal, tetapi sang istri hanya menepuk lengannya agar berhenti mengumpat. "Hei ... udah jangan pandang-pandangan terus. Buruan sini!" teriak Erlan berhasil mengalihkan perhatian Jio dan Safira.


"Ayo, Sayang!" Jio mengisyaratkan Safira untuk memeluk lengannya. Safira paham dan menurut. Keduanya pun berjalan sejajar seraya bergandengan tangan dan terlihat sangat serasi.


Safira masih bingung dan canggung. Walaupun dia sudah pernah bertemu, tetapi saat itu sedang berkabung, jadi Safira belum sempat menyapa istri Erlan. Melihat senyum Diandra yang terlihat begitu ramah, entah kenapa Safira malah terpikir tentang kejadian di negara B tempo hari.


"Hallo, Mbak Safira! Ini pertemuan kedua kita ya? Maaf, waktu itu aku nggak terlalu fokus. Salam kenal ya, aku Diandra," sapa Diandra seraya mengulurkan tangannya dan Safira segera menjabat tangan Diandra diiringi senyuman manis.


"Wanita secantik dan sebaik ini ... bagaimana dulu aku bisa ingin menghancurkan kehidupan wanita ini hanya karena uang. Bagaimana dulu jika rencana untuk menjebak Tuan Erlan berhasil dan bagaimana dengan nasib Nona Diandra? Untungnya takdir begitu baik padaku. Terima kasih Tuhan .... Terima kasih karena telah menggagalkan rencana itu," batin Safira.

__ADS_1


Bukannya menjawab sapaan Diandra, Safira malah melamun memikirkan niat jahatnya dulu menjebak Erlan. Walaupun itu hanya sebuah perintah, tetap saja Safira benar-benar merasa kecewa pada dirinya sendiri. Andai berhasil dan dia yang ada di posisi Diandra, pastilah Safira akan jadi wanita yang menyedihkan.


"Sayang ... kenapa diem aja?" seru Jio menyadarkan Safira dari lamunannya.


"Ah, maaf! Hai, Nona Diandra! Senang sekali kita bisa bertemu seperti ini. Anda sangat cantik sekali," puji Safira malah membuat Diandra terkekeh. Seharusnya kata-kata itu diucapkan Jio padanya, bukan malah dia yang mendapatkan pujian basa-basi itu.


"Terima kasih. Setiap hari selalu ada yang memujiku seperti itu," jawab Diandra seraya melirik Jio yang sedang menggaruk tengkuknya karena paham dengan tatapan Diandra. Jio jadi salah tingkah.


"Hai, Safira! Aku Cherin. Itu suami aku namanya Hanes. Panggil nama aja nggak pa-pa, nggak perlu formal. Kita semua keluarga disini." Cherin ikut mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Safira. Dengan senang hati Safira menyambut uluran tangan Cherin.


Cherin dan Hanes adalah sepasang suami istri dan orang yang telah dianggap sebagai Kakak oleh Diandra walaupun Cherin mantan pacar suaminya sendiri. Cherin juga teman sekolah Jio sama seperti Ayu.


"Sesi perkenalan udah ya, gimana kalau kita biarkan Kak Jio melakukan rencananya," ujar Diandra membuat Safira sedikit bingung.


"Rencana?" ulang Safira menatap Jio seraya mengangkat satu alisnya. "Rencana apa, Mas?" tanya Safira.


"Melamar? Kamu udah melakukan itu berkali-kali, Mas." Jio malah terkekeh. Namun dia tidak punya banyak waktu untuk basa-basi. Segera Jio duduk di sebuah kursi yang telah disiapkan khusus untuknya. Di sisi kursi tersebut, ada sebuah gitar yang memang gitar itu milik Jio sejak masa sekolah.


Saat mereka masih menjadi remaja putih abu-abu, Jio pernah menjadi juara lomba menyanyi antar sekolah karena memang suaranya yang bagus dan dia begitu pandai bermain gitar.


"Ehem ...." Jio bersiap untuk menyanyikan lagi yang telah dia hapal dengan posisi yang begitu menawan. "Lagu ini aku persembahkan untukmu, Safira." Jio pun mulai memetik senar gitarnya dengan penuh penghayatan.


Lagu Bandai Romantic Project yang berjudul "Melamarmu"


Di ujung cerita ini


Di ujung kegelisahanmu


Ku pandang tajam bola matamu

__ADS_1


Cantik, dengarkanlah aku


Aku tak setampan Don Juan


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini ku tak ragu


Ku sungguh memintamu


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Safira benar-benar tersipu malu sekaligus sangat bahagia mendengar tiap lantunan lagu yang dinyanyikan oleh Jio. Namun saat lagu itu hampir selesai, tiba-tiba Safira ingat dengan perkataan Ibunya untuk mengakhiri hubungan dengan laki-laki bernama Serjio tersebut.


Entah Safira harus jujur atau bagaimana, tetapi dia sendiri tidak tahu pasti apa yang membuat sang Ibu tidak setuju dengan pilihannya.


"Mbak, katanya kalian belum dapet restu ya dari Ibu?" bisik Diandra pada Safira sembari menikmati lagi yang dinyanyikan Jio.


"Iya, Nona. Saya ... saya juga tidak tahu kenapa Ibu menolak Mas Jio. Eh ... dari mana Nona tahu?" Tentu Safira terkejut karena dia belum mengatakan hal tersebut pada siapapun.


"Dari Kak Jio sendiri. Dia nggak sengaja denger percakapan kalian. Tapi satu hal yang pasti, berjuanglah kalian. Jangan ada hal yang kalian sembunyikan bahkan sekecil apa pun. Aku yakin Kak Jio bisa menjadi suami yang baik."


Safira malah tertunduk sedih mendengar apa yang dikatakan oleh Diandra. Dia dan Jio memang harus berjuang demi bisa menyatukan cinta mereka.


........

__ADS_1


__ADS_2