Wanita Milik CEO Arogan

Wanita Milik CEO Arogan
BAB 21 : Masih Membujuk Nisha


__ADS_3

Rasanya sangat sulit untuk memejamkan mata. Ucapan Alexander masih terngiang-ngiang di dalam kepala. Terlebih saat ini sosok Alexander berada di sampingnya. Dadanya bergerumuh, bahkan untuk bernapas saja rasanya sedikit sesak.


Seharusnya Nisha bersyukur jika saat ini Alexander mau bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan. Namun, Nisha masih belum mempercayai niat Alexander. Dia masih ragu apakah ucapan Alexander. Entah harus percaya atau tidak karena Nisha sudah pernah lecehkan oleh pria itu.


Karena tidak bisa tidur, Nisha memutuskan untuk bangun. Niatnya ingin ke dapur untuk mencari makanan, tetapi saat ingin membuka pintu, ternyata pintu dikunci. Nisha langsung menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran mengapa bisa pintu dikunci, sementara dia sama sekali tidak merasa mengunci pintunya. Sekilas matanya melirik ke arah Alexander yang teralat di atas tempat tidur.


"Apakah ini ulah pria itu? Untuk apa, coba?" Nisha menggerutu.


Dengan langkah pelan, Nisha berusaha untuk mencari kunci pintu. Dia yakin jika Alexander adalah pelakunya.


"Dimana di menyimpan kunci pintunya, sih?" Nisha hampir menyerang setelah tak mendapatkan keberadaan kunci pintu. Helaan napas panjang keluar begitu saja. Namun, saat matanya melirik ke arah Alexander sekilas netralnya menangkap separuh gantungan kunci itu berada di saku celana Alexander.


Mata Nisha langsung melotot dengan lebar. Karena terdesak dengan keadaan Nisha berusaha untuk mengambil kunci itu dengan pelan agar tak membangunkan Alexander. Sebisa mungkin Asha menahan nafasnya. Jangan ditanya lagi bagaimana tangannya bergetar saat ingin mengambil kunci yang berada di saku celana Alexander.


Mudah-mudahan gak kebangunan


Namun, karena Alexander merasakan sedikit gerakan di saku celananya dia langsung menangkap tangan Nisha.


"Mau apa?" tanya Alexander dengan mata yang masih terpejam.

__ADS_1


Jantung Nisha berdegup sangat kencang saat gerakannya telah ditangkap oleh Alexander. Bahkan tangan sepeda itu telah memegang erat tangan Nisha.


"Apakah kamu mau memegangnya? Dasar cewek munafik!" cibir Alexander yang kini malah menarik tangan Nisha dan ditengah-tengah celananya.


Nisha yang merasakan denyutan dari balik celana langsung menjerit. "Aaaaaaa."


Tentu saja jeritan Nisha membuat Alexander langsung membuka matanya. Bukannya marah, tetapi pria itu malah menarik kedua garis simpul bibirnya.


"Kenapa? Bukankah itu yang kamu mau?" tanya Alexander dengan santai.


"Lepaskan tanganku! Tolong ku mohon!" Nisha mengiba.


"Stop! Aku bukan ingin memegang itu, tetapi aku hanya ingin mengambil kunci yang ada di sakumu. Mengapa kunci pintu kamar kamu masukkan ke dalam saku celanamu?!" protes Nisha dengan wajah yang memerah. Bagaimana bisa saat ini tangannya tengah menyentuh belut yang kian lama semakin mengeras. "Tuan, tolong lepaskan tanganku."


Alexander hanya tertawa saat melihat wajah Nisha sudah mulai memerah. Bahkan wanita itu tak berani untuk menunjukkan wajahnya.


"Baiklah, aku lepaskan. Tapi sepertinya kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak akan mungkin untuk menidurkan dia lagi. Jadi kamu harus menidurkan dia kembali karena kamu yang telah membangunkannya!" datar Alexander.


"Kamu sudah gila! Sampai kapanpun aku tidak akan menuruti apa yang kamu inginkan! Dasar pria brengsekk!"

__ADS_1


"Kamu kamu tidak mau ya sudah, aku tidak akan melepaskan tanganmu!"


Nisha berusaha untuk menarik tangannya agar terlepas, tetapi percuma saja karena kekuatan yang dia miliki tidaklah seberapa.


"Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kamu memberikan jawaban apakah kamu mau menikah denganku atau tidak. Tetapi, sekalipun kamu tidak mau menikah denganku, aku akan tetap menggaulimu layaknya pasangan suami-istri, karena aku telah terpikat denganmu. Semua terserah padamu saja, ingin berada di sisiku dengan status halal, atau berada di sisiku tanpa status apa-apa!" tegas Alexander.


"Nisha, sekali lagi aku meminta kepadamu, menikahlah denganku, dan kita hidup bersama. Aku berjanji tidak akan menyakitimu, tapi kita pergi dari tempat ini!" lanjut Alexander lagi.


Nisha masih terdiam tanpa kata, karena dia masih ragu dengan jawab yang akan dia berikan pada Alexander. Namun, bagaimanapun Alexander pria dari janin yang saat ini berada di dalam perutnya.


"Aku—" Nisha menjeda ucapannya.


"Aku tahu aku telah salah karena telah menodaimu. Bahkan aku hampir menjualmu pada pria tua itu. Awalnya aku berpikir jika kamu sama seperti wanita pada umumnya, tapi nyatanya aku salah. Sungguh aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu selama ini." Mendadak Alexander bangkit dari tempat tidurnya langsung bersimpuh di kaki Nisha. Alexander menyesali apa yang telah dia lakukan pada Nisha.


*


*


guys, mampir juga ke novel temen Othor juga ya. Judulnya Menikahi CEO Lumpuh author Mommy Uni.17 mampir ya

__ADS_1



__ADS_2