Wanita Milik CEO Arogan

Wanita Milik CEO Arogan
BAB 30 : Hidup Baru


__ADS_3

Entah sudah berapa lama perjalanan yang ditempuh Alexander. Rasanya Nisha sudah lelah duduk di mobil yang hampir satu harian penuh, tetapi belum juga sampai ke tempat tujuannya juga. Karena merasa lelah, Nisha memberanikan diri untuk bertanya kepada Alexander.


"Alex, sebenarnya kita mau kemana? Mengapa hampir satu hari perjalanan kita tetapi belum sampai juga?"


Alexander yang menyetir mobil, langsung melirik ke arah Nisha. "Kita akan menjauh dan akan hidup berdua, tanpa ada yang akan menghancurkan kita," ujarnya.


"Tapi kita akan kemana? Kamu tidak sedang ingin membunuhku, kan?"


Mendengar pertanyaan Nisha, Alexander pun langsung memperlambatkan laju mobilnya. "Apakah aku terlihat seperti seorang pembunuh? Meskipun aku jahat, tetapi aku tidak akan membunuh wanita yang saat ini sedang mengandung anakku," terang Alexander.


Meskipun Nisha merasa lega saat mendengar jawaban Alexander, tetapi Nisha masih harus waspada. Nisha hanya takut jika sewaktu-waktu Alexander bisa melakukan hal yang tidak diinginkannya, mengingat jika Alexander adalah orang yang penuh ambisi.


"Untuk kali ini, percayalah padaku. Aku tidak akan menyakitimu!" lanjut Alexander lagi.


"Semoga saja," lirih Nisha dengan pelan.

__ADS_1


Alexander sengaja membawa Nisha meninggalkan ibukota karena saat ini ibunya tengah mencari keberadaan dirinya yang berhasil kabur dari tawanan ibunya. Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah pergi menjauh. Ya Meskipun Alexander harus merelakan apa yang telah menjadi miliknya tetapi Alexander tidak menyesali jika dia kehilangan semuanya.


Baginya saat ini anak yang ada didalam perut Nisha adalah yang paling penting, karena anak yang akan menjadi pewarisnya kelak.


Nisha tak lagi memprotes kemana Alexander akan membawa dirinya. Tidak ada salahnya untuk mempercayai kata-kata pria itu, karena sebelumnya madam Suri pernah mengatakan kepada Nisha jika sebenarnya Alexander itu bukanlah pria jahat. Jika bisa mengambil hatinya, maka seluruh dunia mampu Alexander berikan.


"Alex, aku apakah masih lama lagi kita sampainya? Perut aku sakit," ujar Nisha.


Alexander pun langsung menoleh ke arah Nisha. "Iya, tunggu sebentar lagi kita juga akan sampai."


"Kali ini memang sebentar lagi. Lihatlah saat ini kita sudah memasuki kompleks perumahan," ujar Alexander dengan senyum di bibirnya.


Nisha yang sedang merasa kesal pun langsung melihat kanan kiri jalan yang sudah berdiri rumah besar dan megah.


"Nah ... ini sudah sampai." Mobil Alexander pun langsung masuk ke halaman rumah yang tak kalah lebih besar dan megah. Bahkan hampir seimbang dengan rumah milik Alexander yang lama.

__ADS_1


"Ayo turun!" titah Alexander saat mesin mobilnya sudah dimatikan.


"Ini rumahnya?" tanya Nisha yang masih merasa penasaran.


"Iya. Kamu tidak suka? Jika tidak suka, kita cari tempat lain aja!"


Nisha langsung menggelengkan kepalanya, karena bukanlah itu maksud Nisha. "Bukan Alex. Akau hanya ingin bertanya saja," ucap Nisha.


Kini ditempat baru, Alexander meminta Nisha mengatakan kebutuhan yang memang sedang diperlukan.


"Ya sudah. ayo, masuk!"


Meninggalkan kekayaan bukan berarti Alexander jatuh miskin karena Alexander sudah menyiapkan semuanya. Dan kini ditempat yang jauh dari jangkauannya, dua kan memulai hidup barunya bersama dengan Nisha, selain saat ini dia bukanlah seorang CEO lagi. Saat ini Alexander hanyalah orang biasa yang sama sekali tak memiliki kekuasaan. Berharap dengan cara seperti ini dia bisa hidup lebih damai bersama dengan wanitanya.


...~BERSAMBUNG~...

__ADS_1


__ADS_2