
Setelah acara usai, kini hanya tinggal Alexander dan Nisha, karena dua orang adik Alexander juga memilih untuk langsung pulang ke ibukota. Keduanya tidak ingin membuat ibu mereka mencurigai jika keduanya terlibat dalam menghilangnya Alexander.
Tinggal berdua hanya menyisahkan rasa canggung untuk Nisha, padahal setiap hari dia sudah terbiasa untuk menghadapi Alexander, tetapi untuk saat ini rasanya sungguh berbeda. Ada debaran dalam hati yang susah untuk dimengerti.
"Alex, kamu mau kemana?" tanya Nisha saat melihat Alexander telah memakai kembali jaket yang dia pakai tadi malam. "Apakah kamu ingin meninggalkanku disini?"
Alexander membuang nafas kasarnya. Entah mengapa Nisha tak bisa mempercayai dirinya. Padahal Alexander hanya berniat untuk ke swalayan untuk membeli perlengkapan dapur serta sayuran.
"Nisha ... bisakah kamu berpikir positif tentangku? Aku hanya ingin ke swalayan untuk berbelanja."
"Tapi mengapa kamu tidak mengajakku?"
"Aku tidak mengajakmu karena aku tidak ingin kamu kecapekan setelah melakukan perjalanan lama. Kamu istirahat aja disini, aku hanya pergi sebentar. Apakah kamu menginginkan sesuatu?" tanya Alexander sebelum pergi.
"Aku tidak menginginkan apa-apa. Aku hanya ingin ikut," rengek Nisha.
Melihat wajah Nisha yang ditekuk, membuat Alexander tidak tega untuk meninggalkan Nisha di rumah. Dengan berat hati akhirnya dia pun membawa Nisha untuk berbelanja.
Sebelumnya Alexander sudah seringkali berada satu mobil dengan para wanita yang sengaja ingin menggodanya, tetapi rasanya tak seperti saat sedang bersama dengan Nisha.
__ADS_1
Dada Alexander akan terus berdegup dengan kencang saat berdekatan dengan Nisha, apalagi jika jarak mereka terlalu dekat.
"Alex, sebenarnya saat ini kita berada dimana, sih?" tanya Nisha yang sangat ingin tahu dimana saat ini dirinya berada.
"Kenapa? Kamu mau kabur?" Bukanya menjawab, Alexander malah bertanya balik.
"Bukan seperti itu, Alex. Aku hanya ingin tahu saja."
"Saat ini kita berada di kota pelajar."
Nisha hanya mengangguk pelan saat Alexander mengatakan jika saat ini mereka ada di kota pelajar. Itu artinya mereka memang sudah pergi menjauh dari ibukota.
Alexander yang menyetir mobilnya sesekali melirik kearah Nisha. "Kamu takut jika aku akan menelantarkanmu? Kamu gak usah khawatir, aku tidak akan menelantarkan kamu. Aku sudah memiliki proyek untuk menopang hidup kita selama disini. Terlepas hanya menjadi seorang kuli bangunan," ujar Alexander dengan senyum tipis di bibirnya.
Tak terasa mobil yang dikemudikan oleh Alexander telah sampai disebuah swalayan terdekat. Setelah memarkirkan mobilnya, dia pun langsung mengajak Nisha untuk masuk kedalam. Tak lupa tangan Alexandre pun menggandeng tangan Nisha.
Menyadari jika saat ini tangan yang tengah diganti oleh Alexander, seketika tubuh Nisha membeku untuk sesaat.
"Kenapa?" tanya Alexander yang menyadari jika Nisha masih menetapkan tangan yang sedang digenggamnya. "Aku hanya tidak ingin kamu kesasar," ujarnya.
__ADS_1
Kepala Nisha mengangguk dengan pelan. Desiran aneh menyerang dadanya. Bahkan jantungnya ikut bergemuruh dengan kencang.
"Ayo!" Alexander pun menuntun Nisha untuk masuk ke dalam swalayan.
Untuk pertama kalinya, tangan Alexander menggenggam erat tangannya. Layaknya pasangan pada umumnya, dimana Alexander memanjakan wanitanya. Sorot mata yang biasanya terlihat menyeramkan, entah mengapa hari ini tak terlihat. Bahkan wajah yang biasanya tegang, kini terlihat lebih rileks. Mungkin ini adalah Alexander yang versi madam Suri? Mungkinkah ini adalah wajah Alexander yang sesungguhnya?
Setelah mendapatkan apa yang diperlukan Alexander segera meninggalkan swalayan dan membawa Nisha ke alun-alun kota. Terlihat sangat ramai, karena keduanya datang pada waktu yang tepat, dimana setiap sore banyak orang-orang yang akan menghabiskan waktu mereka ditempat itu.
"Alex, mengapa kita kesini?" tanyanya pada Alexander yang sudah memarkir mobilnya di tempat parkiran.
"Ya, karena kita akan menghabiskan sore kita disini? Apakah kamu merasa kelelahan? Jika iya, kita pulang sekarang."
"Tidak ... tidak. Aku tidak kelelahan. Aku hanya bertanya saja," jelas Nisha.
"Ya, sudah. Nikmati saja sore kita disini. Aku tahu kalau kamu tidak pernah kemana-mana. Aku juga tahu bagaimana ayah kamu memerlukan kamu. Jadi anggap saja ini adalah pengganti waktumu yang telah tersita."
Seketika Nisha terdiam. Entah darimana Alexander mengetahui apa yang dialaminya. Mungkin sebenarnya Alexander telah mengetahui apa yang telah terjadi padanya selama ini?
...***...
__ADS_1