Wanita Milik CEO Arogan

Wanita Milik CEO Arogan
BAB 22 : Meminta Petunjuk


__ADS_3

Butuh waktu untuk memberikan jawaban kepada Alexander, apakah dirinya siap dinikahi oleh Alexander atau tidak. Semua keputusan ada di tangan Nisha. Jika Nisha bersedia, maka Alexander akan segera menikahinya.


Sebuah keputusan yang sangat berat, tetapi Nisha harus bisa memberikan sebuah keputusan agar dirinya tak menyesal di kemudian hari.


"Ya Allah, keputusan apa yang harus aku ambil? Menikah dengan pria brengsekk itu atau menolaknya. Sungguh dua pilihan yang sangat sulit. Jika ini adalah jalan yang telah Engkau berikan kepadaku, ikhlas untuk menjalani semua ini. Jikapun pria itu telah Engkau takdirkan untukku, maka tuntunlah dia ke jalan yang benar agar dia kembali ke jalan-Mu. Amin Ya rabbal alamin."


Setelah melakukan salat tahajud Nisha langsung merapikan kembali mukena yang baru saja digunakan. Tidur satu ranjang dengan Alexander membuat Nisha tidak bisa tidur seperti biasanya. Entah mengapa jantungnya terus dengan kencang saat berdekatan dengan pria brengsekk itu.


Karena masih pukul 3 pagi, Nisha memutuskan untuk membaca Alquran untuk menunggu waktu subuh tiba karena dia benar-benar tidak bisa tidur satu ranjang bersama dengan Alexander


Lantunan ayat-ayat suci terdengar begitu merdu sekalipun suaranya kecil. Sebenarnya Alexander sudah terbangun saat Nisha bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Awalnya, Alexander mengira Nisha akan kita berlatih untuk mencari makanan. Namun nyatanya dia salah. Ternyata Nisha sedang mengambil air wudhu untuk mendirikan salat sunnah di sepertiga malamnya.


Hatinya tiba-tiba terenyuh saat mendengar suara merdu yang keluar dari mulut Nisha. Ingin rasanya Alexander bangkit dan menyuruh Nisha untuk menambahkan volume suaranya, tetapi Alexander tidak bisa melakukan. Mau diletakkan di mana wajahnya saat meminta Nisha mengeraskan lantunan indah nan merdunya itu.

__ADS_1


"Ya Tuhan ... kemana saja diriku selama ini yang telah melupakan-Mu. Bahkan rasanya aku tak pantas untuk mendapatkan maaf atas semua dosa yang telah aku lakukan. Jika wanita itu adalah orang yang Kau pilihkan, ketuklah hatinya untuk mau menerimaku." batin Alexander yang saat ini masih memperhatikan Nisha yang sedang membaca Alquran.


Semakin lama, Alexander di bawah hanyut oleh setiap lantunan yang Nisha lafalkan, hingga akhirnya Alexander tertidur kembali.


Begitu juga dengan Nisha yang mendadak diserang rasa kantuk. Memang godaan terbesar saat sedang membaca Alquran itu adalah rasa kantuk yang luar biasa. Bahkan karena terlalu mengantuk membuat Nisha tidak bisa berkonsentrasi lagi dengan baik dan akhirnya menyudahi membaca Alqurannya.


Jika tadi Nisha tak bisa memejamkan mata, namun tidak untuk saat ini yang tiba-tiba saja Nisha sudah menggeletakkan tubuhnya Di atas sajadah, karena sudah tak sanggup dengan rasa kantuknya.


*


*


"Bi Suri ... !" panggil Alexander saat menuruni anak tangga.

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil, Madam Suri yang berada di dapur segera berlari untuk menghampiri Tuan-nya.


"Iya, Tuan. Ada apa?"


"Su-su dan vitamin untuk Nisha, langsung bawa ke kamarnya. Pastikan dia juga makan dengan baik. Aku ada sedikit urusan. Kemungkinan aku akan pulang besok pagi, jadi tanggung jawab Nisha aku serahkan pada Bi Suri. Jika ada apa-apa yang sangat mengkhawatirkan, segera hubungi aku!" Alexander memberikan pesan sebelum dia pergi untuk menyelesaikan tugas dan masalah yang sedang dia hadapi.


"Tapi Anda baru saja kembali tadi malam, Tuan. Apakah tidak sebaiknya Anda beristirahat terlebih dahulu. Kesehatan adalah prioritas untuk, Tuan!"


Alexander hanya membuang nafas kasarnya. Sekalipun tidak memiliki hubungan keluarga, tetapi Bi Suri sudah dianggapnya seperti seorang ibu, karena ketulusan yang dicurahkan padanya. Jika dibandingkan dengan ibu kandungnya, Bi Suri lah yang patut dijadikan ibu dari pada ibunya.


"Katakan pada Nisha, aku masih menunggu jawaban darinya, sebelum aku menutup pintu hatiku," ujar Alexander yang sampai saat ini masih jawaban atas keputusan Nisha.


"Baik. Nanti akan saya sampaikan kepada Nisha."

__ADS_1


"Bagus!"


__ADS_2