Wanita Milik CEO Arogan

Wanita Milik CEO Arogan
BAB 34


__ADS_3

Nisha mencoba untuk menepis prasangka buruk tentang Alexander. Dia percaya jika Alexander tidak akan meninggalkan dirinya di tempat itu. Jika niat Alexander hanya ingin membunuh dirinya tidak mungkin pria itu mau menikahinya. Namun, hatinya terus merasa resah saat pria itu tak kunjung mengirimkan kabar.


Nisha memantau jarum jam yang terus berputar, berharap pria yang saat ini menjadi suaminya segera pulang. Meskipun tak ada cinta, tetapi Nisha sangat mengkhawatirkan keadaan Alexander.


"Ya Allah, lindungilah Alexander di manapun dia berada. Jangan biarkan pria itu melakukan kejahatan yang akan merugikan dirinya sendiri," lirih Nisha dengan perasaan gundahnya.


Sudah pukul 11 malam, belum ada tanda-tanda kedatangan Alexander. Tentu saja membuat Nisa semakin khawatir, terlebih saat ini ponsel milik Alexander tidak bisa dihubungi.


Saat ini tak ada tempat untuk bertanya tentang keberadaan Alexander. Dadanya terus berdenyut dan pikirannya langsung menerka-nerka kemana perginya Alexander. Namun seketika Nisha mengingat pesan yang diberikan oleh Alexander kepada dirinya. Jika Nisha merasa rindu, Alexander menyarankan untuk mendoakan melalui sujudnya agar perasaan rindu itu tersampaikan.


"Nisha, ini bukan perasaan rindu, tetapi ini adalah perasaan khawatir!" Nisha berperang dengan kata hati. Namun Meskipun begitu Nisha pun langsung mengambil air wudhu. Dia mencoba untuk melakukan salat malam agar hatinya terasa lebih tenang, karena tidak ada tempat yang paling nyaman selain mengadu kepada Tuhannya. Dan Nisha memutuskan mengadu atasnya kepada sang pencipta melalui sholat malam ya.

__ADS_1


Apa yang dikatakan oleh Alexander benar-benar Nisha lakukan. Wanita itu tak hentinya mendoakan kebaikan untuk Alexander.


Ya Allah Engkaulah maha Agung, maha segalanya. Hanya kepadamulah hamba berkeluh kesah. Dimana Alexander berada, kumohon tetap melindungi dia untuk tetap berada di jalannya.


Dalam sepinya malam, Nisha tak kunjung bisa memejamkan kedua matanya karena Alexander terus menghantui dirinya.


........


Angin malam yang berhembus kini mampu menusuk hingga ke dalam tulang. Namun, Alexander sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Bagi Alexander dunia malam itu sangat menantang.


"Sorry, aku terlambat. Kamu jika di perbatasan kota selalu ada razia. Dan tidak mudah untuk membawa barang ilegal." Suara Alexander mampu memecahkan keheningan malam.

__ADS_1


Alexander pun wegera menoleh. Dengan senyum tipis di bibirnya, dia langsung menyambut kedatangan Lucas, teman lamanya.


"Tidak apa-apa. Bagaimana, apakah kamu sudah membawa barangnya?" tanya Alexander yang tidak sabar untuk segera melihat barang ilegal yang dibawa oleh Lucas.


"Apakah hidupmu begitu menyedihkan hingga kamu mau melakukan pekerjaan kotor ini. Kamu tahu kan konsekuensi apa yang akan kamu terima jika kamu kamu sampai tertangkap oleh polisi?"


"Iya, aku tahu. Bahkan aku sudah memikirkan berbagai kemungkinan jika aku gagal dalam melakukan pekerjaan ini. Tapi, sesuai dengan perjanjian yang telah kita buat kamu harus tetap menanggung semua biaya hidup anak dam istriku. Dan kamu juga akan menjamin perusahaanku agar bangkit kembali," ujar Alexander dengan helaan nafas yang terdengar sangat berat.


Lucas hanya mengangguk dengan pelan. Melalui Alexander dia tidak perlu merasa puas-kelas saat harus bertransaksi dengan kliennya.


"Kamu tenang saja. Aku bukanlah orang yang suka ingkar. Jika kalau kamu tertangkap oleh polisi jangan salahkan aku karena semua ini murni kepentinganmu sendiri untuk memilih pekerjaan kotor ini!" Lucas mencoba untuk memberi sebuah peringatan kepada Alexander, untuk tetap berhati-hati.

__ADS_1


__ADS_2