
Karena Nisha sudah memberikan jawaban bersedia untuk menikah dengan Alexander, maka malam ini juga pria itu langsung membawa Nisha pulang ke Jakarta. Sepanjang perjalanan tak ada kata yang keluar dari dua insan yang berada di dalam mobil itu, hanya musik yang menjadi pengiring perjalanan kedua. Tak lama kemudian, mata Nisha pun mulai memejam.
Alexander yang melihat jika saat ini Nisha telah tidur, perlahan dia menurunkan jok mobil agar Nisha bisa tidur dengan nyaman.
"Entah apa yang akan terjadi nanti, tapi sudahlah.... pikiran nanti saja. Yang penting aku sudah membawanya pergi menjauh. Mungkin setelah ini aku bukan siapa-siapa lagi," lirih Alexander dengan pelan.
**
Pergi menjauh bukan berarti menjadi seorang pecundang, tetapi semua itu dilakukan untuk melindungi seseorang agar tidak menjadi target kegilaan ibunya, yang saat ini sudah berusaha mencari keberadaan Nisha.
Perjalanan panjang membuat Alexander merasa lelah dan memutuskan untuk mencari rest area untuk tempat beristirahat, mengingat hari juga sudah hampir subuh.
"Sha," panggil Alexander dengan pelan.
Nisha langsung mengerjap dengan pelan dan langsung menoleh kesamping.
"Kita dimana?" tanyanya sambil mengusap matanya dengan pelan.
"Udah mau subuh. Sholat di warung itu aja ya. Masjid masih jauh dari sini."
Nisha pun mengangguk dengan pelan dan langsung melepaskan sabuk pengamannya. Namun, tangan Nisha kalah cepat dari tangan Alexander yang sudah melepaskan sabuk pengalaman Nisha.
Sejenak Nisha terdiam dan menahan nafasnya saat jarak kepalanya terlalu dekat dengan Alexander.
__ADS_1
"Sudah. Turunlah!" ujarnya.
"Iya, terima kasih."
Nisha berjalan pelan mengikuti langkah Alexander untuk menuju ke sebuah warung kecil yang berada di pinggir jalan. Entah berada di mana saat ini dirinya.
"Apakah masih lama lagi kita sampainya? mengapa sudah hampir subuh kita belum sampai?" tanya Nisha dengan heran, karena jika dihitung dari mereka berangkat dari film seharusnya keduanya sudah sampai di kota.
"Iya. Nanti juga sampai. Sudahlah kamu sholat dulu, baru kita lanjutkan lagi perjalanan kita!" titah Alexander.
"Kamu gak sholat?" tanya Nisha lagi.
"Enggak. Kamu aja yang sholat. Aku tunggu sambil minum kopi!"
"Iya, aku tahu. Nanti saja aku sholatnya jika sudah jadi suami kamu!" tegas Alexander.
Tak ada kata lagi yang keluar dari bibir Nisha. Wanita itu langsung menuju ke kamar mandi untuk serta mengambil air wudhu.
Alexander masih setia nunggu Nisha hingga wanita itu keluar dari kamar mandi.
"Alex ... tapi aku tidak membawa mukena. Bagaimana aku bisa sholat?" tanya Nisha saat keluar dari kamar mandi.
"Aku sudah meminjamkan pada pemilik warung."
__ADS_1
"Oh .. "
Selama Nisha sholat, Alexander menunggunya sambil memesan kopi untuk menghangatkan perutnya.
"Alex ... perut kamu masih kosong. Enggak baik minum kopi!" tegur Nisha setelah selesai mengerjakan sholat Subuhnya.
"Kamu gak usah khawatir! Aku sudah biasa. Buktinya aku masih sehat walafiat sampai sekarang," ujar Alexander dengan santai.
Nisha pun tak bisa berkata-kata lagi. Dia memilih duduk di samping Alexander.
"Kamu mau pesan apa? Karena setelah ini tidak ada warung yang akan kita jumpai lagi."
"Tapi aku tidak menginginkan apa-apa."
"Teh manis aja ya!" tawar Alexander.
Nisha tak bisa menolak. Dia pun pasrah saat Alexander terlalu membosankan teh hangat untuk dirinya.
Sebenarnya Nisha merasa heran dengan perjalanan mereka yang tak kunjungan sampai tujuan, sementara sudah hampir sembilan jam perjalanan.
"Alex, sebenarnya kita mau kemana? Mengapa rasanya begitu lama?" tanya Nisha yang sejak tadi merasa penasaran dengan tujuan Alexander.
*
__ADS_1
*