
Jangan ditanya lagi bagaimana Nisha sangat mengkhawatirkan keadaan Alexander. Tapi saat ini sudah hampir dua minggu pria itu tidak pulang bahkan sama sekali tidak memberikan pesan padanya. Pikiran Nisha semakin hari semakin kacau, bahkan Nisha sampai tidak bisa menelan makanannya dan tidak bisa memejamkan matanya dengan lelap. Semua bayang-bayang dalam pikirannya hanya ada Alexander. Mungkinkah saat ini dan tumbuh sebuah perasaan untuk Alexander?
Dalam gelapnya malam, Nisha berdiri di balkon kamar untuk melihat bintang bulan yang berada di langit. Kali ini dia menumpahkan keluh kesah yang dia rasakan pada angin malam. Sesekali dia mengusap kasar jejak air mata yang membasahi pipinya.
"Ya Allah mengapa hidupku begitu suram? Setelah aku dijual oleh ayah, mahkotaku terenggut kalau Alexander. Dan setelah itu aku hendak dijual olehnya. Awalnya aku merasa sangat bahagia karena saat aku sedang putus asa dan ingin mengakhiri semuanya, tiba-tiba datang malaikat penyelamat. Namun, ternyata aku salah menilainya. Dia sama saja seperti Alexander, bahkan yang lebih parah dia adalah adik dari Alexander." Nisha menjeda ucapannya karena air di dalam hidupnya sudah mengalir begitu saja. Dengan sebuah tisu dia pun langsung membuang ingusnya.
"Alexander! Kamu harus tanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan kepadaku. Saat ini aku hamil dan kamu harus bertanggung jawab akan perbuatanmu. Tapi apa nyatanya? Kamu malah menghilang tanpa kabar. Apakah ini adalah bagian dari rencanamu yang memang tidak ingin bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan? Sungguh aku benci kamu Alexander!" teriak Nisha dengan kuat untuk mengeluarkan semua umat-unek di dalam hatinya.
Namun, siapa yang menyangka di belakang Nisha sudah berdiri seseorang yang sejak tadi malam adanya. Pria itu hanya menahan senyum di bibirnya ketika mendengar ungkapan yang dikeluarkan oleh Nisha. Ternyata menghilangnya dirinya selama dua minggu membawa berkah untuknya. Ternyata Nisha sangat membutuhkan dirinya.
Alexander berjalan pelan untuk mendekat ke Nisha. Tak lupa tangannya menyusup ke pinggang dan mengelus perut Nisha secara tiba-tiba.
__ADS_1
Nisha yang merasa meras terkejut dengan seorang yang sedang memeluk pinggangnya. Dengan ketakutan yang dimilikinya, Nisha mencoba untuk melepaskan tangan itu, tetapi percuma saja, karena Alexander mencegahnya.
"Biarkan seperti ini untuk sebentar saja. Aku merindukanmu, Nisha," bisiknya tepat di telinga Nisha.
Merasa tidak asing dengan suara yang baru saja menyentuh telinganya, Nisha langsung menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya saat bola mata Nisha menangkap jika pelakunya adalah Alexander, pria yang baru saja dimaki olehnya.
"Alexander," gumam Nisha dengan penuh keterkejutan. "Kamu pulang?"
"Biarkan seperti ini sebentar saja," pintanya.
Beberapa menit yang lalu saat Alexander baru sudah tiba di Villa itu, dia langsung disambut oleh Madam Suri yang juga sedang mengkhawatirkan keadaan Alexander. Tidak sampai disitu juga, Madam Suri juga menceritakan apa yang dialami oleh Nisha selama kepergian Alexander yang tanpa kabar.
__ADS_1
Mendengar cerita dari madam Suri, Alexander merasa sangat bahagia karena dia sudah bisa mengartikan jika saat ini Nisha sangat membutuhkan kehadirannya.
Dalam dekapan Alexander, Nisha menumpahkan tangisnya. Antara bahagia dan marah terhadap pria itu. Bagaimana bisa pria itu meninggalkan dirinya selama hampir dua minggu tanpa kabar dan seenak jidatnya sendiri datang-datang malah langsung memeluknya.
"Sudah, jangan menangis! Aku baik-baik saja dan tidak akan meninggalkanmu. Aku sengaja datang malam ini untuk mengajakmu pulang. Kita akan segera menikah. Aku sudah menyiapkan semuanya," bisik Alexander sambil mengelus hijab yang membungkus kepala Nisha. Sekalipun Alexander tahu jika itu tidak diperbolehkan, tetapi Alexander tidak bisa menahannya.
"Kamu jahat!" ujar Nisha dengan sesenggukan.
"Iya, aku jahat. Maafkan aku ya."
Nisha tidak bisa berkata-kata lagi karena pria yang sedang diharapkannya telah muncul di depan matanya bahkan dengan mulutnya dia mengatakan jika besok dia akan mengajaknya menikah. Sungguh bagaikan sebuah mimpi untuk Nisha.
__ADS_1