Wanita Seharga 2 Miliar

Wanita Seharga 2 Miliar
Takut Ketahuan


__ADS_3

Ava melihat ke arah netra Tuan Ansell yang terus saja memperhatikannya. Ava takut jikalau ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ini dan melihat keduanya berada di dalam posisi yang tentulah tidak pantas jika dilihat oleh orang lain terutama para pegawai yang ada di kantor ini. Ava mencoba untuk bangkit dari posisinya namun, Tuan Ansell menekan tubuh Ava hingga kembali rebahan di atas sofa.


"Tuan, jangan seperti ini nanti jikalau ada yang lihat bagaimana?" kata Ava sembari melirik ke arah pintu masuk ruangan ini.


Tuan Ansell langsung beranjak berdiri dari posisinya kemudian melangkah mendekati pintu ruangan ini, tangannya langsung memutar kunci kemudian kembali melangkah mendekati istrinya. 


"Kenapa dikunci?" tanya Ava dengan kepolosan yang hakiki. Ava seakan lupa dengan apa yang sempat ia katakan sebelumnya.


Tuan Ansell mengusap kasar wajahnya menggunakan telapak tangan setelah melihat wajah polos istri kecilnya itu. "Bukankah tadi kau takut jikalau dilihat oleh para pekerja?" tanya Tuan Ansell balik sembari melangkah mendekati istrinya itu.


Ava menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan menganggukan kepala. "Aku akan menyiapkan makan siang," kata Ava sudah beranjak berdiri dari posisi duduknya. Tangan wanita itu sudah memegang rantang makanan dan bersiap untuk membukanya, tetapi tanya Tuan Ansell langsung meraih pergelangan tangan Ava hingga membuat wanita itu menghentikan aktivitasnya.


"Ada apa?" tanya Ava.


"Aku ingin memakanmu terlebih dahulu," kata Tuan Ansell ambigu.


"Di-dia ingin memakanku terlebih dahulu? Apakah Tuan Ansell ini seorang kanibal yang suka memakan manusia," pikir Ava. Kedua bola mata Ava seketika langsung membulat penuh, tubuh wanita itu langsung gemetar dengan tangan yang berusaha melepaskan cengkraman sang suami.


Tuan Ansell menarik salah satu alisnya bingung melihat perubahan sang istri sekarang. Wajah wanita itu terlihat pucat bagaikan tidak ada setetes pun darah yang sedang mengaliri wajah cantik itu, Tuan Ansell bisa melihat kening istrinya yang sudah dibasahi oleh keringat dingin membuat Tuan Ansel merasa cemas lihat kondisi istrinya sekarang hingga lelaki itu menarik tangan istrinya dan membuat wanita itu duduk di pangkuannya.


"Ada apa denganmu? Apakah kamu sakit?" tanya Tuan Ansell mari mengarahkan punggung tangannya di jidat sang istri.


"Ti-tidak, saya takut," jawab Ava jujur.


"Takut pada siapa? Tak akan ada orang yang bisa menyakitimu lagi sekarang," jawab Tuan Ansell.

__ADS_1


"Saya takut pada anda," kata Ava.


Tuan Ansell menunjuk wajahnya sendiri kemudian berkata, "Kenapa kau takut padaku? Memangnya apa yang telah aku lakukan sehingga bisa membuatmu ketakutan seperti ini?" tanya Tuan Ansell.


"Ta-tadi Anda mengatakan jikalau akan memakan saya," kata Ava polos. Wajah Alfa masih terlihat ketakutan sekali setetes bulir bening mulai jatuh membasahi pipinya.


Tuan Ansell yang mendengarkan ucapan polos istri kecilnya ini langsung tertawa terpingkal-pingkal hingga membuat kedua bahunya berguncang hebat. Ava menatap ke arah lelaki itu dengan mengerutkan kepalanya ia merasa sangat bingung sekali kenapa suaminya bisa tertawa seperti itu setelah mendengarkan ucapannya. Ava saja hampir pingsan karena ketakutan tetapi lelaki itu justru tertawa bahagia seperti ini. Sungguh membuat Ava bingung.


Ava beranjak berdiri dari pangkuan suaminya, ia ingin kabur saja karena ketakutan. Tangan Tuan Ansell menarik pinggang Ava hingga kini mereka berada di jarak yang dekat kembali. Tuan Ansell sampai menggigit bibir bagian bawahnya karena gemas sekali melihat ekspresi ketakutan yang nampak nyata dari air muka istrinya. Tuan Ansell menyelipkan beberapa sulur anak rambut Ava ke belakang telinga.


"Sayang, aku tadi hanya bercanda Kenapa kau menganggapnya serius seperti ini," kata Tuan Ansell. Lelaki itu mengecup sekilas bibir istrinya kemudian tersenyum pada Ava.


Tanpa berpikir panjang Ava langsung mengarahkan tangannya untuk memukul dada bidang Tuan Ansell dengan gerakan yang pelan. "Kenapa bercanda seperti itu, itu kan tidak lucu sekali aku hampir saja mati ketakutan," kata Ava dengan bibir yang mengerucut tebal.


Selang beberapa waktu kemudian.


Saat ini penampilan Ava sudah terlihat rapi seperti sebelumnya meskipun terdapat bercak kemerahan di bagian lehernya, tapi masih bisa Ava tutupi menggunakan rambutnya yang terurai rapi. Tuan Ansell masih tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri, bahkan lelaki itu pun hanya mengenakan celana panjangnya saja tanpa menggunakan lagi kemejanya.


Ava mengalihkan pandangannya ke arah lain ia merasa sangat malu sekali hingga bisa merasakan kedua pipinya yang memerah bagaikan kepiting baru saja dimasukkan ke dalam air yang mendidih.


"Tu-tuan, kenakanlah bajumu nanti ada yang mengetuk pintu," kata Ava dengan kepala yang tertunduk.


"Bantu aku mengenakannya," pinta Tuan Ansell. Menggoda istrinya benar-benar menjadi hal yang paling menyenangkan baginya akhir-akhir ini, rasa lelahnya bahkan bisa melebur seketika ketika melihat wajah polosan istri yang nampak tertekan setiap kali ia suruh untuk berdekatan dengannya contohnya seperti sekarang ini.


"Kenapa harus aku?" tanya Ava tanpa berani melihat ke arah suaminya.

__ADS_1


"Perlukah aku meminta bantuan para pekerja perempuan di kantor ini untuk melakukannya?" tanya Tuan Ansell balik.


"Ja-jangan," kata Ava dengan cepat. "Biar saya saja yang membantu," sambung Ava lagi.


Ava belanja berdiri dari posisi duduknya lalu mengambil kemeja yang sudah tergeletak di atas lantai. Wanita itu kembali menghampiri suaminya kemudian mengenakan kemeja itu di tubuh kekar sang suami dengan kepala yang masih tertunduk malu. Tuan Ansell semakin merasa gemas ketika melihat ekspresi sang istri yang malu-malu seperti ini.


"Kau bahkan sudah melihat setiap inci tubuhku tetapi kenapa masih malu?" goda Tuan Ansell.


"Tuan, jangan berbicara seperti itu," kata Ava dengan kepala yang semakin tertunduk dan bibirnya juga terlihat mengerucut.


"Apakah kau malu?" tanya Tuan Ansell.


"Kenapa masih bertanya jika sudah tahu apa jawabannya," kata Ava.


Kedua bola mata Ava langsung membulat penuh ketika Indra pendengarannya menangkap seseorang yang sedang mengetuk pintu ruangan ini dengan begitu keras sekali. Tangan Ava langsung gemetar ketika mengancingkan satu persatu kemeja suaminya. Ansell bukannya merasa gugup justru lelaki itu malah tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi istrinya sekarang, Ava begitu lucu sekali menurutnya.


"Cepat kenakan sendiri," kata Ava gugup.


"Buka saja pintunya," kata Ansell. 


"Aku akan membuka pintunya, tetapi lekaslah kenakan kemejamu dan juga jas itu dengan benar," kata Ava sembari melangkah mendekati pintu ruangan ini.


"Papa," mata Ava gugup.


"Astaga! Apa yang kalian lakukan di dalam sana sehingga membuka pintu saja lama sekali," kata Tuan Sam.

__ADS_1


__ADS_2