Wanita Seharga 2 Miliar

Wanita Seharga 2 Miliar
Keinginan Sederhana Ava


__ADS_3

Ava memegangi tangan Tuan Ansell yang kini sedang merayap di balik dress yang sedang ia kenakan. Ava memutar membulatkan kedua matanya pada Tuan Ansell ketika melihat seringai mesum lelaki itu yang seakan sedang mengajaknya untuk melakukan tindakan tidak senonoh di dalam ruangan ini. Benar-benar lelaki yang mesum sekali dan lebih menyebalkan lagi hal itu dilakukan di tempat umum begini. Astaga! Andaikan saja Ava tidak ingat jika Tuan Ansell adalah orang terpandang di negara ini maka sudah bisa dipastikan jika lidahnya tak akan ragu untuk mengeluarkan rentetan makian.


Ava mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia melihat para koki dan juga waitress menundukkan kepala mereka. Orang-orang malang itu pasti sedang meratapi nasib mereka, jadi tak perduli dengan apa yang sedang terjadi di sekitar mereka sekarang.


“Sa-sayang, jangan lakukan ini,” ujar Ava sembari berbisik di dekat telinga Tuan Ansell.


Wanita itu pasti tidak tahu jika telinga merupakan salah satu hal sensitif bagi seorang lelaki. Secara tidak langsung Ava sudah membangunkan sang junior yang kini sedang tertidur lelap.


Tuan Ansell mengigit bibir bagian bawahnya ketika ia merasakan sensasi mengelitik saat nafas sang istri membelai lembut telinganya. Tuan Ansell melihat wajah Ava yang begitu polos sekali, ia menghembuskan nafasnya di udara mencoba untuk membuang gelora yang bangkit tanpa diminta.


“Kau mau aku suapi dengan apa?” goda Tuan Ansell pada Ava.


“Dengan sendok masa dengan mulu ....” Ava langsung memukul pelan mulutnya sendiri ketika ia hampir saja mengeluarkan kata-kata laknat untuk yang kali kedua di meja makan ini.


Tuan Ansell menyeringai puas ketika melihat wajah Ava yang memerah, entah mengapa mengoda istrinya membuat Tuan Ansell merasa bahagia dan ketagihan. “Saran kamu itu bagus juga,” jawab Tuan Ansell.


“Ti-tidak, Sayang jangan lakukan itu,” ujar Ava dengan mengelengkan kepalanya dan wajah memohon yang sedang wanita itu tunjukkan di hadapan Tuan Ansell sungguh mampu membuat Tuan Ansell terkekeh geli.


Tuan Ansell mulai mengambil satu sendok sup ikan yang telah ia campur dengan nasi. Ava sudah membuka mulutnya saja dan siap menerima suapan pertama itu. Tapi tidak disangka ternyata Tuan Ansell meniup isian yang ada di dalam sendok itu terlebih dahulu, membuat Ava menutup mulutnya lagi.


“Aku tidak ingin jika sampai lidah kamu itu terbakar karena melahap sesuatu yang masih panas,” jelas Tuan Ansell sembari menyodorkan satu sendok makanan itu di hadapan Ava.


“terima kasih,” jawab Ava kemudian membuka mulutnya.


Ava mengulas senyuman tipisnya ketika ia melihat Tuan Ansell yang begitu perhatian padanya. Ava merasa bahagia sekali dan ia ingin hal semacam itu terus berlangsung di kehidupannya. Semoga saja.


“Sayang, bisakah jika biarkan mereka untuk kembali melanjutkan tugasnya,” pinta Ava dengan mengalungkan kedua tangannya manja di leher Tuan Ansell. Mulut Ava masih mengunyah mencoba untuk menghabiskan makananya.


“Kalian boleh pergi sekarang!” titah Tuan Ansell.


“Terima kasih Tuan,” ujar semua orang dengan waktu yang hampir bersamaan. Setelah membungkukkan setengah tubuh mereka untuk memberikan hormat, semua pekerja itu segea masuk ke dalam dapur.


“Apakah sekarang kau sudah merasa puas?” tanya Tuan Ansell.

__ADS_1


“Ya, terima kasih,” ujar Ava pada Tuan Ansell sembari memamerkan senyuman manisnya.


“Berterima kasihlah dengan acara yang benar,” pinta Tuan Ansell sembari menaikan satu alisnya.


“Saya tak punya uang, jadi tidak bisa mentraktir Anda makan malam,” wab Ava jujur.


“Apakah selain uang kau tak bisa memikirkan cara yang lain lagi?” tanya Tuan Ansell.


“Misalnya?” tanya Ava balik dengan wajah polosnya.


Tuan Ansell tidak bicara, lelaki itu menjentik-njentikkan tangannya di mulut dengan air muka datar.


“Apakah dia sedang minta cium?” tanya Ava pada dirinya sendiri. Wanita itu mengaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung, tanpa berpikir panjang Ava langsung menyatuhkan kedua bibir mereka.


Satu sedik kemudian Ava memisahkan kecupan itu, tapi Tuan Ansell justru mengarahkan tangannya menarik tengkuk Ava hingga kecupan yang singkat itu kembali terjalin. Ava memukul pelan dada Tuan Ansell meminta untuk menyudahi kecupan itu, tapi Tuan Ansell tak perduli karena kini geloranya sudah mulai bangkit, Ava sungguh begitu pandai sekali membangunkan juniornya tanpa melakukan banyak hal.


***


“Kita akan menginap di hotel malam ini,” jawab Tuan Ansell sembari menatap ke arah Ava mengunakan ekor matanya sekilas.


“Menginap di hotel? Memangnya ada acara apa?” tanya Ava dengan polos.


“Tidak ada acara apa-apa,” jawab Tuan Ansell santai.


“Lalu kenapa kita pergi ke hotel? Kita di rumah saja nanti Papa mencari kita,” kata Ava.


“Aku sudah mengatakan pada Papa, dia tak masalah,” jawab Tuan Ansell yang memang sudah menduga jika Ava pasti akan membuat alasan dengan menyebutkan nama papanya.


Tak ada perbincangan lagi. Ava memilih untuk pasrah mau di bawa kemana saja oleh sang suami. Kini ava sedang fokus melihat ke arah jalanan, ia melihat ada kedai yang menjual kebab di pinggir jalan. Ava tiba-tiba mengusap perutnya sendiri karena merasa lapar, ia membuka jendela untuk melihat kedai yang sangat ramai pembeli itu, ia ingin meminta Tuan Ansell untuk memelikan kebab untuknya, tapi Ava takut lelaki itu akan marah dan mengatainya rakus sebab tadi di restoran Ava sudah menghabiskan banyak hidangan dan juga dua porsi nasi belum lagi cake dan juga dua gelas jus.


Ava melihat ke arah Tuan Ansell ketika mobil ini berhenti di pinggir jalan. Ava melihat Tuan Ansell yang baru saja melepaskan sabuk pengamannya. “Sayang, mau ke mana?” tanya Ava.


“Aku ingin makan kebab, kau mau ikut atau tetap di dalam mobil,” kata Tuan Ansell sembari mengarahkan tangannya untuk membuka pintu mobil ini kemudian melangkah keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


“Tentu saja aku akan ikut,” jawab Ava dengan kegirangan. “Sepertinya Tuhan sedang baik padaku, karena ia mengerakan hati Tuan Ansell untuk menginginkan apa yang aku inginkan sekarang,” batin Ava di dalam hati merasa bersyukur sekali.


Tuan Ansell melirik ke arah Ava yang kini sedang tersenyum manis sembari mengandeng tangannya, Tuan Ansell suka sekali ketika melihat Ava bermanja-manja padanya seperti ini, karena Ava selama ini tak pernah bersikap manja bahkan sering kali menjaga jarang dengannya. Dan hal itu membuat Tuan Ansell merasa tergangu.


"Wanita lain akan bahagia jika diberikan banyak uang dan juga kartu black card, tapi dia bahagia hanya karena sepotong kebab,” batin Tuan Ansell.


Ya, lelaki itu tahu jika Ava tadi sedang menginginkan kebab hanya saja wanita itu tak berani bicara. Sebenarnya Tuan Ansell begitu anti makan di pinggir jalan bahkan hal itu tak pernah ia lakukan sebelumnya, tapi demi melihat senyuman Ava, lelaki itu rela melakukan apapun termasuk makan di pinggir jalan. Entah sejak kapan kebahagian Ava menjadi prioritas utama baginya.


Tuan Ansell menarik satu kursi yang tersedia kemudian meminta Ava untuk duduk di sana sedangkan lelaki itu akan memesankan kebab yang Ava inginkan.


“Satu kebab jumbo dengan banyak sayuran dan juga saus, ingat banyak sayuran,” ujar Ava dengan begitu jelas. Ava menyukai begitu banyak sayuran, jadi ia akan selalu meminta banyak sayuran.


Tuan Ansell yang merasa gemas melihat tingkah Ava segera mencubit kedua pipinya. Ava hanya tersneyum manis membuat Taun Ansell semakin gemas saja.


“Aku akan membawakan begitu banyak sayuran untukmu, tunggu di sini dan jangan lihat kemana-mana,” kata Tuan Ansell dengan ucapan penuh perintah.


Jiwa penasaran Ava mulai kambuh, ia hendak mengedarkan pandangan ke sekitar, tapi Tuan Ansell segera menangkup wajah cantiknya dengan gerakan lembut kemudian membuat pandnagan mereka saling beradu satu sama lain.


“Jangan lihat siapapun, aku tak suka istriku melihat lelaki lain.” Kali ini Tuan Ansell berbicara dengan wajah datar seakan ia sedang menunjukkan jika ucapannya serius kali ini. Ava mengangukkan kepala setuju. “Gadis pintar, sekarang mainkan game dalam ponselmu, tunggu aku sampai membawakan apa yang kau mau, kebab berukuran jumbo dengan ebgitu banyak sayuran,” kata Tuan Ansell. Lagi dan lagi Ava hanya bisa menggangukkan kepalanya, mengiyakan apa yang Tuan Ansell katakan.


Setelah Tuan Ansell meninggalkan meja ini. Ava memainkan ponselnya menuruti apa yang suaminya katakan.


Dua orang lelaki yang duduk tidak jauh dari Ava menatap ke arah wanita itu dengan tatapan penuh damba dan juga memuja. Ava terlihat begitu cantik sekali dengan make up naturan dan juga sikap tidak acuhnya akan sekitar membuat para lelaki tertantang untuk mengodanya. Para lelaki itu baru saja datang dan mereka tak tahu jika Ava tidak datang sendirian melainkan dengan sang suami yang kini sedang mengantree kebab untuknya.


“Dia begitu cantik sekali,” puji seoang lelaki tampan dengan baju modisnya. Lelaki itu tak setampan Tuan Ansell tentunya.


“Kalau begitu ajak dia kenalan, sebelum didahului oleh yang lain,” jawab lelaki satunya lagi.


“Oke.”


Di sisi lain.


Tuan Ansell melihat ke arah Ava. Nampaklah seorang lelaki yang kini sedang sibuk berbicara dengan melihat ke arah istrinya. Tatapan Tuan Ansell seketika langsung berubah menjadi tajam, lelaki sialan itu bahkan berani menyentuh pundak istrinya.

__ADS_1


__ADS_2