
Akhirnya hari yang tak pernah Ava tunggu datang juga, dimana sekarang Tuan Ansell telah resmi menjadi pewaris dari perusahaan Almero Group. Kini semua media memberitakan tentang Tuan Ansell yang sudah resmi menjadi pewaris utama perusahaan Almero, berita ini langsung menjadi trending topik tentunya.
“Apakah dia akan menceraikan aku? Ya, dia pasti akan melakukannya karena awal menikah denganku Tuan Ansell memang mencoba untuk mempertahankan semua ini,” kata Ava pada dirinya sendiri.
Kini Ava sedang duduk di sofa yang berada di ruangan kerja Tuan Ansell. Sedangkan Tuan Ansell sendiri kini sedang sibuk meeting. Lamunan Ava buyar ketika ia mendengarkan suara ketukan pintu dari luar ruangan ini, ini pasti bukan Tuan Ansell, karena jika memang ini adalah Tuan Ansell maka lelaki itu akan langsung membuka pintu ruangan ini tanpa harus mengetuknya terlebih dahulu. Saat ini tangan Ava mulai membuka pintu ruangan ini, ia melihat seorang wanita cantik sedang menatapnya dengan wajah datar, Ava mencoba mengingat wajah wanita yang begitu tidak asing di ingatannya.
“Aku merasa kita pernah bertemu sebelumnya, tapi di mana?” tanya Ava pada wanita cantik itu.
“Di pinggir jalan waktu kau makan sendiri malam itu,” jawab wanita tersebut sembari nyelonong masuk ke dalam ruangan Tuan Ansell tanpa menunggu Ava mempersilahkannya.
“Oh ... iya aku baru ingat sekarang, kau Rara,” kata Ava sembari mengulas senyuman manisnya. Ava sudah merasa jika ada yang aneh dengan wanita ini sejak awal ia bertemu, tapi Ava mencoba untuk menepis semua pemikirannya itu dan seperti yang sekarang ia lakukan-mencoba untuk tetap berpikir positif.
“Di mana Ansell?” tanya Rara sembari menyilangkan satu kakinya bertumpu di lutut. Wanita ini melihat ke arah Ava dengan mata tajamnya.
“Kenapa dia menanyakan Tuan Ansell? Apakah mereka berdua saling kenal?” tanya Ava pada dirinya sendiri. “Sikap Rara jauh berbeda seperti sebelumnya, kini ia terlihat begitu angkuh dan juga arogan,” kata Ava masih bergumam di dalam hatinya.
“Apakah kau tuli sehingga tak bisa mendengarkan apa yang aku katakan?” tanya Rara dengan nada terdengar sarkas.
Ava hendak menjawab ucapan Rara, tapi wanita itu buru-buru mengurungkan niat awalnya setelah mendengarkan seseorang membuka pintu ruangan ini.
“Sayang ....” perkataan Tuan Ansell terhenti setelah ia melihat Bar-bara mantan kekasihnya duduk di sofa. Kini tatapan keduanya mulai beradu satu sama lain.
“Sayang, ada yang mencar ....” perkataan Ava mengabang di udara ketika ia melihat Rara berjalan melewatinya. Ava begitu terkejut sekali ketika melihat ke arah wanita itu yang tiba-tiba memeluk Tuan Ansell dengan begitu erat dan rasa terkejut Ava tidak sampai disana saja, ia begitu terkejut sekali setelah mendengarkan ucapan Rara.
"Sayang, aku telah kembali, Sayang maafkan aku karena telah meninggalkan kau di pelaminan, aku sungguh menyesal. Sayang sekarang kembalilah padaku.” Bar-bara berkata sembari mengusap perlahan wajah Ansell. Wanita ini benar-benar tak punya malu, ia bahkan dengan begitu mudah meminta maaf atas kesalahan fatal yang telah ia lakukan.
__ADS_1
“Di-dia adalah wanita yang meninggalkan Tuan Ansell sehari sebelum pernikahan dan karena dia pergi jadi aku yang menjadi penggantinya, kini dia sudah kembali dan aku pasti akan dicampakkan oleh Tuan Ansell,” kata Ava di dalam hati dengan menahan bulir bening yang sudah siap jatuh dari singgah sananya.
Ansell tidak sedikitpun membalas pelukan Bar-bara, lelaki itu justru kini sedang melihat ke arah Ava yang juga menatapnya. Ava melangkah mendekati Ansell tapi tak menegurnya melainkan wanita itu menuju ke pintu, Ansell memegang pergelangan tangan Ava hingga membuat wanita itu berhenti melangkah kemudian melihat ke arah Ansell.
“Lepaskan saya, mungkin ini memang sudah waktunya untuk saya pergi,” kata Ava dengan suara yang bergetar di ujung lidahnya.
“Ava terima kasih, sejak dari awal aku sudah bisa menebak kalau kau itu wanita yang baik,” kata Bar-bara dengan tidak tahu malu.
“Kau salah,” kata Ansell pada Ava.
Ansell mendorong tubuh Bar-bara menjauh darinya kemudian Ansell mulai menarik Ava ke dalam pelukannya bar-bara yang melihat akan hal itu langsung mengerutkan keningnya, ia tak percaya dengan apa yang ddirinya lihat sekarang.
“Ansell, Sayang, apa maksudnya ini?” tanya Bar-bara.
“Seperti apa yang kau lihat, aku memilih istriku, aku mencintainya, aku sudah melupakan kau. Bar-bara benar apa yang Papaku katakan, jika wanita gila harta seperti kau tak pantas untuk dijadikan istri dan aku beruntung karena kau meninggalkan aku dan memilih lelaki lain waktu itu, andaikan saja kau tak meninggalkan aku maka aku tak akan bisa menikah dengan wanita sebaik dirinya,” kata Tuan Ansell sembari mengulas sneyuman manisnya ketika ia melihat ke arah Ava.
“Rara, jaga ucapan kamu itu!” bentak Ava dengan berani. “Menurutku kau itu yang bodoh! Bagaimana mungkin kau bisa kau bisa meninggalkan lelaki sebaik Tuan Ansell, tapi aku juga merasa senang karena kau meninggalkannya, jika waktu itu kau tidak meninggalkannya, maka aku tak akan memiliki kesempatan untuk menikah dan juga merebut hatinya. Aku mencintai Tuan Ansell dan dia juga memilihku, sekarang jangan pernah muncul di hadapan kami, cari kebahagiaan kamu sendiri tanpa melibatkan suamiku di dalamnya.” Ava harus mempertahankan suaminya, ia tak ingin kehilangan Tuan Ansell. Jangan sampai.
Bar-bara langsung naik darah setelah mendengarkan apa yang Ava katakan barusan. Bar-bara mengangkat tangannya dan hendak menampar Ava, tapi dengan sigap Ava langsung mengengam tangaan Bar-bara kemudian mendorongnya sampai jatuh tersungkur ke lanta.
Tuan Ansell mmengulas senyuman manisnya, ia senaang melihat Ava mencoba untuk mempertahankan apa yang ia miliki, karena selama ini Ava selalu saja mengalah demi orang lain dan Tuaan Ansell kurng menyukaiakan hal itu.
“Sayang, lihatlah dia berani mendorongku. Auch! Sakit sekali” renggek Bar-bara mencoba untuk menarik simpati Ansell.
“Berhentilah bersandiwara dan jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu!” hardik Tuan Ansell pada mantan kekasihnya. “Kau mau keluar sendiri atau aku harus meminta pada orang-orangku untuk menyeret kamu keluar dari tempat ini,” kata Tuan Ansell pada mantan kekasihnya.
__ADS_1
Bar-bara sudah kehilangan semuanya. Bertahan di dalam ruangan ini hanya akan membuatnya semakin malu saja. Akhirnya Bar-bara melangkah keluar dari ruangan ini dengan mengehentak-hentakkan kakinya.
Kini hanya ada Ava dan juga Tuan Ansell di dalam ruangan ini.
“Sayang, terima kasih karena kau tak meninggalkan aku dan kembali padanya,” kata Ava sembari memeluk tubuh Tuan Ansell.
“Sayang, aku tak akan pernah melakukan itu, aku sudah jatuh cinta pada kau dan sekarang hanya maut saja yang bisa memisahkan kita. Papa pasti sudah mengetahui tentang perasaan cintaku padamu, mangkannya ia memutuskan untuk memberikan perusahaan padaku," kata Ansell.
Tuan Ansell mengarahkan tangannya untuk meraih tengkuk Ava kemudian mendaratkan kecupan dibibir ranum istrinya. Avaa dengan sennag hati membalas kecupan itu dengan hati yang bahagia. Sekarang tak ada lagi orang yang bisa memisahkan mereka kecuali hanya maut saja. Dan Ava suka akhir yang bahagia seperti ini.
HAPPY ENDING.
Jangan lupa ikuti akun mangatoon/noveltoon author agar ketika author membuat karya baru maka kalian bisa langsung membacanya. Dan jangan lupa follor ig Khairin_junior jika kalian ingin tahu author menulis di mana saja. Terima kasih karena sudah berkenan untuk membaca novel reche ini. Salam hangat Khairin Nisa.
Novel baru akan hadir yuk baca juga. ini covernya
SPOILER BLURD
Takdir sedang mempermainkan kehidupan seorang gadis remaja yang berusia sekitar 19 tahun. Gadis yang akrab dipanggil Sivani itu baru saja kehilangan kedua orangtuanya dan kini ia dihadapkan dengan kenyataan memilukan, usaha kedua orangtuanya jatuh bangkrut dan meninggalkan begitu banyak hutang.
Sivani menangis di pusara kedua orangtuanya, bingung memikirkan nasibnya, akan tinggal di mana dia? Lalu bagaimana cara membayar hutang-hutang kedua orangtuanya sedangkan serupiah pun ia tak punya.
Seorang lelaki datang bagaikan secercah harapan bagi Sivani. Itu adalah Mas Duwika-Kakak angkatnya. Sivani merasa bahagia karena ia tahu jika dirinya tidak sendirian lagi, tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika Sivani tahu jika kedua orangtuanya menginginkan dirinya dan juga Mas Duwika menikah. Tapi yang jadi masalah, Kakak angkat Sivani sudah memiliki seorang istri dan wanita itu tak mau dimadu.
Lalu bagaimana dengan kehidupan Sivani selanjutnya?
__ADS_1