Wanita Seharga 2 Miliar

Wanita Seharga 2 Miliar
Teman Baru


__ADS_3

Ava sedang duduk sendiri dengan menikmati makanan yang ada di atas mejanya, wanita itu sesekali mengedarkan pandangan ke sekitar berharap jika Tuan Ansell tiba-tiba akan datang dan langsung menemuinya. Ava hanya bisa tersenyum getir karena ia tahu pasti Tuan Ansell malah suka jika dia tak kembali dan mungkin lelaki itu akan merasa cemas jika melihat Ava kembali ke hotel sebab ia mencari kedai yang ada di sekitar hotel tempat mereka berdua menginap.


“Bolehkan saya duduk di sini?” tanya seorang wanita cantik yang sudah berdiri di depan Ava.


Ava langsung mengangkat pandangannya kemudian melihat ke arah orang itu, wanita cantik sekali dengan rambut berwarna hitam sepakat malam, kedua manik matanya begitu menggoda siapa saja untuk memuji kecantikannya, kulit seputih susu yang seakan menunjukkan jika lelaki itu begitu merawat tubuhnya dan Astaga! Wanita ini begitu cantik sekali hingga membuat Ava seperti melihat seorang bidadari yang baru jatuh dari langit.


“Bolehkan jika saya duduk di sini, duduk sendiri rasanya kurang nyaman karena tidak ada teman mengobrol,” ujar lelaki cantik itu untuk kali kedua kalinya. Wanita itu tersenyum manis di hadapan Ava seakan sedang membujuk Ava untuk mengiyakan apa yang wanita itu inginkan.


“Te-tentu saja,” jawab Ava sampai gugup. Ava melihat ke arah wanita cantik itu, wanita ini begitu ramah sekali padahal mereka baru kali pertama bertemu. Ava bisa menebak jika wanita ini pasti anak orang kaya sebab semua barang yang melekat pada tubuhnya barang-barang branded dan Ava tahu itu.


“Maaf jika saya mengganggu kamu,” kata wanita cantik itu sembari memasukkan satu sendok nasi bercampur ikan bakar kedalam mulutnya.

__ADS_1


“Tidak menggangu sama sekali, memang lebih enak jika makan berdua,” jawab Ava dengan tangan yang mengaduk sedotan dalam gelasnya.


“Perkenalkan nama saka Rara,” kata wanita cantik itu dengan mengulurkan tangannya di hadapan Ava, seulas senyuman manisnya benar-benar membuat Ava sampai terpesona padahal dia wanita. Sungguh cantik sekali.


“nama saya Ava,” jawab Ava dengan menjabat tangan wanita itu. Ava membalas seulas senyuman manisnya.


“Kenapa kamu makan sendirian?” tanya Rara pada Ava.


“Saranku sebaiknya kamu membangunkannya, bagaimana jika ia mencari kamu dan merasa cemas,” kata Rara mencoba untuk menasehati Ava. “Apakah kamu kau membawa ponsel?” tanya Rara lagi.


“Membawa tapi kehabisan daya,” dusta Ava.

__ADS_1


Rara melihat ke sekitar. Wanita cantik itu membulatkan kedua manik matanya ketika melihat seseorang, Rara buru-buru beranjak berdiri dari posisi duduknya kemudian segera berpamitan pada Ava. Rara pergi dengan terburu-buru tanpa menghabiskan makanannya, wanita itu hanya makan dua suap nasi dalam piring itu. Ava melihat ke arah Rara pergi dan kini wanita itu sudah masuk ke dalam mobil dan melesatkan mobilnya menjauhi kedai ini dengan terburu-buru.


“Ada apa dengannya. Dia seperti habis melihat hantu saja,” batin Ava yang merasa aneh ketika melihat tingkah Rara tadi.


Ava terkejut sekali ketika ada tangan yang menariknya kemudian memeluknya dnegan begitu erat. Ava hendak melepaskan diri, tapi itu segera ia urungkan ketika mengetahui jika ini adalah Tuan Ansell, lelaki ini datang mencarinya dan tiba-tiba memeluknya. Apakah Tuan Ansell merasa cemas ketika terbangun dan tak melihat keberadaannya did alam ruangan hotel? Ava tak mengetahui jawaban itu jika tidak bertanya pada Tuan Ansell sendiri.


Tuan Ansell melepaskan pelukannya kemudian lelaki itu melirik ke atas meja di mana ada dua piring di sana. Air muka cemas yang tadinya sempat Tuan Ansell tunjukkan kini mulai berubah menjadi datar. Kedua alisnya yang berkerut menunjukkan emosi yang terpendam.


“Kau pergi makan dengan siapa? Kenapa pergi secara diam-diam dan tak memberitahukan padaku terlebih dahulu? Apakah kau kira aku tak akan terbangun di tengah malam! Kau bahkan dengan sengaja mematikan sambungan telepon agar aku tak bisa melacak keberadaan mu, aku menyuruh semua orang-orang ku untuk mencari keberadaan kau di sekitar hotel. Tapi ternyata aku sendiri yang menemukan keberadaan mu, sekarang coba katakan kau makan dengan siapa? Siapa lelaki yang sudah membujuk kau menyelinap keluar di tengah malam, akan aku hancurkan siapapun dia.” Tuan Ansell berbicara panjang lebar dengan dada naik turun seakan sedang menahan emosi yang membara di dalam sana. Bagaikan ada seseorang yang melemparkan sebatang korek api ke dalam genangan benci. Kira-kira seperti itulah yang di rasakan oleh Tuan Ansell.


Ava terdiam, ia begitu terkejut sekali melihat respon yang Tuan Ansell tunjukkan sekarang, Ava benar-benar tak menyangka jika lelaki ini cemburu, bisakah Ava berpikir seperti itu?

__ADS_1


“Apakah mungkin tadi Rara pergi dengan terburu-buru karena melihat kehadiran Tuan Ansell?” tanya Ava pada dirinya sendiri.


__ADS_2