
Ava melihat ke arah pintu bercat merah bata, itu adalah pintu rumahnya. Rumah ini mungkin tidak terlalu besar tapi memiliki kebun bunga kecil dan terlihat begitu terawat ketika ia masih tinggal di rumah ini, tapi sekarang taman bunga kesayangan Ava sudah hancur, bunganya layu dan juga berguguran, tanah dari bunga itu juga terburai dengan pot yang sudah tergeletak tak berbentuk lagi. Ava menggertakkan giginya marah melihat semua itu, rumah mendiang kedua orangtuanya tak terawat sama sekali.
“Dia masih tidak berubah, tak pernah mau menyentuh apapun kecuali peralatan make up nya,” gumam Ava di dalam hati dengan tersenyum miris.
Tuan Ansell memperhatikan wajah Ava, ia bisa menebak jika istrinya merasa sangat sedih sekarang. “Apakah kita hanya akan berdiri di depan rumah ini, atau masuk ke dalam?” tanya Tuan Ansell. Lelaki itu sengaja berbicara seperti itu guna untuk membuyarkan kesedihan yang kini sedan menyelimuti hati istrinya.
"Aku tidak ingin masuk, kita pergi saja menemui mereka berdua,” kata Ava.
“Aku akan menyuruh orang yang membersihkan rumah ini! Dan rumah ini adalah milikmu,” kata Tuan Ansell.
“Ya, aku tahu. Dan terima kasih atas semua bantuan yang telah Anda berikan pada saya,” kata Ava pada Tuan Ansell.
“Tak Perlu berterima kasih, kau adalah istriku dan sudah sewajarnya aku menjaga dan juga membantu kamu dalam segala hal,” kata Tuan Ansell.
__ADS_1
Hati Ava seketika langsung berubah menjadi hangat. Ada perasaan aneh yang tak bisa untuk ia jelaskan, tapi Ava bahagia sekali dan ia berharap semoga saja Tuhan menyelipkan cinta di hati Tuan Ansell untuknya. Ava sudah jatuh hati pada Tuan Ansell dan ia sudah menyadarinya sejak dari awal, mungkin sejak lelaki itu bersikap lembut padanya dan juga menolongnya ketika di hajar oleh Maria dan juga Emma ketika ia sedang lari pagi waktu itu.
Penjara.
“Ma, Emma nggak mau ada di dalam penjara selamanya, bisakah jika Mama menyewa pengacara untuk membantu kita,” bujuk Emma sembari bergelayut di lengan tangan Maria yang kini sedang berdiri di sudut jeruji besi.
"Tanpa kamu minta, Mama sudah mencoba untuk mencari pengacara, tapi mama tak bisa mendapatkannya, tak ada satupun pengacara yang mau membantu kita karena mereka semua takut pada Tuan Ansell,” jelas Maria sembari menyandarkan kepalanya pada jeruji besi. Ia sudah bisa melihat masa depan mereka akan selalu terkurung di dalam jeruji besi yang begitu kokoh ini.
Kedua manik mata Emma seketika langsung membulat penuh ketika melihat kedatangan Ava dan bersama dengan Tuan Ansell.
Aya terlihat begitu cantik sekali. Semua kain yang menempel ditubuhnya adalah barang-barang bermerek. Emma semakin merasa iri melihat cara berpakaian Ava sekarang, adik tirinya itu menjelma menjadi gadis jelita yang begitu mempesona mata siapa saya yang menatapnya. Dan Emma benci akan hal itu.
“Ava, tolong lepaskan Emma dan juga mama dari tempat ini, kami berjanji akan menghilang dari hadapan kamu selamanya,” bujuk maria sembari mengarahkan tangannya untuk memegangi tubuh Ava.
__ADS_1
Ava mundur beberapa langkah ke belakang mencoba untuk menghindar. “Bukankah waktu itu kalian juga berjanji memutuskan hubungan denganku ketika hendak menandatangani surat kontrak itu,” kata Ava dengan tatapan penuh intimidasi. “Kalian juga pernah melanggar janji-janji yang lain,” sambung Ava sembari melirik ke arah Tuan Ansell yang kini sedang melihatnya.
“Apa yang harus aku lakukan untukmu?” tanya Tuan Ansell sembari mengarahkan tangannya untuk membelai lembut wajah cantik Ava.
Emma merasa begitu iri sekali, tapi ia mencoba untuk menahan diri agar tidak menyerang Ava. Mau menyerang Ava juga tak akan bisa karena kini Emma terkurung di dalam jeruji besi.
“Biarkan mereka menikmati sisa hidup mereka di dalam jeruji besi dan pastikan jika di dalamnya akan ada orang yang mengusik mereka,” pinta Ava dengan menatap ke arah maria dan juga emma dengan mata elangnya.
“Ava kau tak bisa melakukan itu pada kami,” teriak Maria.
“Ava, aku akan membunuh kau jika keluar dari tempat ini!” ancam Emma pada Ava dengan tangan yang berusaha menggapai tubuh adik tirinya itu.
“Ini adalah kebaikanku untuk kalian, jika aku bersikap lebih kejam lagi mungkin akan aku biarkan kalian menjadi pemuas nafsu para pengawal suamiku hingga mati dalam keadaan tanpa harga diri,” ujar Ava sembari mengulas senyuman sadisnya. “Ups ... kalian memang sudah tak memiliki harga diri sejak masuk ke dalam club malam untuk menggoda para lelaki hidung belang.”
__ADS_1
Setelah puas bicara Ava pergi meninggalkan mereka berdua.