Wanita Seharga 2 Miliar

Wanita Seharga 2 Miliar
Tak Pandai Merayu


__ADS_3

Hati Tuan Ansell rasanya bagaikan tercabik-cabik setelah mendengarkan penjelasan yang barusan Ava katakan. Tuan Ansell sungguh tak pernah menduga jika Ava ternyata mengalami nasib yang begitu memilukan sekali, anak sekecil itu sudah berjuang dengan kehidupannya sendiri. Tuan Ansell sejak dari kecil selalu mendapatkan apapun yang lelaki itu inginkan, jadi tidak heran jika ia begitu terkejut sekali setelah melihat dan juga mendengarkan secara langsung kepiluan hati istrinya-wanita yang ia nikahi secara paksa ternyata memiliki nasib yang begitu malang sekali.


Tuan Ansell memeluk tubuh Ava semakin erat. Ia menatap ke arah petugas penjara kemudian berkata. “Pindahkan mereka ke tempat yang jauh lebih menyedihkan dari ini dan pastikan juga mereka satu sel dengan orang-orang paling kejam di penjara ini!” titah Tuan Ansell pada kedua polisi itu.


Kedua polisi itu adalah orang-orang yang pernah Tuan Sam biayai kehidupannya hingga bisa menjadi seperti sekarang ini, jadi tidak heran jika mereka begitu menghormati Tuan Ansell.


“Kami akan memastikan jika semua ucapan Tuan Ansell terlaksana,” sahut salah satu polisi dan yang lain menggangukkan kepala.


“Ava, tolong maafkan kami, Ava kami sungguh berjanji tak akan pernah mengulangi hal yang sama,” jerit tangis Maria dan juga Emma terdengar begitu memilukan sekali.


Tuan Ansell merangkul pundak istrinya, kemudian membawa Ava menjauh dari kegaduhan itu. Ava menyandarkan kepalanya di bahu Tuan Ansell, air matanya jatuh membasahi kemeja berwarna hitam yang sekarang sedang suaminya itu kenakan. Tuan Ansell yang merasa tidak tega melihat kondisi Ava yang terpuruk seperti ini memilih untuk membopong tubuh istrinya menuju ke mobil.


Ava tidak menolak, ia justru merasa bersyuku sekali karena Tuan Ansell mengendongnya, Ava yang merasa nyaman segera menyandarkan kepalanya di dada bidang Tuan Ansell. Tuan Ansell menurunkan Ava dari gendongannya ketika mereka berdua sudah ada di depan mobil ini. Dengan penuh perhatian Tuan Ansell membukakan pintu untuk istrinya, ketika Ava masuk, Tuan Ansell menaruh tangannya di atas kepala Ava karenaa takut sang istri terbentuk atap mobil ini.


Ava menatap ke arah Tuan Ansell yang kini mengerakkan tangannya untuk menutup pintu mobil ini. Ava mmerasa sangat senang sekali karena pada akhirnya Tuan Ansell bersikap baik padanya, tapi ada rasa takut yang mulai merayapi tubuh Ava, dia takut jika sampai Tuan Ansell meninggalkannya. Ava menarik nafas dalam mencoba untuk mengusir prasangka buruk yang sedang mengelayuti hatinya kini.

__ADS_1


***


Saat ini Ava dan juga Tuan Ansell sedang duduk di salah satu restoran bintang lima yang ada di negara ini. Tuan Ansell melihat ke arah daftar menu yang ada di tangannya, sedangkan Ava sama sekali tak mau menyentuh daftar menu yang ada di hadapan mereka, entah mengappa dia merasa perutnya begah dan seakan tak ingin memasukkan apapun ke dalam perut kosongnya ini, Ava masih mengingat kejadian di dalam penjara tadi itu membuatnya merasa kurang nyaman.


“Sayang, kau mau pesan makanan apa?” tanya Tuan Ansell sembari menaru daftar menunya di atas meja. Tuan Ansell tidak berselera makan ketika melihat tatapan kosong Ava. Lelaki itu seakan bisa merasakan kesedihan yang sang istrinya rasakan sekarang.


“Terserah kamu saja Sayang,” jawab Ava sembari memaksakan senyuman dibibirnya.


Tuan Ansell menggangukkan kepalanya kemudian segera melihat ke arah waitress yang ada di sampingnya lalu berkata, “Bawakan semua makanan yang ada di restoran ini!” titah Tuan Ansell pada waitress itu kemudian melambaikan tangannya tanda mengusir.


“Ada yang bisa saya bantu Nona?” tanya waitress itu.


“Tolong bawakan saya satu porsi sup ikan dengan jus mangga dan satu porsi cake coklat, satu porsi cake keju,” ujar Ava sembari melirik ke arah Tuan Ansell. “Saya sudah memesan makanan, sekarang giliran kau yang memesan makanan Sayang,” kata Ava pada Tuan Ansell.


“Pesan menu yang sama dengannya!” perintah Tuan Ansell pada waitress itu.

__ADS_1


“Akan segera saya siapkan.” Setelah bicara waitress itu segera berjalan menjauh dari meja makan ini.


“Sayang, jangan menghamburkan banyak uang karena di luar sana begitu banyak orang yang kekurangan makan dan contohnya seperti aku dulu,” Ujar Ava.


“Kau yang memaksaku tadi,”  jawab Tuan Ansell sembari menyandarkan punggungnya di kursi dengan melipat angkuh kedua tangannya di depan dada.


Setelah beberapa waktu kemudian akhirnya semua hidangan itu ada di meja makan. Ava yang tak memiliki selera makan hanya bisa mengaduk-aduk sup ikan dalam mangkuknya, Tuan Ansell yang melihat akan hal itu segera melambaikan tangan pada para waitress yang ada di sekitarnya.


Kini semua waitress sedang berbaris rapi di dekat mejanya. Ava yang melihat pemandangan itu sibuat kebingungan sekali.


“Ada apa?” tanya Ava pada Tuan Ansell dengan tatapan penuh selidik.


“Jika kau tidak menyentuh makanan ini maka semua koki dan juga waitress akan berhenti dari pekerjaannya!” ancam Tuan Ansell. Lelaki itu sengaja melakukannya agar Ava tak kehlangayn selera makan dan juga bisa melangkah ke depan tanpa memikirkan apa yang terjadi dibelakangnya.


Tuan Ansell memang sangat susah sekali untuk bersikap baik pada wanita sebab selama ini semua wanita yang datang dan juga pergi di kehidupannya kebanyakan tak perlu di manjakan karena yang mereka butuhkan hanya uang dan juga barang-barang mahal untuk memenuhi nafsu belanja mereka. Tapi tuan Ansell mungkin lupa jika Ava tidak termasuk dari para wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2