Wanita Seharga 2 Miliar

Wanita Seharga 2 Miliar
Ava Minta Aku Suapi


__ADS_3

“Pilih makan atau biarkan semua orang-orang tak bersalah ini yang akan menerima hukumannya,” kata Tuan Ansell untuk kali kedua. Wajah datar dan memerintah yang selalu mendominasi air muka lelaki itu seakan mampu mengintimidasi semua orang yang ada di sekitarnya.


Ava mengedarkan pandangannya melihat ke arah waitress dan juga para koki yang kini berdiri tegap dengan kepala yang tertunduk. Ava melihat dengan begitu jelas jika tubuh pada perempuan itu bergetar, kedua tangan mereka yang saling menggenggam satu  sama lain kini sedang diselimuti oleh bulir bening.


“Aku tak bisa membiarkan mereka menanggung apa yang aku lakukan, lagi pula makanan ini lezat dan juga nikmat hanya saja mood makannya yang terganggu,” batin Ava di dalam hatinya. Ava melihat ke arah Tuan Ansell yang kini menatapnya dengan tak berkedip.


“Jangan salahkan mereka, saya tak memiliki selera makan,” ujar Ava mencoba untuk membela orang-orang yang tak berdosa itu.


“Aku tak menerima adanya alasan, Sayang.” Suara Tuan Ansell terdengar tegas dan juga mengancam.


Para waitress mengigit bibir bagian bawah mereka, kening semua koki mengeluarkan bulir bening dari balik pori-porinya. Suasana di dalam tempat ini terasa begitu pengap sekali, seakan tak ada sirkulasi udara yang masuk. Para waitress dan juga koki seakan tak bisa bernafas dengan leluasa karena perasaan takut yang seakan menekan sebagian oksigen di dalam paru-parunya hingga membuat mereka harus bernafas sangat perlahan sekali.


“Kalau begitu suapi aku,” pinta Ava. Entah apa yang sekarang sedang ada di dalam pikirannya, ia berani sekali meminta Tuan Ansell untuk menyuapinya hal ini tentu tak pernah Ava duga, bahkan setelah menyadari apa yang telah ia katakan Ava refleks langsung menutup mulutnya sendiri dengan menggunakan kedua tangan dan matanya membola kaget, mulut laknat ini sungguh suka bicara asal sekali.

__ADS_1


“Tuan Ansell pasti marah padaku, dia menatapku dengan tajam sekali, aura di wajahnya itu bahkan jauh lebih menakutkan dari hantu yang ada di film horor,” batin Ava di dalam hati. Andaikan saja ia bisa menarik ucapannya kembali pasti itu akan menjadi hal yang paling membahagiakan baginya.


“Ava meminta aku untuk menyuapinya, mungkinkah jika dia merasa jika makan dari suapanku maka akan membuat selera makannya itu kembali?” tanya Tuan Ansell pada dirinya sendiri. “Sepertinya aku harus mencari tahu hal itu secara langsung,” sambung Tuan Ansell di dalam hatinya.


Tuan Ansell menjentikkan tangannya dua kali ke arah Ava. Ava yang polos justru malah mengedarkan pandangan ke sekitarnya, ia menunjuk wajahnya sendiri dengan salah satu jarinya ketika menyadari jika orang yang dimaksud Tuan Ansell adalah dirinya. Tuan Ansell menjawab dengan anggukkan kepala.


“Ya Tuhan, semoga saja aku tidak membuatnya marah kali ini,” batin Ava didalam hati merapalkan doa.


Setelah Ava ada di hadapan Tuan Ansell, lelaki itu mulai membuka suara. “Duduk!” titah Tuan Ansell pada Ava.


“Bukan di sana, tapi di sini!” titah Tuan Ansell dengan menunjuk ke arah pangkuannya menggunakan sorot mata penuh ketegasan yang hakiki. Wajah lelaki itu yang nampak sedatar jalanan tanpa lubang sudah menunjukkan jika ia tidak ingin dibantah ataupun berdebat dengan Ava.


“Di sana?” tanya Ava lagi. Ava masih ingin memastikan jika apa yang barusan ia dengar bukanlah suatu kekeliruan belaka.

__ADS_1


“Hem,” jawab Tuan Ansell dengan daheman.


Ava berdiri dengan tegap, mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Semua waitress dan juga koki menundukkan kepala. Semua pengunjung restoran bintang lima ini bahkan menyudahi makan malam mereka ketika melihat para koki dan juga waitress tadi berkumpul di dekat Tuan Ansell. Di dalam negara ini siapa yang berani menyinggung Tuan Ansell maka sudah bisa di pastikan jika kehidupannya akan terlunta-lunta di jalanan. Tuan Ansell memang belum menjadi pewaris utama Almero Group. Tapi semua orang sudah takut padanya seperti ini.


“Menyesal sekali tadi aku minta di suapi olehnya,” gerutu Ava di dalam hati.


Ava tanpa sadar menghempaskan tubuhnya di paha Tuan Ansell hingga membuat lelaki itu langsung membulatkan kedua matanya karena pahanya terasa nyeri dengan tindakan kasar Ava.


“Sa-sayang maaf, aku sungguh tidak sengaja,” ujar Ava dengan wajah yang nampak cemas ketika melihat perubahan air muka Tuan Ansell setelah ia duduk dipangkuan lelaki itu.


“Sayang, ini paha manusia dan buka sofa, kau duduknya dengan sepenuh tenaga begitu,” ujar Tuan Ansell dengan mengusap pipi Ava dengan gerakan? yang lembut.


“Ma, maafkan saya,” kata Ava untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


“Lain kali lakukan kekerasan semacam itu padaku ketika ada di atas ranjang,” bisik Tuan Ansell sembari mengarahkan tangannya untuk merayap di balik dress berwarna pics yang sekarang sedang Ava kenakan.


Ava membulatkan kedua matanya, kemudian menahan tangan Tuan Ansell dan


__ADS_2