
Tuan Ansell merasa begitu kesal sekali ketika ia melihat Ava yang masih juga belum membuka suara untuk menjawab pertanyaannya, hal ini sungguh membuat Tuan Ansell semakin terbakar api cemburu, ia merasa tak rela jika melihat Ava diam-diam bertemu dengan lelaki lain di belakangnya.
“Sampai kapan kau akan diam dan menyembunyikan lelaki itu? Ava, jangan pernah memaksa aku untuk menyelidikinya sendiri,” bentak Tuan Ansell yang memang tak begitu banyak memiliki stok kesabaran.
Semua lamunan Ava tentang Rara buyar setelah suara kasar Tuan Ansell menendang gendang telinganya. Ava melihat ke arah Tuan Ansell yang masih menatapnya tajam seakan hendak mencabik-cabik tubuh kurusnya ini.
“Tuan Ansell, ini semua tak seperti apa yang Anda pikirkan karena saya pergi makan sendiri dan tak ada lelaki, ini adalah piring seorang wanita yang baru saja saya kenal, jadi Anda jangan berpikir yang macam-macam,” jelas Ava panjang lebar karena ia tak mau jika sampai Tuan Ansell mencurigai hal yang salah.
Wajah Tuan Ansell yang tadinya terlihat tajam mulai melunak sekarang. “Kau tidak sedang berbohong?” tanya Tuan Ansell lagi untuk memastikan.
“Tidak, untuk apa saya bohong,” kata Ava sembari memeluk tubuh Tuan Ansell.
Jemari telunjuk Ava bermain manja di dada bidang Tuan Ansell hingga membuat semua emosi yang sempat membuat sesak dada lelaki itu mulai menghilang entah kemana. Jemari tangan Ava yang sedang menari manja di dada bidangnya seakan seperti memberikan sengatan listrik yang bertegangan tinggi pada tubuhnya. Tuan Ansell sampai merasa kesulitan bernafas sekarang, Ava pintar sekali mengalihkan emosinya menjadi suatu gairah.
“Aku sangat menyukai aroma tubuh ini,” kata Ava sembari mencium aroma tubuh Tuan Ansell.
Tuan Ansell menahan nafas dan merasakan suatu riak mulai berkumpul di pusatnya sekarang. Astaga! Gerakan Ava benar-benar mampu membuatnya gila, bahkan Tuan Ansell sampai lupa kata apa yang sempat terlontar dari bibirnya tadi. Gairah ini benar-benar membuatnya hampir gila sekarang.
“Sayang, berhentilah atau aku akan menyeret kau kembali ke hotel sekarang juga untuk melepaskan hasrat ini,” bisik Tuan Ansell di dekat telinga Ava.
__ADS_1
Ava langsung melepaskan pelukannya dari Tuan Ansel kemudian mundur beberapa langkah menjauh darinya. Ava mendudukkan tubuhnya di kursi, ia masih ingin menghabiskan isian di dalam piringnya ini.
Seorang pengawal segera mengambil piring di depan Ava dan memindahkannya ke meja lain. Setelah itu barulah Tuan Ansell mendudukkan tubuhnya di depan Ava. Lelaki itu melihat istrinya sibuk mengunyah makanan dalam piringnya ini sampai membuat kedua pipi Ava penuh dengan makanan.
Ava melihat ke arah Tuan Ansell yang sekarang sedang sibuk menatapnya, Ava berinisiatif untuk menyodorkan satu sendok nasi lengkap dengan lauknya di hadapan Tuan Ansell.
3 detik kemudian.
Tuan Ansell tidak kunjung melahap suapan yang Ava berikan. Ava hanya bisa mencebikkan bibirnya sekilas dengan mulut yang masih mengunyah. Kemudian wanita itu sudah bersiap untuk menarik tangannya hingga akhirnya Tuan Ansell menggengam pegelangan tangan Ava kemudian melahap suapan itu dan membuat senyuman manis terbit dari bibir Ava sekarang.
“Bagaimana rasanya?” tanya Ava.
***
Tuan Sam siang hari ini sedang duduk di taman yang ada di halaman rumahnya, ia membaca buku tentang sejarah negara ini, tatapannya begitu fokus melihat ke arah setiap tulisan yang ada di buku itu hingga terdengarlah suara mobil yang berhenti di halaman rumah ini. Tuan Sam mengalihkan tatapannya dari buku bacaan itu, senyuman manisnya menyambut menantu kesayangan yang baru saja turun dari dalam mobil.
“Papa sedang apa?” tanya Ava sembari melangkah menghampiri lelaki paruh baya itu yang masih duduk santai di sofa dengan ditemani satu cangkir kopi dan juga satu piring roti kering di atas mejanya.
“Papa sedang membaca untuk menghabiskan waktu,” jawab Tuan Ansell sembari menepuk ruang kosong yang ada di dekatnya seakan meminta Ava untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
Ava menggangukkan kepalanya mengerti dengan mengulas senyuman manisnya. Tapi seseorang mendahului Ava untuk duduk di samping Papa mertuanya itu. Ya, itu adalah suaminya memang siapa lagi.
Ava berdiri membeku di posisinya sekarang dengan masih melihat ke arah sang suami yang kini menatapnya dengan wajah menantang seakan Tuan Ansell sudah siap berdebat jika sampai ingin merebut posisi duduknya sekarang. Tuan Sam memijat pelipisnya yang terasa pusing ketika melihat sikap putra semata wayangnya yang seperti ini.
“Dasar anak bodoh! Bagaimana mungkin kau bisa memberikan jarak pada Papa dan juga Ava,” ujar Tuan Sam merasa kesal. Bisa-bisanya putranya ini cemburu padanya yang sudah berusia lanjut dan mungkin tak lama lagi akan menghilang di dunia ini.
“Argh! Kenapa Papa memukul kepala Ansell, sakit,” kata Tuan Ansell sembari mengusap kepalanya yang habis terkena geplakan manja dari sang papa tercinta. Suruh siapa iseng dan cemburu di tempat yang salah.
“Kenapa kau masih berdiri di sana? Lekas cari sofa yang lain,” kata Tuan Ansell dengan penuh perintah.
“Ya,” jawab Ava patuh.
Serang pelayan datang dan membawakan kopi dengan sedikit gula untuk Tuan Ansell dan juga coklat hangat untuk Nona Ava, ya pelayan itu memang sudah hafal betul dengan kebiasaan penghuni rumah ini karena ia sudah lama sekali bekerja dengan keluarga Almero jadi tak merasa heran jika dia hafal betul dengan apa saja yang disukai oleh para majikannya.
Selang beberapa menit kemudian.
“Ansell, Papa sudah begitu tua dan tidak bisa mengurus perusahaan itu lebih lama lagi. Papa akan menyerahkan perusahaan itu padamu,” kata Tuan Sam setelah menaruh kopinya di atas meja.
Deg!
__ADS_1
Seperti ada benda keras yang baru saja menghantam tubuh Ava setelah ia mendengarkan apa yang Papa mertuanya itu katakan. Jika Tuan Ansell sudah mendapatkan perusahaan itu dan semua aset-aset Tuan Sam menjadi miliknya maka, kemungkinan besar Tuan Ansell akan menceraikannya detik itu juga. Ava tidak siap dengan semua ini, ia tidak siap, apa yang harus Ava lakukan sekarang? Ia tahu tahu dan ia tak bisa berpikir, Ava tak menduga jika hari yang begitu ia takutkan terjadi secepat ini. Kenapa harus sekarang? Kenapa tidak satu tahun atau mungkin 10 tahun ke depan saja?