
Ava melihat ke arah Papa mertuanya yang kini sedang duduk di halaman rumah, Ava bergabung bersama dengan Tuan Sam. Mereka berdua duduk bersama dan sesekali mengobrol santai. Tuan Sam memesan kopi pada Bi Ani dan Ava memesan teh hijau tanpa gula dan juga camilan ringan yang rendah kalori Ava merasa jika tubuhnya semakin bertambah gemuk sekarang dan ia harus mengontrol selera makannya yang akhir-akhir ini mulai tak beraturan.
“Kamu sedang diet?” tanya Tuan Sam pada Ava.
“Tidak Pa, hanya menggurangi sedikit makan saja karena akhir-akhir ini Ava merasa begitu sering lapar terutama ketika tengah malam,” jawab Ava jujur.
Tuan Sam menoleh ke arah Ava kemudian berkata, “Apakah Ansell pernah mengatakan jika ia tak suka wanita yang gemuk, sehingga kau berusaha untuk menjaga pola makan?” tanya Tuan Sam.
“Tidak,” jawab Ava singkat.
Bi Ani datang dan menaruh pesanan kedua majikannya itu di atas meja kemudian segera kembali ke dapur.
“Kau harus siap menghadapi kemungkinan apapun,” ujar Tuan Sam. Lelaki paruh baya itu mengambil cangkir kopinya kemudian meniup uap dalam minuman pekat itu, setelah memastikan jika bisa dikonsumsi barulah Tuan Sam menyeruput cairan hitam itu sedikit semi sedikit.
“Apa maksud dari ucapan Papa?” tanya Ava pada dirinya sendiri. Sebenarnya Ava ingin sekali bertanya mengenai ucapan Papa mertuanya itu, tapi Ava memilih untuk menutup mulutnya ketika melihat Tuan Sam sedang menikmati kopi hitamnya.
__ADS_1
Ava ikut mengambil satu cangkir teh hijau yang ada di atas meja, wanita itu mengambil lemon kemudian memerasnya dia tas teh hijau itu perlahan, Ava diam-diam meneguk ludahnya sendiri ketika bisa merasakan betapa asamnya lemon ini jika masuk ke dalam mulut, tapi jika di campur dengan teh hijau rasanya akan nikmat sekali. Setelah memastikan jika teh didalam cangkir itu siap untuk di konsumsi, Ava segera menyeruputnya perlahan dan merasakan lega di tenggorokan.
“Ava, apakah kamu mencintai Ansell?” tanya Tuan Sam ketika lelaki itu sudah menaruh cangkir kopinya ke atas meja. Tuan Sam menatap ke arah Ava masih menunggu jawaban dari menantunya.
Ava diam, merasa malu sudah pasti, mana mungkin ia akan mengakui perasaan cintanya pada sang suami di hadapan Papa mertuanya sendiri. Dan karena rasa malu itulah, Ava tak bisa membuka suaranya sedikitpun.
Tuan Sam tidak merasa tersinggung justru lelaki paruh baya itu terkekeh ketika menyadari perubahan pipi Ava yang sudah merona merah sekarang. “Kamu tak perlu menjawab, Papa sudah tahu jawabannya,” kata Tuan Sam pada Ava sembari mengusap perlahan puncak kepala Ava dengan penuh kasih sayang.
“Ava, Papa berharap jika kamu akan terus mendampingi Ansell dalam keadaan apapun, sebentar lagi Papa akan memberikan perusahaan itu pada Ansell dan di saat itu pasti akan ada cobaan yang begitu besar akan menimpa kehidupan kalian, karena Papa sudah bisa menebak jika dia akan datang dan mencoba untuk menyelinap diantara kalian, Papa ingin kamu tetap mendampingi Ansell, Papa takut tak bisa terus berada di samping Ansell,” ujar Tuan Sam ambigu membuat jantung Ava seketika langsung berdetak tidak karuan.
“Papa tidak boleh berbicara seperti itu, Ava tidak suka.” Ava merasakan dadanya begitu sesak sekali, ia ingat betul bagaimana rasanya kehilangan kedua orangtuanya waktu itu. Ava tidak ingin rasa kehilangan dan juga kepedihan itu akan kembali menghantam kehidupannya. Ava sudah menganggap Tuan Sam sama seperti Papa kandungnya sendiri dan Ava tidak mau berpisah dengan lelaki yang sudah membuat kehidupannya berubah sedrastis ini. Ava tidak mau.
“Ava, kita semua akan pergi dari dunia ini dan tidak tahu kapan waktu itu akan tiba, Papa hanya ingin membuat kamu tetap berada di samping Ansell, lakukan itu untuk Papa,” pinta Tuan Sam dan Ava langsung mengangguk setuju. “Ava, Papa benar-benar mersa begitu bahagia sekali karena memiliki putri cantik dan juga penuh pengertian seperti kamu, di jaman moderen seperti ini hanya segelintir orang saja yang bisa mencintai dan juga menyayangi dengan sepenuh hati dan kamu termasuk dari segelintir orang itu,” ujar Tuan Sam jujur.
“Papa, jangan terlalu memuji nanti Ava tak sanggup membawa berat kepala ini yang semakin mengembang bersamaan dengan pujian yang papa berikan,” ujar Ava mencoba untuk bercanda agar situasi diantara mereka tidak terlalu tegang.
__ADS_1
“Astaga! Kau bisa bercanda juga,” kata Tuan Sam dengan tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat air muka Ava yang begitu menggemaskan sekali.
“Ava juga jika Papa tertawa,” ujar Ava sembari mengulas senyuman manisnya.
“Percayalah Ava, kehadiran kamu di dalam rumah ini sungguh membuat Papa merasa bahagia. Sebelum kedatangan kamu hubungan Papa dan juga Ansell tidak baik-baik saja, ami jarang bicara semenjak ... sudahlah, lupakan semuanya karena yang terpenting bagi Papa kamu ada di dekat Ansell,” ujar Tuan Sam. Lelaki itu tak ingin membuat hati Ava gelisah jadi memilih untuk menelan kembali ucapan yang sudah menggantung di tenggorokannya tadi.
“Ava berjanji akan selalu ada di dekat Tuan Ansell, itu Ava lakukan untuk membahagiakan Papa dan juga karena Ava tak ingin jauh darinya,” jelas Ava pada Tuan Sam.
“Apakah dia meminta kau untuk memanggilnya dengan sebutan Tuan, Ava?” tanya Tuan Sam dan Ava segera menggelengkan pelan kepalanya. “Lalu kenapa kau memanggilnya dengan sebutan itu?” tanya Tuan Sam yang mulai merasa penasaran.
“Karena Ava sudah terbiasa,” jawab Ava.
“Kalau boleh Papa tahu Ansell meminta kamu untuk memanggil apa?” tanya Tuan Sam merasa penasaran.
“Ava berhentilah untuk bertanya-tanya, Papa kan bukan seorang reporter dan jangan selalu ingin tahu tentang hubunganku dengannya, atau nanti aku bisa salah paham.” Ansell tiba-tiba muncul dari balik pintu kemudian menarik Ava hingga kini berdiri di sampingnya.
__ADS_1
“Ja-jangan bicara begitu,” ujar Ava mencoba untuk menasehati suaminya. Tuan Ansell bukannya mendengarkan apa yang Ava katakan, tapi justru lelaki itu menatap tajam ke arah Ava hingga membuat wanita itu segera menundukkan pandangannya takut. “Papa harus ingat apa yang Ansell katakan tadi.” Tanpa menunggu sahutan dari papanya, Ansell langsung menarik tangan Ava masuk ke dalam rumah.
“Astaga, bocah tengik itu sedang cemburu padaku,” kata Tuan Sam sembari menyandarkan punggungnya di kursi yang ia duduki. Tuan Sam tersenyum senang, karena cemburu adalah tanda cinta. Berarti sekarang Ansell telah mencintai menantunya-putri cantiknya.