
1 bulan semenjak mejadian menakutkan itu.
Ava membuka matanya, ia menghirup aroma mint yang menguar dari tubuh suaminya, Ava selalu menyukai aroma mint ini hingga wanita itu mendekatkan tubuhnya kemudian memeluk tubuh Tuan Ansell. Sesekali Ava mengendus aroma memabukkan itu, jantungnya berdetak dengan begitu kencang ketika ia melihat dada bisang Tuan Ansell terekspose begitu saja oleh matanya, lelaki itu tak mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya membuat sekujur tubuh Ava sekika meremang saat mengingat adegan hot yang semalam sempat mereka lakukan hingga jatuh kedalam ledakan gairan yang memuaskan, keduanya jatuh dalam pelukan masing-masing setelah keringat ditubuh mereka menjadi saksi dahsyatnya permainan keduanya.
Ava senyam-senyum sendiri dengan kedua pipi yang sudah merona merah ketika bayangan mesum itu muncul didalam benaknya, sejak kapan Ava begitu mahir sekali membayangkan adegan semacam itu, bahkan darahnya seakan berdesir dengan begitu cepat sekali ketika mengingat bagaimana cara Tuan Ansell mencoba untuk mempermainkan dirinya.
“Mesum!” kata Tuan Ansell sembari mengecup kening Ava.
Ava segera tersadar dari semua lamunan kotornya, wanita itu melihat ke arah Tuan Ansell yang kini sedang menatapnya. Ava mengarahkan tangannya untuk menutupi kedua pipinya yang pasti sudah memerah bagaikan tomat yang hampir membusuk.
__ADS_1
“Jangan menuduh orang sembarangan,” kata Ava pada Tuan Ansell. Sudah ketahuan masih juga berusaha untuk mengelak, Ava tak mungkin mengakui hal memalukan seperti itu, sungguh Ava ingin menghilang sekarang.
Tuan Ansell mengamati kedua bola mata Ava yang bergerak kesana-kemari seakan tak mau bersitatap dengannya. “Sudah ketahuan masih berani mengelak,” tuduh Tuan Ansell yang tak akan mungkin percaya dengan ucapan Ava begitu saja. “masih pagi dan kau sudah sneyam-senyum sendiri, kalau bukan memikirkan kejadian semalam, lalu apa?” tanya Tuan Ansell.
Ava mengaruk kepalanya yang tidak gatal, Tuan Ansell merasa begitu gemas sekali ketika melihat istrinya mencoba untuk memikirkan cara guna selamat dari tuduhan yang udah jelas terbukti benar.
“Aku mau mandi, aku harus memasak,” ujar Ava mencoba untuk kabur. Ava tidak pandai berbohong dan itulah yang sekarang sedang ia pikirkan.
“Di rumah ini begitu banyak sekali pelayan, kau tak usah memasak lagi,” pinta Tuan Ansell.
__ADS_1
“Mana mungkin saya bisa berdiam diri tanpa melakukan apapun,” kata Ava.
“Kau ingin melakukan sesuatu?” tanya Tuan Ansell dengan ambigu. Lelaki itu menaikkan satu alisnya ketika bicara , sorot matanya menunjukkan tatapan ranjang yang tak bisa Ava tebak dengan pemikiran polosnya.
“Tentu saja, saya akan bosan jika hanya makan dan juga tidur setiap hari. Beberapa hari yang lalu saya meminta ijin pada kepala pelayan untuk menyapu halaman rumah tapi tidak boleh,” kata Ava pada Tuan Ansell mengadu.
“Semua wanita ini hidup mewah tanpa melakukan apapun dan juga selalu berbelanja semua barang-barang mahal, tapi semenjak menikah denganku satu kali pun, wanita ini tak pernah mengatakan jika ia ingin berbelanja baju bermerek ataupun barang-barang lainnya, yang ia inginkan justru mengerjakan pekerjaan rumah,” batin Tuan Ansell didalam hatinya merasa heran sekaligus kagum dengan sikap Ava yang seperti ini.
“Kalau begitu sekarang kamu temani aku olah raga di atas ranjang, aku menginginkannya.” Tanpa menunggu Ava menyahutinya Tuan Ansell segera menyatukan kedua bibir mereka, dengan lihai lelaki itu mengabsen deretan gigi istrinya yang rapi dengan sangat teliti.
__ADS_1
Ava hendak menolak, tapi Tuan Ansell mulai mengarahkan tangannya untuk bermain di bawa sana, membuat penolakan Ava berubah menjadi ******* memakukan yang keluar dari biibirnya tanpa bisa ia kendalikan sendiri.
Tuan Ansell mengulas senyuman puas dan semakin semangat untuk bermain setelah mendengarkan sang istri mengerang penuh kenikmatan.