Wanita Seharga 2 Miliar

Wanita Seharga 2 Miliar
Apakah Dia Akan Mencariku


__ADS_3

Kesunyian yang panjang kini sedang menyelimuti mereka berdua, tak ada percakapan. Tuan Ansell masih melihat ke arah Ava dengan wajah datarnya membuat wanita itu semakin gelisah.


“Sebaiknya aku makan kebab saja dari pada menunggunya berbicara, dia tak akan bisa menjawab ucapanku dan mungkin jika Tuan Ansell berniat untuk menjawab ucapanku maka lelaki itu pasti akan mengatakan hal yang nantinya bisa membuat aku tak berselera lagi melahap kebab yang ada di hadapanku sekarang,” batin Ava di dalam hatinya.


“Aku begitu bodoh sekali, mengatakan hal yang tidak seharusnya. Bagaimana mungkin aku meminta suatu hal yang mustahil sedangkan pernikahan ini hanyalah sebuah lelucon belaka untuk Anda,” ujar Ava. Tangannya gemetar ketika meraih kebab yang ada di atas meja dan Tuan Ansell bisa melihat akan hal itu.


“Ava, aku mungkin tak bisa berjanji karena aku pun tak tahu akan isi hati ini, tapi percayalah. Semua hal yang aku lakukan padamu tak ada sangkut pautnya dengan kepemilikan aset Papa, aku benar-benar ingin menjagamu namun, untuk sekarang ini jangan pernah kau tanyakan tentang cinta padaku.” Tuan Ansell berbicara sembari melihat ke arah Ava. Sorot matanya itu terlihat begitu tulus sekali, membuat Ava percaya jika ada harapan dibalik ucapan yang Tuan Ansell katakan.


“Baiklah Sayang, sekarang apakah kita bisa memakan kebab ini?” tanya Ava. Air mukanya nampak cerah setelah mendengarkan penjelasan dari Taun Ansell tidak seperti sebelumnya.


“Ya,” jawab Tuan Ansell.

__ADS_1


Ava melahap makanannya dan sesekali ia bercerita tentang masa kecil penuh canda dan kebahagiaan yang masih ia ingat dalam benaknya. Tuan Ansell tertawa mendengarkan semua itu karena ia tak menduga jika Ava begitu ceria. Ava melahap kebab di tangannya hingga tersisa sebagian, Ava tadi meminta banyak sayuran dan juga caos, hingga kini sebagian caos itu menempel di sudut bibirnya, Tuan Ansell memberikan isyarat agar Ava tak sampai bergerak, Ava pun menuruti permintaan sang suami dengan tak menggerakkan tubuhnya. Tangan Tuan Ansell terulur untuk mengusap saus yang ada di sudut bibir Ava kemudian menjilatnya, Ava yang melihat akan hal itu seketika langsung tersipu malu hingga kedua pipinya kini sudah memerah seperti tomat yang hampir busuk.


Tuan Ansell mencubit gemas salah satu pipi Ava yang merona. Lelaki tak pernah menyangka jika melihat senyuman Ava sudah mampu membuat hatinya tenang dan juga gembira. Wajah gelisah yang sempat Ava tunjukkan membuat Tuan Ansell ikut merasa gelisah dan juga cemas. Ia tak tahu kenapa bisa merasa seperti itu, biarkan sang waktu yang akan menjawab semuanya.


***


Ava membuka matanya, ia menarik selimutnya hingga menutupi bagian atas tubuhnya yang masih polos tanpa satu helai benangpun. Netranya menyapu semua benda yang ada di dalam ruangan ini, ruangan kamar hotel yang begitu megah dan juga indah. Ava tak pernah bermimpi bisa berada di tempat semacam ini.


Ava memiringkan tubuhnya, dibalik remang cahaya lampu kamar tidur dirinya masih bisa melihat wajah sang suami yang kini sedang tertidur dengan begitu pulas sekali. Wajah Tuan Ansell begitu tampan mirip seperti dewa yunani, hingga tidak jarang Ava jatuh dan tengelam dalam pesonanya itu.


Ava memegangi perutnya yang berbunyi, hampir ditengah malam dirinya akan terbangun dan merasa lapar. Jika berada di rumah sang suami, Ava akan pergi ke dapur untuk membuat apapun yang ia inginkan, tapi jika berada di hotel ini maka ia tak tau harus melahap apa, sebab tak ada makanan. Ava ingin membangunkan sang suami tapi ia tak tega jika harus menggangu tidur lelap lelaki itu.

__ADS_1


Ava memutuskan untuk turun dari atas ranjang, membungkukkan tubuhnya untuk memungut setiap helai kain yang tadi sempat terlepas dari tubuhnya. Ia melangkah perlahan menuju kamar mandi, selang beberapa waktu kemudian Ava sudah terlihat segar dengan baju santainya tak lupa ia mengenakan mantel sebab cuaca malam hari ini cukup dingin sekali dan ia tak mau mati kedinginan di luar sana karena mencari sesuap nasi.


Setelah memastikan jika dirinya membawa uang, Ava segera keluar dari kamar hotel ini tanpa berpamitan pada Tuan Ansell.


Beberapa saat kemudian.


Tangan Tuan Ansell mulai meraba-raba tempat di mana sang istri biasanya berbaring. Ia merasakan jika tak ada siapapun di sampingnya, Tuan Ansell mulai memaksakan diri untuk membuka kedua pelupuk matanya, Ia mengedarkan pandangan dan melihat jika Ava tak ada di dalam ruangan ini, Tuan Ansell beranjak berdiri dari posisi duduknya, dengan tangan yang masih mengucek kedua matanya lelaki itu mengajak kakinya untuk melangkah menuju kamar mandi.


Tangan Tuan Ansell membuka pintu kamar mandi. Kedua matanya seketika langsung membola penuh ketika ia menyadari jika kini Ava tak ada di dalam kamar mandi dan juga di seluruh ruangan ini.


“Astaga! Di mana kamu Sayang?” tanya Tuan Ansell sembari menyambar ponselnya.

__ADS_1


Di sisi lain.


“Jika aku tiba-tiba menghilang seperti ini dan juga mematikan ponselku, apakah dia akan mencariku? Atau dia justru akan merasa bahagia karena aku menghilang bagaikan serpihan debu?” tanya Ava pada dirinya sendiri.


__ADS_2