
Saat ini Tuan Ansell dan juga Ava sudah ada di dalam mobil, Tuan Ansell memilih untuk mengemudikan mobilnya sendiri dari pada meminta bantuan pada supir. Tiba-tiba timbullah pemikiran di hati lelaki itu jika ia ingin berdua dengan Ava tanpa ada yang menggangu kedekatan mereka berdua.
Ava melihat ke arah jalanan, rasanya ia sudah lama sekali tidak keluar dari kediaman Almero, padahal juga baru 2 bulan yang lalu, terakhir kali Ava keluar dari kediaman Almero ialah ketika Maria dan juga Emma mencoba untuk menculiknya dan juga melakukan kekeraasn padanya. Hati Ava berdenyut nyeri ketika mengingat semua perlakukan kasar Maria dan juga Emma padanya, keduanya benar-benar tak memiliki hati nurani.
“Bagaimana kabar mereka sekarang,” gumam Ava lirih dengan netra yang masih terus melihat keluar jendela.
“Kau ingin menjenguk mereka?” tanya Tuan Ansell. Gumaman Ava terlalu keras hingga bisa didengarkan oleh Tuan Ansell dengan sangat mudah.
Ava menarik atensinya dari arah jalanan, kini netra cantik itu melihat ke arah Tuan Ansell yang juga menatapnya walaupun hanya sekilas, karena lelak itu kembali fokus untuk mengemudikan mobil ini sebelum terjadi hal yang tidak di inginkan.
“Bolehkah jika saya melihat kondisi mereka?” tanya Ava. Ava mungkin memang begitu membenci mereka berdua, tapi keduanya juga adalah keluargannya meskipun di sini hanya Ava saja yang menggangap mereka sebagai keluarga.
“Aku akan membawa kamu bertemu dengan mereka, kemudian kita akan pergi untuk makan malam di luar,” ujar Tuan Ansell pada Ava. “Pastikan jika kau tak akan iba melihat kondisi mereka berdua,” ujar Tuan Ansell mencoba untuk mengingatkan Ava agar tak tergoda dengan bujuk rayu mereka.
“Entahlah, aku belum melihat kondisinya secara langsung,” ujar Ava yang tidak mudah berjanji karena Ava memang memiliki jiwa kepedulian yang begitu tinggi, ia tidak mudah mengabaikan rasa sakit yang sedang dirasakan oleh orang lain terutama orang itu pernah hidup satu atap dengannya.
Tuan Ansell mengulas senyuman yang sangat tipis sekali, ia sudah bisa menduga jika Ava pasti akan menjawab demikian. Tangan Tuan Ansell tiba-tiba terulur dan mulai mengusap pipi Ava dengan gerakan perlahan.
“Sepertinya aku harus selalu berada di samping kau setiap waktu, jika tidak begitu maka akan ada banyak orang yang nantinya akan memperdaya istriku,” ujar Tuan Ansell.
Tubuh Ava seketika langsung menegang setelah mendengarkan apa yang barusan Tuan Ansell katakan. Apakah benar lelaki itu ingin menjaganya selamanya? Benarkah seperti itu? Berati Tuan Ansell tak akan pernah meninggalkannya? Semua pertanyaan itu seakan berkumpul di lidah Ava, tapi wanita itu tak berani mengutarakan apa yang ada didalam benaknya. Ava takut jikalau Tuan Ansell hanya asal bicara karena sejak awal lelaki itu tak pernah menyukainya, mungkin sekarang memang hubungan keduanya sudah jauh lebih baik, tapi Ava masih ingat betul jika Tuan Ansell mau menikah dengannya karena tak ingin kehilangan warisan dari Tuan Sam. Ya, hanya itu saja.
Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Tuan Ansell akhirnya sampai juga di depan penjara tempat Maria dan juga Emma berada. Ya, sejak dua bulan yang lalu inilah tempat tinggal kedua wanita jahat itu.
__ADS_1
Tuan Ansell mengandeng tangan Ava ketika masuk ke dalam tahanan, ada dua orang polisi yang membimbing mereka menuju ke ruangan Maria dan juga Emma berada. Tuan Ansell sudah lebih dahulu mengirimkan kabar pada keduanya jika ia dan juga Ava akan berkunjung untuk menjenguk kedua tahanan itu, jadi tidak heran jika sang polisi menyambut kedatangan mereka berdua dengan ramah tamah
Sebenarnya Ava dan juga Tuan Ansell bisa menemui kedua tahanan itu di tempat yang telah disediakan, tapi Tuan Ansell menolak karena takut jika sampai Ava terluka sebab kedua wanita itu pastilah dendam pada istrinya dan karena alasan itu kini Ava dan juga Tuan Ansell sudah berdiri di depan jeruji besi yang sudah dua bulan lalu mengurung Maria dan juga Emma.
Keduaa polisi itu menjaga jarak dari Tuan Ansell dan juga Ava, tapi keduanya masih memberikan tatapan waspada. Takut jika ada hal yan tidak di inginkan akan terjadi dan luput dari pantauan mereka.
Ava merasakan pipinya memanas ketika melihat maria dan juga Emma yang mengambil nasi sisa para tahanan lain, nasi itu bahkan terlihat sudah tak layak makan. Emma dan juga Maria berebut nasi yang sudah tak termakan oleh tahanan lainnya dan yang lebih memilukan lagi, makanan itu sudah di injak oleh pada tahanan lain. Sungguh menjijikan. Sungguh menyedihkan nasib mereka. Ava seakan merasa d’javu ketika melihat adengan ini.
Flashback.
“Ma, tolong berikan makanan itu pada Ava, Ava sangat lapar sekali karena sejak tadi siang belum makan apapun, bahkan uang jajan Ava juga sudah Mama ambil,” ujar Ava kecil sembari merengek di bawah kaki Maria yang kini sedang duduk di meja makan sembari menikmati semua hidangan lezat yang ada di atas meja.
Ava tak mendapatkan tanggapan apapun dari Maria, ia mulai melangkah mendekati Emma yang kini sedang menikmati dua potong ayam goreng dengan ukuran besar di kedua tangannya. Ava meneguk salivahnya ketika melihat hal itu, perutnya mulai berbunyi kembali hingga menimbulkan rasa nyeri akhibat terlambat makan.
Emma mulai menatap ke arah Ava kemudian menjatuhkan kedua potong ayam yang ada di tangannya ke atas piring. “Ava mau makan?” tanya Emma dengan seringai sadisnya.
Ava yang masih begitu naif langsung mengusap air mata yang sudah jatuh membasahi kedua pipinya dengan punggung tangan kemudian mengulas senyuman manis dengan menggangukkan kepala dan menjawab. “Ava sangat lapar,” jawab Ava jujur dengan suara yang bergetar.
Senyuman Ava lenyap bersamaan dengan tangan Emma yang menumpahkan makanan di dalam piring itu ke atas lantai kemudian Emma beranjak berdiri dan menginjak makanan itu dengan senyuman puas seakan apa yang barusan ia lakukan adalah suatu hal yang lucu.
“Ups ... maafkan Emma, Ava. Tapi makanannya sudah terinjak oleh Emma,” ujar Emma dengan wajah menjengkelkan sekali.
“Ava pasti sangat lapar sekali, ini makan juga nasi sisa mama.” Maria ikut melakukan apa yang sebelumya Emma lakukan, wanita patuh baya itu juga menginjaknya seakan makanan itu tak berharga dimatanya.
__ADS_1
Ava menangis terisak dengan memegangi perutnya yang semakin lapar. Ava jatuh ke lantai dengan tubuh bergetar. Manik mata Ava melihat makanan yang ada di hadapannya, ingin rasanya hati menyingkirkan rasa jijik yang ada dibenaknya hanya untuk menganjal perutnya yang terasa lapar, tapi Ava tak pernah memakan sisa orang lain sebelumnya, Ava tak bisa memakan nasi yang sudah di injak oleh emma dan juga Maria, tapi perut Ava terus berbunyii hingga membuatnya merasa mual karena rasa lapar itu.
“Andaikan saja Mama masih hidup, pasti Ava tak akan pernah mengalami semua ini,” batin Ava dengan tangan yang gemetar mulai mengambil makanan tak layak makan itu langsung dari lantai, dengan kedua mata yang terpejam anak kecil itu memasukkan makanan menjijikan itu kedalam mulutnya. Bulir bening terus membasahi kedua pipinya.
“Jika begini, dia mirip seperti hewan peliharaan,” kata Emma dengan tertawa puas.
“Dia memang hewan peliharaan kita,” sambung Maria dengan tidak manusiawi.
Flashback selesai.
“Ava, tolong kami. Lihatlah mereka memberikan makanan yang tidak layak untuk kami,” ujar Emma yang kini sudah melihat keberadaan Ava.
“Sayang, tolong lepaskan kami dari tempat terkutuk ini,” sambung Maria dengan air mata kesedihannya.
Tak ada kecantikan yang terisa dari tubuh kurus kedua wanita itu. Maria semakin terlihat tua karena tak melakukan perawatan ataupun memoles wajahnya menggunakan make up seperti biasa. Emma terlihat jauh lebih tua dari usianya, karena wanita itu sudah tak melakukan serangkaian perawatan yang selama ini selalu menunjang penampilannya.
“Jika begini dia mirip seperti hewan peliharaan,” kata Ava dengan menahan getaran dalam setiap katanya. “Dia memang hewan peliharaan kita,” sambung Ava lagi masih melihat ke arah Maria dan juga Emma dengan pandangan yang mulai kabur karena tertutup dengan air matanya.
“Apa yang kamu katakan?” tanya Tuan Ansell yang mulai bingung dengan apa yang Ava katakan barusan.
Ava tersenyum miris dengan melihat ke arah Tuan Ansell kemudian berkat, “Dulu aku pernah ada di posisi ini, mereka tak mengijinkan aku makan sejak siang sampai malam hari, aku merengeng minta makan dan keduanya menumpahkan makanan sisa itu ke lantai, aku merasa lapar dan terpaksa memakan makanan yang bekas terinjak kaki kotor mereka,” jelas Ava dengan suara yang bergetar. “Dan ucapan itulah yang tadi mereka katakan padaku, aku hanya hewan peliharaan.”
Tuan Ansell mengeraskan rahangnya setelah mendengarkan penjelasan Ava barusan, bagaimana mungkin istri kecilnya mendapatkan perlakukan tidak manusiawi seperti ini. Tuan Ansell menarik Ava ke dalam dekapannya seakan ingin menunjukkan jika sekarang hal itu tak akan perjadi lagi. Detik berikutnya Tuan Ansell mulai menatap tajam ke arah Maria dan juga Ava, ia seakan ingin mencabik tubuh keduanya, berani sekali mereka melakukan hal sekeji itu pada Ava kecil.
__ADS_1
Emma dan juga Maria saling bergandengan tangan, dengan langkah yang gemetar keduanya mulai mundur menjauh dari jeruji besi karena takut melihat sorot mata Tuan Ansell pada mereka sekarang.