
Ava mengangkat pandangannya lurus ke depan, ia melihat suaminya sekarang sedang sibuk mengantre kebab yang ia inginkan. Tetapi ada tangan yang menyentuh pundaknya. Dengan mengerutkan keningnya Ava mulai memperhatikan ke arah pemilik tangan itu. Ava mengingat dengan sangat jelas jika ia tak mengenal siapa lelaki yang sekarang ada di sampingnya ini.
“Nona, apakah kamu sendiri?” tanya lelaki itu.
“Singkirkan tanganmu dari wanitaku!” perintah Tuan Ansell dengan suara berat dan penuh perintah itu.
Ava melihat ke arah sang suami yang kini sedang berdiri di sampingnya, mata tajam lelaki itu terlihat begitu menakutkan sekali mirip seperti binatang yang siap menerkam mangsanya.
“Maafkan saya, saya jika dia sendirian,” jawab lelaki itu. Lelaki itu langsung pergi terbirit-birit menjauhi meja Ava.
Ava hanya diam, ia benar-benar kaget ketika melihat air muka Tuan Ansell yang nampak begitu marah ketika melihatnya sedang diganggu oleh lelaki lain. Apakah Tuan Ansell menyukai aku? Tapi mana mungkin, ia menyukai wanita lain-wanita yang telah meninggalkannya.
Tuan Ansell menarik kepala Ava untuk tengelam di dalam pelukannya. Tuan Ansell melihat ke arah 5 pengawal yang sejak dari tadi mengikutinya, Tuan Ansell tak pernah pergi sendiri, lelaki itu selalu membawa pengawal ikut serta dengannya hanya saja Ava tidak tahu akan hal itu. Tuan Ansell mengarahkan tatapannya pada para lelaki yang sedang duduk dengan saling tatap di meja itu. Para pengawal sudah hafal betul arti tatapan Tuan Ansell. Mereka serempak membungkukkan tubuhnya kemudian menyeret para lelaki itu masuk ke dalam mobil yang mereka gunakan.
__ADS_1
Tuan Ansell mulai mengedarkan pandangan ke sekitarnya, semua pengunjung juga melihat ke arahnya. Orang-orang itu seketika langsung membulatkan kedua matanya ketika menyadari jika lelaki yang sekarang sedang ada di hadapannya adalah pewaris utama dari Almero Group-Tuan Ansell yang dikenal arogan dan juga sombong. Kekejaman Tuan Ansell mampu membuat semua orang ketakutan hingga mereka memilih untuk pergi meninggalkan kedai ini dengan mulut yang masih mengunyah makanan. Mereka semua memilih untuk menyudahi makan mereka dari pada harus menyingung lelaki kejam seperti itu.
Lelaki paruh baya pemilik kedai hanya bisa diam dengan air muka yang nampak sedih saat ia tahu jika semua pembelinya kabur menjauh, bahkan orang-orang yang sempat mengantre kebab juga pergi tanpa membayar dan juga membawa makanan yang telah mereka pesan.
Tuan Ansell melihat Ava mulai menggerak-gerakkan kepalanya, tapi Tuan Ansell tak mau melepaskan Ava. Belum saatnya.
Seorang pemilik kedai melangkah mendekati meja Tuan Ansell dengan membawa kebab yang sempat ia pesan sebelumnya. Tuan Ansell meraih dompetnya kemudian memberikan segepok uang tanpa menghitungnya.
“Ini terlalu banyak Tuan,” jawab sang lelaki. Lelaki ini begitu jujur sekali, ia tak serakah seperti kebanyakan orang yang lebih suka memanfaatkan keadaan.
“Ambil semua,” kata Tuan Ansell.
“Terima kasih,” jawab lelaki renta itu kemudian berlalu meninggalkan meja ini.
__ADS_1
“Astaga, aku hampir saja mati karena kehabisan nafas,” ujar Ava yang tentunya berbohong dan Tuan Ansell tahu akan hal itu. Ava mengedarkan pandangan ke sekitarnya ia baru menyadari jika kedai ini terlihat sepi sekali, padahal sebelumnya terlihat begitu ramai.
“Kenapa? Kau kecewa karena tak melihat lelaki yang sempat menggoda kamu tadi?” tanya Tuan Ansell dengan sorot mata tajam dan juga menusuk.
“Tidak,” jawab Ava. “Tapi kemana lelaki itu tadi?” tanya Ava. Ava menaikan salah satu alisnya mencoba untuk mencari tahu akan suatu hal.
Tuan Ansell menarik kursinya untuk lebih mendekat ke arah Ava. Lelaki itu menatap ke arah Ava tanpa berkedip, ia sungguh tak bisa membiarkan wanitanya memikirkan lelaki lain. Ava adalah miliknya dan selamanya akan tetap begitu! Tunggu dulu, kenapa Tuan Ansell mengklaim jika Ava adalah miliknya selamanya, sedangkan lelaki itu tahu jika ia masih menginginkan Bar-bara kembali hingga ia bisa menceraikan Ava, tapi beberapa bulan bersama dengan Ava. Bayangan Bar-bara mulai melebur perlahan, apa pertanda semua ini? Tuan Ansell benar-benar kebingungan mengartikan isi hatinya sendiri dan biarkan waktu saja yang menjawabnya.
“Hanya aku yang boleh ada didalam benak dan juga pikiranmu! Jangan pernah coba pikirkan lainnya,” kata Tuan Ansell dengan begitu tegas dan juga lugas. Sorot mata memerintah yang penuh intimidasi itu seakan memancarkan kobaran api cemburu yang mendalam.
“Bolehkah jika aku meminta kamu untuk melakukan semua itu juga?” tanya Ava dengan menaikan salah satu alisnya. “Aku ingin kamu hanya memikirkan aku Sayang,” kata Ava.
Wanita itu dengan gelisah menanti Tuan Ansell untuk membuka suara dan menjawab kata-katanya. Tapi hanya kesunyian panjang yang kini menyelimuti mereka, Ava tersenyum getir karena ia susah bisa menebak apa yang kini sedang ada di dalam pemikiran suaminya.
__ADS_1