
Part 9
Hari ini hari pertama aku menjadi seorang istri tepat kemarin aku diperistri oleh mas Faiz eh ralat bukan diperistri tetapi menjadi pengganti mbakku yang entah kemana rimbanya, ayah dan ibu sudah mencari dia tetapi belum di temukan juga mbak Cahya. Mbak di mana kamu mengapa kau tega meninggalkan aku di suatu situasi yang sulit aku mengerti mbak, memang aku dulu mencintai mas Faiz tapi semenjak mas Faiz melamarmu hatiku sudah ikhlas dan menerima mas Faiz memilihmu. Dan di saat aku sudah melupakan rasa itu dan menguburnya dalam dalam mengapa rasa itu balik menginginkan aku. Mbak kau tega, dulu kau menerimanya dan di saat pernikahan akan segera di laksanakan kau malah pergi mbak dan menumbalkan aku untuk menggantikanmu menjadi istrinya, demi tuhan mbak aku kecewa denganmu andai saja aku tidak menuruti keinginanmu saat itu, ini semua tidak akan terjadi dan menimpaku. Aku membatin dalam hati tentang semuanya tanpa mau membicarakan dengan siapapun.
Aku turun dan menuju dapur untuk membantu ibu menyiapkan makanan, ya aku dan mas Faiz sudah kembali ke rumah setelah check out dari hotel yang kami inapi semalam, menu siang ini ada ayam goreng, sayur asem, sup iga, dan tempe sambal. Setelai selesai aku menyiapkan makanan di meja makan dan menatanya rapi lalu menuju kamar untuk memanggil mas Faiz agar segera turun karena makanan sudah siap.
"Mas makanannya sudah siap" ucapku menyuruh mas Faiz untuk makan siang.
"Iya dek sebentar kamu duluan aja nanti saya nyusul" katanya sambil mondar mandir.
"Mas kenapa sih kok mondar mandir terus".
"Gak papa dek".
"Gak papa kok kek gitu kayak orang lagi memikirkan sesuatu aja"
"Dek".
"Hmm" aku menjawab dengan gumaman saja terlalu malas menjawab apa yang dia tanyakan, tadi di tanya gak dijawab gantian deh.
"Dek"
"Iya".
"Dek" katanya sekali lagi.
"Hmm, apa sih mas dari tadi dak dek dak dek aja. Mau ngomong apa sama Rana ngomong aja, bosen dari tadi manggil aja tanpa mau bilang apa yang mau mas ucapkan sama Rana" jawabku jengkel padanya sembari mengerucutkan bibir mungilku ini.
"Huft" dia menghembuskan nafas kasar berulang kali seperti itu.
__ADS_1
"Mas mau ngomong sesuatu tetapi kamu jang_
"To the point aja jangan bertele tele" kataku memotong ucapannya yang belum selesai, kebiasaan dari dulu jika ingin mengatakan sesuatu pasti berbelit belit.
"Mas ngajak kamu pindah rumah dek, apa kamu ma_
"Ap-apa pi-pindah ru-rumah" aku kaget mendengar perkataannya barusan dan menjawab dengan terbata bata.
"Iya dek, bukannya mas gak mau tinggal di sini tapi setelah mas menikah mas langsung akan membawa istri mas pindah ke rumah baru kita".
"Ma-mas ap-apa ti-tidak ter-terlalu ce-cepat" aku terbata bata karena bingung sendiri apa yang akan aku lakukan jika berduan dengan dia.
"Dek dengar mungkin untukmu ini terlalu cepat apalagi mengingat kita menikah tanpa cinta, tapi yang harus kamu tahu biasakan diri kita untuk memahami satu sama lain, terbuka dengan semua hal tanpa ada yang ditutupi maka cinta akan hadir seiring kita terbiasa dalam kebersamaan" ujarnya mengucapkan sesuatu yang terdengar sangat dewasa.
"Ayo setelah makan siang kamu beres beres setelah itu kita langsung pindah, nanti mas yang minta izin sama ayah ibu".
"Iy-iya ma-mas" jawabku gugup bagaimana gak gugup kalau kami akan tinggal berdua saja ingat cuma berdua terlepas entah ada pembantu atau apalah.
Di lain sisi mas Faiz meminta izin kepada ayah dan ibu untuk membawa aku ke rumah baru yang akan kami tempati berdua, ayah menimang nimang izin dari mas Faiz dan setelah menunggu beberapa menit ayah mengijinkan mas Faiz membawaku karena katanya aku bukan tanggung jawabnya lagi melainkan tanggung jawab suaminya mulai sekarang.
Aku sudah selesai beberes dan tak lama mas Faiz datang untuk membantuku membawa koper dan beberapa kardus berisi buku kuliahku.
"Dek sudah selesai beres beresnya?" tanyanya menanyakan apa sudah selesai mengemas pakaian dan lainnya.
"Sudah tinggal bawa saja".
"Yaudah sini mas bantu bawa" jawabnya lagi seraya membantuku untuk membawa koper dan kardus yang berisi buku kuliah dan sebagainya.
"Biar Rana yang bawah kardusnya, mas bawa koper dan tasnya aja".
__ADS_1
"Baiklah ayo".
Kami pun menuruni tangga untuk segera berpamitan dengan ayah dan ibu. Setelah sampai aku segera berlari menuju ibu dan memeluknya serta menangis di dekapannya.
"Sudah nak ibu pasti sangat merindukanmu, segera pergi Faiz sudah menunggumu" katanya sambil mengelus rambutku yang ditutupi hijab.
"Ayah Rana ndak mau pergi yah, Rana mau di sini dengan ayah dan ibu saja" kataku beralih menghambur ke pelukan ayah.
"Nak menuruti perintah suami itu wajib selagi masih dalam hal wajar dan tidak melanggar syariat islam, jadi kamu harus menuruti ucapannya" ayah menasehatiku sambil memboyong dalam dekapan hangatnya yang pasti akan ku rindukan lagi.
Aku melepaskan pelukan ayah dan memandang wajah ayah.
"Nak kamu harus jadi istri yang baik menurut perintah suami dan melakukan kewajibanmu sebagai istri baik kewajiban di sumur dapur dan kasur" ibu mengucapkan itu sambil berbisik dan menekankan kata kasur.
"Ta-tapi bu, ra-rana belum siap di bagian terakhir".
"Nak berdosa bagi kamu jika tidak melayani suamimu di ranjang, apalagi jika kamu yang meminta dia agar tidak menyentuhmu maka kamu akan mendapat dosa besar dan mungkin akan di laknat Allah".
"Dengarkan ucapan ibu nak, bukalah hatimu terima dia sebagai suamimu yang sesungguhnya jangan buat dia menunggu kamu sudah siap atau belum untuk menyerahkannya".
"Baiklah buk, Rana akan lakukan kewajiban Rana".
"Jangan karena terpaksa ingat itu" ibu mengakhiri wejangannya untukku sambil mengecup dahiku dan memelukku sekali lagi.
"Yaudah ayah ibu kami berangkat dulu" kata mas Faiz berpamitan kepada ayah dan ibu lalu mencium tangan mereka setelah melihat aku melepaskan pelukan pada ibuku.
"Hati hati nak".
"Assalamualaikum" ucapku dan mas Faiz bersamaan.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi" jawab mereka serentak sambil tersenyum manis setelah itu kulihat ibu menghamburkan diri pada pelukan ayah lalu kembali menangis melihat kedua putrinya pergi dari rumahnya. Yang satu belum ketemu keberadaannya dia kemana, eh yang satu lagi menggantikan mbaknya untuk menikahi calon suaminya apa gak hancur hati seorang ibu ini, harusnya masih tersisa satu tapi ya sudahlah mungkin Allah mentakdirkan kisah kedua anaknya seperti ini yang penting dia harus berdoa agar kedua anaknya bahagia kelak.
kira kira bagaimana ya kehidupan Rana dan Faiz selanjutnya, dari sinilah kisah ini dimulai.