Wanita Yang Dulu Kau Cerai Sekarang Kau Pinta Kembali

Wanita Yang Dulu Kau Cerai Sekarang Kau Pinta Kembali
Part 17 Rian brengsek


__ADS_3

Part 17


"Bro, gue gak habis pikir sama lo, bisa bisanya lo selingkuhi Rana" ucapnya panjang kali lebar tanpa mau mendengar penjelasan dariku.


"Udah, udah siap ngomongnya dokter Rian yang terhormat" selaku sambil menatap tajam kearah dia.


"Gak ada lagi yang mau ditanyakan hmm" ucapku lagi.


"Woles bro, biasa aja natapnya ntar mata lo lepas" candanya sambil cengengesan.


"Oke, gue cerita soal wanita tadi sebenarnya dia itu mantan pacar_


"Gila lo parah parah"


"Lo bilang dia bukan siapa siapa lo, tapi tadi lo bilang dia mantan pacar lo, gimana sih!".


"Jangan jangan anak kecil yang dibawanya tadi anak dari hubungan kalian".


"Gue gak habis pikir dengan lo bro".


"Bisa bisanya lo berhubungan sebelum menikah sampai sudah jadi bocah" ucapnya terus menerus tiada henti, ni anak kalo belum di jelasin ya suka begini ngomong yang gak jelas padahal orang belum ngejelasin sampai tuntas malah udah dipotong duluan penjelasan gue, dasar gak ada berubahnya padahal udah jadi dokter tapi sikap kayak bocah aja.


"Omongan lo dijaga woy gue bel_


"Apa gila lo Iz, gak cukup Rana aja yang jadi bini lo" aduh gue belum selesai ngomong malah terus dipotong, hi lama-lama itu lo juga gue potong.


"Gila sih lo ini".


"Udah hebat lo, berani lo nyakitin Rana gue embat dia baru tau rasa lo" ancamnya dengan seringainya yang menjadi ciri khas Rian ini, Rian tipe orang yang gak pernah main-main dengan ucapannya jadi gue harus waspada.


"Rana kurang apa woy, gu_


"CUKUP" ucapku mengeraskan suara karena dia dari awal tak mau mendengar penjelasan yang belum kujelaskan sama sekali.


Kulihat banyak pasang mata melihat ke arah kami setelah aku membentak Rian si dokter gila ini, hu ya allah sampai lupa kalau aku di rumah sakit.


"Gue jelasin lo dengerin baik baik, jangan lo potong ucapan gue sebelum gue selesai, denger lo!" peringatku menatap tajam dia.


Dia hanya mengangguk-anggukan kepala tanda dia mengerti setelah itu mengalirlah cerita dari awal aku bertemu dengan Shireen sampai akhirnya aku menabrak anak kecil yang ternyata anaknya Shireen.


"Ooh, jadi Shireen itu mantan pacar loh sepuluh tahun yang lalu" ujarnya setelah aku menjelaskan panjang x lebar, aku hanya mengangguk tanpa menanggapi.


"Sekarang dia janda apa enggak Iz?". tanyanya


Gue mengangkat kedua bahu tanda gak tahu.


"Jawab la Iz" kekehnya memintaku menjawab pertanyaan nya.

__ADS_1


"Gue gak tahu bambang, lo tanyalah sama dia. Gue baru ketemu dia setelah sepuluh tahun gue putus sama dia".


"Iz lo kenalin gue sama dia lah, kalau janda gue embat dia" bujuk Rian seraya menaik turunkan alisnya.


"Ah malas gue, lo kenalan sendiri lah" aku menolak bujukan dia ntar Shireen jadi suka sama gue gara gara permintaan gila Rian ini yang ingin kenalan sama dia.


Ya allah aku lupa tentang Rana dan makanan yang kupesan tadi untuknya aku takut dia menunggu aku pulang, bagaimana ini, aku harus segera pamit pulang tapi bagaimana bicaranya dengan Shireen. Entahlah nanti secara refleks itu akan muncul di pikiranku.


"Iz".


"Hello Iz, lo denger gak sih gue ngomong" Rian berteriak kencang di wajahku dan secara sengaja ludah dia mengenai wajahku, aku langsung mengelap ludah tersebut menggunakan sapu tangan yang terletak di saku celanaku.


"Ludah elo muncrat Rian" jeritku kencang tak peduli lagi bahwa ini rumah sakit dan yang aku teriaki ialah sang dokter.


"Macem taik lo" aku memukulnya dengan membabi buta, biar saja kalau wajahnya memar, aku tak peduli yang aku pedulikan bagaimana caranya menghapus bau ludahnya yang masih menempel di wajahku.


"Sans aja la Iz, ludah best friend manjur supaya elo cepetan punya anak".


"Gak ada hubungannya peak, aiss mana bau banget ini".


"Enak aja ludah gue nggak bau kali, gue sikat gigi dan perawatan gigi rutin kalau lo mau tau" sombongnya sembari memamerkan gigi putihnya, ini anak kayak lagi iklan Pepsodent.


"Ih jijik gue sama elo, harus waspada gue ini jangan jangan elo penyuka sesama jenis lagi" aku langsung menghindar darinya enak saja kalau dia mau merayu aku menjadi pasangan prianya.


"Faiz, gue masih normal kali. Sembarangan aja kalau lo ngomong, amit-amit kalau gue sampe suka sama laki-laki" Rian terus menggenggam tangan lalu di ketuknya pelan pada kepala sambil bilang amit-amit jabang bayi berulang kali.


"Ya mungkin aja lo homo kan secara sampai sekarang elo belum nikah juga" ungkapku menebak alasannya belum menikah sampai sekarang.


"Astagfirullah Faiz, kesel gue lama-lama ngomong sama elo" dia pergi meninggalkan aku sendiri sebelum itu melemparkan tisu basah yang didapatnya dari suster lain yang sedang lewat.


"Hahaha" aku tertawa kecil melihat kepergiannya, syukurin siapa suruh jail sama Faiz.


Lebih baik aku menemui Shireen dan izin pulang, kasihan Rana sendirian di rumah mana pula tadi aku sempat acuhkan dia.



"Shireen" panggilku kepadanya



"Iya kenapa Iz".



"Aku pamit pulang dulu ya, soal obat dan lainnya sudah aku lunasi tinggal bawa saja kalau Kia sudah boleh dibawa pulang" sebelum kembali aku sempat mampir ke resepsionis untuk melunasi tagihan Kia, karena bagaimanapun yang nabrak Kia itu aku jadi aku juga yang harus bertanggung jawab melunasi pengobatannya.


__ADS_1


"Iya Iz makasih ya sudah repot-repot lunasi biaya pengobatannya Kia, makasih".



"Sudah seharusnya Ren, dan maaf karena udah nyelakain anak kamu".



"Udah gak papa, katanya kamu mau pulang Iz, gih sana pulang sudah malam" suruhnya memintaku segera pulang.



"Yaudah aku pulang dulu ya" aku beranjak pergi dari ruang VIP Kia menuju mobilku yang masih terparkir di parkiran rumah sakit.



"Assalamualaikum" aku mengetuk pintu sedikit kuat karena mungkin saja Rana sudah tertidur.


"Rana buka pintunya mas sudah pulang" ulangku lagi tapi tak ada sahutan.


Aku berjalan menuju jendela kamar kami lalu mengetuknya.


"Rana ini mas sayang".


"Mas Faiz benar" tanyanya dengan mata sayu efek belum bangun sepenuhnya.


"Hemm, kok kamu kunci pintunya gak inget kalau saya belum pulang" suaraku kembali dingin saat dia bertanya.


"Cepat buka pintunya" suruhku lalu kembali berjalan menuju pintu keluar tanpa mendengar jawaban darinya.


Cklek


"Mas baru pulang, maaf Rana tertidur makanya Rana kunci pintunya".


"Ini makanan" sodorku makanan yang tadi aku beli sebelum ke rumah sakit.


"Makasih mas Rana laper belum makan nungguin mas pulang" senyumnya cerah dengan mata berbinar seolah olah apa yang aku beri sangat berarti untuknya.


"Panaskan udah dingin itu" aku berjalan kembali untuk mengganti pakaian dan langsung pura-pura tidur.


"Mas sudah tidur" panggilnya.


"Rana ini sudah malam ya jelaslah mas Faiz sudah tidur" rutuknya sambil memukul pelan bibirnya sendiri.


Pftt, berulang kali aku menahan tawaku yang akan menyembur keluar melihat tingkah lucu istriku ini.


"Rana lanjut tidur jugalah, masa diem sendirian" ujarnya lalu menarik selimut menutupi badannya yang mungil.

__ADS_1


"Rana" aku guncang tubuhnya pelan memastikan kalau dia sudah tertidur lelap, saat beberapa kali ku ulangi dia tak bangun langsung kupeluk erat.


"Mas peluk kamu, gak bisa pura-pura marah sama kamu sayang" ku ciumi seluruh wajahnya tanpa terkecuali lalu ikut menyusul dia tidur.


__ADS_2