
Part 12
Pagi telah menyapa, mentari menunjukan sinarnya yang menerangi seluruh belahan dunia dan menghangatkan untuk yang kedinginan karena cuaca hujan kemarin, tetapi dua anak manusia sama sekali tidak terganggu untuk bangun dan menjalankan aktivitas masing-masing seperti biasanya, mereka asik bergelung di dalam selimut dan saling berpelukan tanpa terganggu sinar matahari yang masuk melewati celah jendela. Sungguh romantis sekali pagi ini bahkan mereka lupa akan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk melaksanakan salat subuh.
"Eugh".
"Astaghfirullah, sudah pagi. Ya allah aku lupa mengerjakan sholat subuh, aduh bagaimana ini" ucapku kalang kabut sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan mas Faiz, setelah lepas aku segera bangun untuk membersihkan diri dan langsung untuk melakukan salat subuh segera karena sudah terlambat. Jam menunjukan pukul 06.00 pagi masih bisa untuk melaksanakan salat subuh walaupun pahalanya sudah berkurang karena di waktu full pahala ialah orang yang bangun dari tidurnya untuk melakukan shalat itu.
"Awww" ringisku perlahan mencoba bangkit dari tempat tidur, tapi sudah ku coba berulang kali tetap aku tidak bisa bangkit.
"Ada apa dek" ucap mas Faiz sambil mengerjap ngerjapkan matanya perlahan agar terbuka dan pandangannya tidak kabur.
Setelah pandangan matanya membuka sempurna dia terkejut karena hari sudah pagi dan mentari sudah menyongsong tinggi serta sudah menghangatkan orang orang yang akan memulai aktivitasnya masing-masing.
"Astaghfirullahal adzim" ucapnya sambil berlari memasuki kamar mandi dan segera membersihkan dirinya sendiri sedangkan aku ditinggalkannya.
Aku mencoba bangun sembari memegang ujung kepala ranjang dan sesekali meringis menahan sakit di s**********n yang perih habis kemarin mereguk nikmatnya hubungan suami istri yang halal berdua bersama, mengarungi nirwana cinta dalam rajutan kemesraan yang membara di dalamnya.
Dia keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya tanpa memakai baju ganti di dalam kamar mandi. Setelah mengambil baju ganti dia bergegas masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya tak berapa lama dia keluar sudah rapi dan siap siap untuk melaksanakan salat subuh yang tertinggal.
"Lo dek kok gak segera mandi sih" tanyanya kepadaku sambil melihatku tidak segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.
"Kek mana mau mandi jalan aja gak bisa mas, perih ini!" kataku sambil menahan sakit di daerah itu.
"Ya allah mas lupa dek, ayo mas bantu kamu berjalan ke arah kamar mandinya" ucapnya seraya membantuku dan menuntunku untuk mandi junub.
"Kamu berendam dulu ya disini" suruhnya sambil menaruhku di dalam bathup dan dia berlalu untuk shalat subuh.
"Tapi mas Rana belum sholat subuh juga" kataku sambil menghentikan langkahnya untuk keluar dari kamar mandi.
"Sudah dek tidak usah shalat subuh dahulu, waktunya sudah hampir tertinggal ini. Tinggal lima menit lagi".
"Tapi mas Rana tidak pernah meninggalkan shalat subuh terkecuali karena Rana menstruasi" aku terus menolak agar tidak ia tinggalkan sendiri karena tidak mau meninggalkan kewajiban ku sebagai seorang muslim
__ADS_1
"Rana takut dosa mas, karena gara gara kita kemarin malam b*********n Rana lalai akan kewajiban Rana".
"Tidak papa, dosa kamu nanti mas yang nanggung dek percayalah pada mas dek" ucapnya seraya meyakinkan aku, aku jawab dengan gelengan dan kekeh untuk shalat subuh.
"Mas Rana gak mau mas masuk neraka karena menanggung dosa Rana, karena tidak sholat subuh dan lainnya".
"Tidak apa apa dek, ya udah mas mau wudhu lagi dan langsung sholat ya".
"Maafin Rana hari ini ya Allah" batinku sambil menangis terisak.
Setelah sepuluh menit berendam air hangat aku mulai merasa enakan dan mencoba bangkit dan langsung membilas tubuhku dengan air bersih.
Mas Faiz membantuku untuk bangun dari bathup dan membantu menggosok punggungku lembut, setelah selesai aku digendongnya menuju kamar dan dia mengambilkan pakaianku dan membantu memakaiannya, aku sempat menolak karena malu tetapi dia mengatakan tidak perlu malu dengan suamimu sendiri dek, karena halal seluruh tubuhmu untuk mas dan tidak akan menimbulkan dosa melainkan menimbulkan pahala ucapnya sedangkan aku mati matian membiarkan dia memasangkan pakaian dan sesekali tangannya tak sengaja menyentuh daerah s******f ku dan membuatku gugup setengah mati.
"Sudah selesai, ini rambutnya biarkan di gerai saja ya biar kering ini" ujarnya
"Iya mas, terima kasih" ucapku sambil tersenyum manis serta tak lupa berterima kasih kepadanya karena sudah membantuku berpakaian.
"Yasudah Rana turun dahulu ya mas" kataku pamit untuk turun kebawah menyiapkan makan yang akan kami santap untuk sarapan pagi berdua ini.
"Loh mau kemana dek" tanya mas Faiz kebingungan melihat aku mulai beranjak dari kasur dengan langkah tertatih.
"Mau buat makan untuk kita mas, mas gak laper emangnya" kataku seraya menjawab pertanyaannya.
"Gausah masak dek" ucapnya mengajakku kembali duduk di kasur yang kududuki tadi.
Mas Faiz sudah mengganti sprei dan selimut yang kami pakai kemarin malam dengan yang baru saat dia selesai salat tadi dan di saat aku sedang berendam tadi.
"Loh kita mau makan apa kalau Rana gak masak mas, Rana sudah sangat lapar ini mas" jawabku sambil mengelus perutku dan tentu saja aku lapar karena tenagaku sudah habis terkuras oleh permainannya kemarin malam yang begitu dahsyat sampai sampai aku kelelahan dibuat olehnya.
"Mas udah delivery tadi, sebentar lagi mungkin sampai dek".
"Kok delivery sih mas" ucapku jengkel, bukan bukannya aku pelit atau tidak makan makanan beli, tapikan kalau beli kita gak tau bahan masakan serta kandungan penyedap seberapa banyak maka dari itu aku jarang makan di luar dan lebih memilih makanan yang dimasak ibu ataupun di masak olehku sendiri. Lebih mudahnya kita tau seberapa banyak micin dan asal usul bahan masakannya, yang paling penting makanannya sehat.
__ADS_1
Ingat sehat itu mahal harganya, maka dari itu terapkan pola hidup sehat mulai dari sekarang.
"Kan gak papa dek".
"Kita gak tau di dalam makanan yang dimasak ada kandungan pengawetnya atau tidak" ujarku
"Iya juga sih dek, tapi mau bagaimana lagi kalau kamu masak kasihan kamu pasti capek kan dek, mas gak tega lihat kamu masak lagi setelah kemarin malam melayani mas".
"Melayani mas adalah kewajiban istri kepada suami, mas Rana ikhlas kok melayani mas, Rana gak papa kok masak mas".
"Gausah untuk kali ini kita delivery saja ya sayang, besok baru kamu yang masak lagi" jawabnya sambil memanggilku sayang yang mana membuat pipiku bersemu merah olehnya dan membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Baiklah kali ini saja ya mas" pasrahku karena memang aku benar-benar lelah, perutku juga berulang kali berbunyi pelan pertanda minta segera diisi.
"Iya dek mas janji, lagian kita pasti capek kan karena kegiatan semalam hmm" jawabnya dengan santai sambil menggodaku dan mengedipkan sebelah matanya kepadaku.
"Ih genit" aku mencubit lengan tangannya sedikit kuat biar tau rasa dia, bisa bisanya masih bugar saat aku masih kelelahan di buatnya.
''Genit-genit yang penting kamu suka kan, sayang" jawabnya lalu melepaskan cubitanku gantian menarik gemas hidung mungil milikku.
"Assalamualaikum, gofood" terdengar suara salam dari luar mungkin saja gofood sudah sampai.
"mas kedepan dulu ambil makanannya" pamitnya lalu mengambil dompet yang terselip di dalam lemari.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi, gofood ya mas".
"Iya mas, atas nama mas Faiz" ucap pak gofood menanyakan nama mas Faiz.
"Iya benar mas".
"Boleh saya lihat bukti pembelian dahulu" mas Faiz menunjukkan bukti pembelian makanan yang di pesan dari restoran tersebut. Ini dilakukan agar sang kurir tidak salah mengirimkan makanan atau barang serta tidak mengakibatkan kerugian dari pihak masing masing.
"Ini mas terimakasih" sang kurir itu langsung memberikan pesanan kami tak lupa mas Faiz menyelipkan sedikit rezeki untuk kurir itu.
__ADS_1